Rabu, 30 November 2016

Ruang Tamu Rumahmu - sebuah cerpen

Bukan hal mendadak, tapi memang begini. dia mengirimi ku sebuah cerita pendek. Kalau file nya dibuka di ms.Word sih terlihat lebih bagus dengan tampilan yang dibagi dua kolom. Tapi berhubunng ini blog, jadi tampilannya begini adanya. Judulnya sama dengan judul postingan kali ini : Ruang Tamu Rumahmu. Selamat membaca ya. Awas baper



Pagi ini, tak seperti biasanya, aku bangun lebih awal. Ada yang istimewa hari ini, kulihat dedaunan di luar jendela, mengangguk meneteskan embun, seakan mengiyakan bahwa hari ini memang berbeda.
Jam 7.30, aku tiba di kantor Departemen, bukan kantorku tentunya, hanya saja aja ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di sini. Namun hari ini berbeda, aku datang untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang kuharap dapat menjadi permulaan dari sebuah kisah baru dalam hidupku.
Di lorong, kulihat sekelompok gadis, berbaju rapi, aku kenal mereka semua, mereka adik tingkatku. Namun ada satu orang yang kukenal lebih, dan orang itu adalah tujuanku datang ke tempat ini. Aku langsung masuk ke kantor, kubiarkan mereka mengobrol, jangan sampai aku jadi pengganggu, tidak sopan. Di dalam, kuintip lewat jendela, gadis itu, berkerudung putih, kemeja hitam, rok putih, dan wajah yang manis. Kutatap dia lama, sampai akhirnya dia menatapku juga, sembari melemparkan senyum sejuknya. Malu ku pasti, tapi aku berusaha memberikan senyumku juga, sebelum akhirnya aku memalingkan wajahku yang mulai memerah.
Hari ini menjadi hari yang berbeda juga buatnya, setelah sekian minggu dia habiskan waktunya untuk skripsi, hari prasidang pun datang. Dengan ini, gadis yang selalu meminta saranku soal skripsi nya yang luar biasa itu, sebentar lagi akan menjadi sarjana. Tentu aku ikut bahagia, dan hari ini aku ingin menemaninya sampai prasidang ini selesai, itu saja.

Jam 15.30, kulihat ia terduduk di lorong, menunggu adiknya datang untuk mengantarnya pulang. Prasidang hari ini selesai, begitu juga buatnya. Kulihat wajah lelahnya, letih, namun lega. Draft-draft skripsi yang ia bawa, kuyakin itu berat, dan aku tahu bahwa adiknya tidak akan bisa mengantarnya sampai ke rumah. Saat itu juga, dengan nada percaya diri, aku bilang padanya
“hayu ta”
“hayu kemanaaa?”
“pulang, ke rumah”
“haaaah??”
“iya, aku anterin, mau ngga?”
“beneran?”
“iya bener”
“yaudah hayu”
“okedeeeh”
Mengetahui ia menerima ajakanku, hatiku melonjak, “dia mau pulang bersamaku” itu saja yang kupikirkan.
Perjalanan menuju rumahnya kulalui dengan hati yang terus berdegup kencang, tidak biasanya ada gadis yang duduk di jok belakang. Sesekali kami mengobrol, ia menanggapi setiap pertanyaanku dengan ceria, macetnya jalanan jadi tak terasa, aku senang, aku gugup, aku malu, semuanya jadi satu.

Di depan ruamahnya, kami tiba dengan sambutan dari kedua orangtuanya, betapa ramah mereka, tanpa menanyai aku siapa, mereka mempersilahkanku masuk ke ruang tamu. Di ruang tamu itu aku duduk, setelah menyuguhiku dengan teh hangat dan setoples biskuit, dia duduk di sofa di depanku, cukup dekat, tetapi tidak jauh juga.
Kami mengobrol banyak soal prasidangnya dan rencananya mengikuti seminar. Namun kami lebih banyak terdiam, sampai akhirnya di satu titik, kami saling menatap satu sama lain, kulihat wajah manisnya, masih sama seperti tadi pagi, masih bersinar, memberikan kesejukan. Saat itu juga, rasa lelahku hilang. Terbayang di pandanganku, ruang tamu yang sederhana itu, penuh dengan taburan bunga dan daun-daun yang jatuh dari pepohonan, seperti drama korea saja. Perasaan aneh apa ini? Semuanya terasa begitu indah, menatapmu menjadi candu, senyumanmu meluluhkanku. Sampai akhirnya, aku menarik kesimpulan, nampaknya, aku jatuh cinta padanya.
Sesaat, aku kehilangan kata-kata, terbuai oleh kelembutan senyuman yang ia berikan. Tetapi aku harus pulang, waktu menunjukkan pukul 19.30, dan aku tidak bisa menginap di sini. Maka aku izin pamit padanya dan kedua orangtuanya. Kutinggalkan ruang tamu itu dengan berat hati, namun kuyakin kami akan bertemu lagi, walau di ruang tamu yang berbeda.

8 Oktober 2016, aku memintanya untuk mau mendampingiku, dan dia menerimanya dengan senang hati. Perasaan aneh saat di ruang tamu, muncul kembali, aku kasmaran, jatuh cinta ternyata asik. Ia malu, begitupun aku, ia tertawa, akupun tertawa. Mulai saat itu, aku jadi sering duduk di ruang tamu rumahnya. Tempatnya sudah berbeda, namun rasanya tetap ada. Rasa cinta yang menyatukan kami, menjadi sepasang bintang ganda. (alief)

Untuk Sinta Tania S.Pd. tersayang.

Aku cinta kamu, selalu.




Gimana? aku sih senyum senyum gitu bacanya >////////<
ditunggu komennya yaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar