Kata sebuah acara di
tv mimpi merupakan sesuatu yang di ekspresikan oleh alam bawah sadar kita,
ketika alam sadar kita tidak bisa mengekspresikannya. Misalnya aku itu suka
sama cowok, karena aku gak bisa mengungkapkannya, maka perasaan itu larinya ke
alam bawah sadar, sehingga aku sering mimpiin cowok itu. katanya, dengan bermimpi,
kita dapat mengurangi stress. Fakta berkata lain, karena sebuah mimpi yang
datang ketika aku kelas 3 smp, mimpi itu sampai sekarang terus menghantui ku
dan bikin aku takut. Thanks alam bawah sadar!
Mimpi aku semalem
yaitu sesuatu yang amat sangat paling—udah amat, sangat, paling pula ini berarti
sangat-sangat-sangat tidak aku sukai— aku benci, yaitu aku mimpi tentang
perpisahan.
Sedikit cerita tentang
alam sadar alias kehidupan nyata. Tanggal 6-9 Desember kemarin, aku UAS.
Tanggal 10-13 nya aku boleh gak datang ke sekolah karena emang gak ada jadwal
lagi. Tanggal 14 nya back to school untuk mengurus persoalan remedial dan
menunggu pembagian rapot. Selama libur yang singkat itu, Idip dilanda gundah
gulana, atau yang sering kita sebut sebagai galau karena pacar barunya. Eh apa
mereka pacaran ya? Whateverlah, yang pasti aku udah dapet lollipop—eh maksudnya
yang apsti si tundra itu telah membuat adik sepupuku ini galau bukan main.
Hari senin, yaitu
kemarin, Idip memutuskan untuk datang ke rumah Ajeng untuk bercurhat ria.
Dikarenakan Ajeng sakit, sesi curhat dipindahkan ke rumah Uppy. Aku datang
kesana, karena rumah Uppy hanya berbeda beberapa blok dengan rumahku. Disana
juga ada Ichell yang ikut menjadi audience dari curhatan Idip. Setelah dirumah Uppy
bercerita ria yang kurang lebih selama 4 jam itu, aku pulang ke rumah dan
langsung mejeng di depan komputer. Idip sms:
kalo kita udah lulus ntar, kalo aku mau curhat, aku curhat ke siapa?. Aku
gak bales sms itu, mengingat aku lagi gak punya pulsa, tukang pulsa jauh diluar
sana, di luar pun sedang hujan, dan aku pun sedang sibuk bermain parampaa yang
tak kunjung lolos di level kill him. Secara tidak sadar, sms dari Idip itu ikut
andil dalam alam bawah sadar. Malamnya aku mimpi:
Ichell ngeluh tentang
mamanya yang ilang selama libur 3 hari yang singkat itu. mamanya gak ada
dirumah. Pas Ichell Tanya ke papa nya, papa nya sendiri gak tau, karena ia
sedang bekerja dan tidak ada dirumah.
Gak lama kemudian,
Ichell datang ke rumahku dengan setelan jeans & sweater merah lengkap
dengan ransel berwarna coklat—setelan yang Ichell pake waktu ke rumah Uppy—.
Ichell terlihat sangat bersemangat. Terus dia bilang,” inta… aku dapet dua email! Yang satu dari mama aku dan satu lagi dari
kedubes Belanda.
“ternyata,
3 hari ini, mama aku gak ada itu, karena lagi ada di Korea. Jadi, hari ini aku
mau nyusul mama ke Korea. Terus, email yang ke dua, yang dari kedubes Belanda
itu, aku dapet beasiswa ke Belanda! Aku bakal kuliah di Amsterdam!” katanya sambil menunjukkan surat dari kedubes
Belanda itu. ia juga memperlihatkan Stempel berwarna biru yang melekat pada
bahu kanan Sweaternya bertuliskan “AMSTERDAM” tanda ia telah mengunjungi
kedubes untuk mengurus segalanya untuk kuliah disana.
“hari ini aku mau ke Korea menyusul mama. Abis itu aku langsung ke
Amsterdam.untuk itu, aku mau pamit sama kamu”. Disitu, aku bingung. Antara:
apakah aku harus seneng? Ataukah sebaliknya aku harus sedih?. Senang karena
Ichell mendapatkan beasiswa dari Amsterdam dan sedih akan kehilangan seorang
teman. Aku nangis, sesekali tersenyum gembira. Yang terpikirkan sama aku saat
itu adalah: terus kalo aku main sama siapa?.
“apa ini perpisahan kita? Apa
ini terakhir kalinya kita bertemu?” kataku sambil menangis. Ichell
mengusap-usap lenganku dan tersenyum. Seakan ia berkata: ini bukan akhir dari segalanya, melainkan ini adalah awal dari
semuanya. berjuanglah kawan! Kejarlah cita-citamu. Semoga kita dapat berjumpa
lagi. Ichell melambaikan tangannya dan pergi memasuki taxi yang telah
menunggu di depan rumahku. Aku tau, taxi itu menuju airport untuk keberangkatan
Ichell. Seperti yang dilakukan dalam sinetron, aku berlari mengejar taxi itu.
ichell menurunkan kaca taxi nya dan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aku
berlari melihatnya, melambaikan tangan untuknya sambil menangis. Menangis tiada
henti. Sampai aku tersadar. Terjaga dari tidurku semalam. Itu hanya mimpi. Dan
adzan subuh telah terdengar. Ku pegang pipiku, basah oleh air mata. Ya, aku
menangis dalam tidurku.
Tahukah kawan, saat
kuceritakan kembali mimpiku ini pada sebuah kolom posting blog ini, saat
jari-jari ku bersentuhan dengan keyboard komputer, air mataku menetes kembali.
Tak dapat ku bendung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar