Kamis, 31 Agustus 2017

Meleleh


Foto: dari gugel 

Air matanya meleleh setelah ia bercerita panjang lebar.
Tangis menguasai dirinya.
Uno steko yg sedang ia bangun, tak mampu ia lanjutkan.
Hancur lebur berantakan yang tak sengaja tersentuh getaran dari tangan nya.
Ia menangis sejadi-jadinya.

Perempuan ceria, yg biasanya menemaniku menonton anime,
lalu kami mempraktekan duel kirito dan musuhnya.
Perempuan kuat, yang kala ketika ku terlelah,
ia yg menggendong ku di punggung sampai depan pintu mess.
Perempuan yg dulu diam2 ku bangunkan tidurnya dengan es batu yg ku taruh pada pipinya,
malam ini,
tengah malam ini menangis.

Baru pertama kali ku melihat ia menangis.
Sembarang kartu ia ambil.
Mengajakku dan teman2 lain untuk memainkannya lagi.
Tetapi ini sudah malam.
Dan ini mess pria.
Sudah seharusnya ia kembali ke messnya.
Ia terus mengumpulkan kartu-kartu itu dan mengaduknya.
Menyeka air matanya.
Aku tak bisa berkata apa-apa.
Juga tak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan untuk menepuk pundaknya pun tidak.

Baru ku melihat mu seperti ini.
Dalam hati pun aku menangis.
Lelaki macam apa yang membuat mu seperti ini ?
Lelaki macam apa yg merenggut keceriaan mu ?
Kebahagiaan mu ?
Tak mampu aku membalas perbuatan lelaki itu.
Tak mampu pula aku menangis bersama mu.


Cipaku, suatu malam di bulan Agustus, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar