Kamis, 01 Agustus 2013

Piano Zaki



Awal Juli lalu—meskipun udah liburan— paginya gue udah dikampus untuk menemani Leri siaran kuliah pagi, gue gak keberatan, karena siangnya ada janji sama Zaki. Berhubung hari esoknya gue gak bisa siaran, jadi gue meminta dia untuk menggantikan, sekalian gue kasih dia questions list untuk interview. Kata Zaki, ketemu nya ntar aja kalau gue mau pulang. Yasuu, beres siaran gue masih ngadem di studio eSKa.
Sekitar jam setengah 12, Zaki menelpon, sebelum gue angkat udah dia matiin lagi. Missed call doang mungkin, pikir gue. Kadang gue juga suka gitu, sebelum sms orang, gue missed call dulu. Mengecek apakah nomor nya aktif atau tidak. Kemudian ada sms dari dia. “ta, masih dikampus?”. Gue jawab singkat: Yoi, masih di studio nih. Dia bales lagi, “kalo keluar bilang yaa, aku lemes mau kesana. Hehe”. Mungkin dia gak enak badan, akhirnya gue nyamperin ke fakultas tercinta.
Ketemu dia di lobby, kasih questions list, ngobrol ini-itu, gak lama kemudian gue balik. Dijalan, gue ketemu sama Icha, atau yang sering kita sebut Fitrop. Berhubung udah lama banget kita gak ketemu langsung menggila aja di tengah jalan. ƪˆ)ʃ ƪˆ)ʃ  Sekalian melepas rindu gue memutuskan untuk main ke kosan nya si Fitrop ini. Gak lama kemudian ada telepon masuk. Zaki. Ada apa lagi ya? Perasaan tadi udah ketemu deh. Gue angkat telepon itu.
“halo?” gak ada suara. “halo halo halo halo halo~” masih gak ada suara.
 “siapa?” Tanya Fitrop.
“Zaki” jawab gue. Yasuu, mungkin hape nya kepencet. Sebelum gue tutup teleponnya, terdengar alunan merdu dari sebuah piano. “Fit, si Zaki bisa main piano?”.
Dia mengangguk mengiyakan, “dia memang ngambil piano untuk penguasaan alat musik klasiknya, kenapa?”
“Dia lagi main piano nih” kata gue sambil nempelin hape gue ke kupingnya. Dia mengangguk-angguk. Yaa mungkin dia terpesona dengan suara piano itu. Gue juga, rasanya pengen punya pacar bisa main piano kaya gini.
Kalau didengerin, memang lagu yang dia mainkan itu enak di dengar, tapi seperti mendengarkan kotak musik. Hanya satu lagu dan itu di ulang-ulang.
“Tapi Fit, apa maksudnya dia nelpon sambil main piano? Apakah dia ingin menunjukkan bahwa dia piawai memainkan alat musik itu? kalaupun dia piawai kenapa lagunya diulang-ulang?” gue tempelin lagi hape gue ke kupingnya Fitrop.
“iya ya, Ta. Tutup aja, kepencet kali”.
Oke, gue ikutin saran dari Fitrop. Kemudian gue sms Zaki
Gue: ada apa nelpon?
Zaki: nanti mah di reject aja yaa. Suka kepencet euy. Hehe
Gue: ok, main piano kamu?
Zaki: enggak Ta, hehe
Gue: terus yang tadi main piano siapa?
Zaki: lho emang ada suara piano? Biasanya speaker hape ini rusak
Gue: seriusan Zaki, tadi kamu lagi ngapain? Tadi ada yang main piano. Yang denger bukan aku doang. Temen aku juga denger.
Zaki: denger waktu aku nelpon bukan? Aku tadi begitu ketemu kamu langsung ke balkon lt.3, baca-baca questions list dari kamu. Hehe horror euy
Gue: iya, denger watu kamu nelpon. Kira aku emang kamu lagi main piano terus hape kamu kepencet. Asli horror pisan  -_________-
Zaki: masya Allah.. udah jangan dipikirin ya.. J
Gue: kamu juga. Jangan dipikirin juga ya.
Gue dan Fitrop ngahuleng setelah baca balesan sms dari Zaki. Gue dan Fitrop yakin, kalau Zaki bukan pembohong. Terus kenapa ada kejadian horror di siang hari kayak gini (۳˚Д˚)۳

Tidak ada komentar:

Posting Komentar