Selasa, 13 Desember 2011

Sebuah Mimpi


Kata sebuah acara di tv mimpi merupakan sesuatu yang di ekspresikan oleh alam bawah sadar kita, ketika alam sadar kita tidak bisa mengekspresikannya. Misalnya aku itu suka sama cowok, karena aku gak bisa mengungkapkannya, maka perasaan itu larinya ke alam bawah sadar, sehingga aku sering mimpiin cowok itu. katanya, dengan bermimpi, kita dapat mengurangi stress. Fakta berkata lain, karena sebuah mimpi yang datang ketika aku kelas 3 smp, mimpi itu sampai sekarang terus menghantui ku dan bikin aku takut. Thanks alam bawah sadar!
Mimpi aku semalem yaitu sesuatu yang amat sangat paling—udah amat, sangat, paling pula ini berarti sangat-sangat-sangat tidak aku sukai— aku benci, yaitu aku mimpi tentang perpisahan.
Sedikit cerita tentang alam sadar alias kehidupan nyata. Tanggal 6-9 Desember kemarin, aku UAS. Tanggal 10-13 nya aku boleh gak datang ke sekolah karena emang gak ada jadwal lagi. Tanggal 14 nya back to school untuk mengurus persoalan remedial dan menunggu pembagian rapot. Selama libur yang singkat itu, Idip dilanda gundah gulana, atau yang sering kita sebut sebagai galau karena pacar barunya. Eh apa mereka pacaran ya? Whateverlah, yang pasti aku udah dapet lollipop—eh maksudnya yang apsti si tundra itu telah membuat adik sepupuku ini galau bukan main.
Hari senin, yaitu kemarin, Idip memutuskan untuk datang ke rumah Ajeng untuk bercurhat ria. Dikarenakan Ajeng sakit, sesi curhat dipindahkan ke rumah Uppy. Aku datang kesana, karena rumah Uppy hanya berbeda beberapa blok dengan rumahku. Disana juga ada Ichell yang ikut menjadi audience  dari curhatan Idip. Setelah dirumah Uppy bercerita ria yang kurang lebih selama 4 jam itu, aku pulang ke rumah dan langsung mejeng di depan komputer. Idip sms: kalo kita udah lulus ntar, kalo aku mau curhat, aku curhat ke siapa?. Aku gak bales sms itu, mengingat aku lagi gak punya pulsa, tukang pulsa jauh diluar sana, di luar pun sedang hujan, dan aku pun sedang sibuk bermain parampaa yang tak kunjung lolos di level kill him. Secara tidak sadar, sms dari Idip itu ikut andil dalam alam bawah sadar. Malamnya aku mimpi:
Ichell ngeluh tentang mamanya yang ilang selama libur 3 hari yang singkat itu. mamanya gak ada dirumah. Pas Ichell Tanya ke papa nya, papa nya sendiri gak tau, karena ia sedang bekerja dan tidak ada dirumah.
Gak lama kemudian, Ichell datang ke rumahku dengan setelan jeans & sweater merah lengkap dengan ransel berwarna coklat—setelan yang Ichell pake waktu ke rumah Uppy—. Ichell terlihat sangat bersemangat. Terus dia bilang,” inta… aku dapet dua email! Yang satu dari mama aku dan satu lagi dari kedubes Belanda.
                “ternyata, 3 hari ini, mama aku gak ada itu, karena lagi ada di Korea. Jadi, hari ini aku mau nyusul mama ke Korea. Terus, email yang ke dua, yang dari kedubes Belanda itu, aku dapet beasiswa ke Belanda! Aku bakal kuliah di Amsterdam!” katanya sambil menunjukkan surat dari kedubes Belanda itu. ia juga memperlihatkan Stempel berwarna biru yang melekat pada bahu kanan Sweaternya bertuliskan “AMSTERDAM” tanda ia telah mengunjungi kedubes untuk mengurus segalanya untuk kuliah disana.
                “hari ini aku mau ke Korea menyusul mama. Abis itu aku langsung ke Amsterdam.untuk itu, aku mau pamit sama kamu”. Disitu, aku bingung. Antara: apakah aku harus seneng? Ataukah sebaliknya aku harus sedih?. Senang karena Ichell mendapatkan beasiswa dari Amsterdam dan sedih akan kehilangan seorang teman. Aku nangis, sesekali tersenyum gembira. Yang terpikirkan sama aku saat itu adalah: terus kalo aku main sama siapa?.
                “apa ini perpisahan kita? Apa ini terakhir kalinya kita bertemu?” kataku sambil menangis. Ichell mengusap-usap lenganku dan tersenyum. Seakan ia berkata: ini bukan akhir dari segalanya, melainkan ini adalah awal dari semuanya. berjuanglah kawan! Kejarlah cita-citamu. Semoga kita dapat berjumpa lagi. Ichell melambaikan tangannya dan pergi memasuki taxi yang telah menunggu di depan rumahku. Aku tau, taxi itu menuju airport untuk keberangkatan Ichell. Seperti yang dilakukan dalam sinetron, aku berlari mengejar taxi itu. ichell menurunkan kaca taxi nya dan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aku berlari melihatnya, melambaikan tangan untuknya sambil menangis. Menangis tiada henti. Sampai aku tersadar. Terjaga dari tidurku semalam. Itu hanya mimpi. Dan adzan subuh telah terdengar. Ku pegang pipiku, basah oleh air mata. Ya, aku menangis dalam tidurku.
Tahukah kawan, saat kuceritakan kembali mimpiku ini pada sebuah kolom posting blog ini, saat jari-jari ku bersentuhan dengan keyboard komputer, air mataku menetes kembali. Tak dapat ku bendung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar