Selasa, 08 Mei 2012

LOMBA CEPAT TEPAT AKUNTANSI

Sesuai dengan judul posting kali ini, gue mau ngebahas tentang LOMBA CEPAT TEPAT AKUNTANSI atau LCTA. Beberapa minggu sebelum UN, mungkin 2 minggu, Pak Edo selaku Ketua Program Jurusan Akuntansi memberi tahu bahwa akan diadakan lomba akuntansi bulan mei. Dan beliau mengharapkan setiap kelas mengirimkan perwakilannya 2 orang.
            “ikut ya? Lebar uang kalo gak ikut. Saya udah nge daftarin 3 tim” kata Pa Edo. Pikiran gue saat itu adalah: apaan sih si bapak, main daftarin aja, belum tentu kita mau ikut lomba itu. ini namanya pemaksaan!. Oke, lupakan semuanya. Pak Edo gak ngebebanin kita, fokus UN dulu aja, lomba urusan belakangan.
            UN beres, gue dapet sms dari Kang Ian, pelatih PMR yang minta gue untuk ikut lomba PMR. Satu kata yang tebesit saat itu adalah: OGAH! Kenapa? Sebenarnya gak kenapa-napa sih. Ikut lomba nya oke, tapi hari-hari untuk mempersiapkan lombanya itu loh yang gak oke. Tahu sendiri laah, kang Ian kayak gimana… gue beserta tim gue, pernah juara 1 se Jabar, DKI, Banten. dan gue tahu, dia minta gue untuk ikut lomba lagi karena dia pengen sekolah kita juara lagi—semua orang pengen gitu—. Gue orangnya gak mau di bebanin untuk jadi juara, waktu itu jadi juara juga emang bukan faktor keberuntungan, melainkan usaha dan kerja keras dari tim gue untuk bisa menampilkan yang terbaik. Saat itu rezeki berpihak pada kita dan Alhamdulillah kita juara. Dan apabila sekarang kita di press untuk kembali juara seperti tahun lalu, gue gak yakin bisa menang.  Akhirnya gue pake alasan lomba akuntansi untuk menolak tawaran dari Kang Ian.
Tanggal 23 April. Setiap perwakilan dari seriap kelas kumpul di lab Akuntansi (Ak) untuk belajar bareng mempersiapkan lomba. Dari kelas gue, gue kepilih barengan temen sekaligus sepupu gue, Idip. Kita gabung di lab Ak bareng anak-anak dari kelas lain. Fitri dan Widya dari Ak1, entah siapa dari Ak2, dan Icha dari Ak3. Pertama lihat tumpukan solanya aja gue eneg. Asli. Banyak banget. Kalo di hitung kira-kira 70 lembar. Itu baru latihan soal. Belum sama materi yang harus dibaca. Pikiran saat itu adalah: mamen, gue harus baca sebanyak ini? otak gue masih butek abis UN kemareeen!. Saat itu Widya gak yakin untuk ikut lomba. Padahal tahun kemarin dia juara satu. Harusnya dia ikut lagi dong, biar tahun ini juara lagi. Tapi katanya dia udah interview kerja, dan dalam waktu dekat ini dia siap untuk di panggil kerja sama perusahaan. Icha juga tahun kemarin ikut lomba. Walaupun gak menang, setidaknya dia lebih berpengalaman dibanding gue yang belum pernah sama sekali ikut lomba Ak. pertemuan pertama di hari itu tidak membuahkan banyak hasil. Kita bahas soal masing-masing abis itu pulang.
Mungkin tanggal 3—gue lupa tanggal berapa— kita ngumpul lagi. Kali ini full ditambah anak Ak2, Ak1 pengganti Widya dan anak kelas 2. Dari Ak1 ada Novia dan Indah. Dari Ak2 ada Risma, Susi dan Dewi. Dari kelas 2 ada Aan, Dela dan Dian. Dalam lomba ini, dibagi menjadi 3 sesi, yang pertama pre-eleminasi, yang ke dua semi final dan yang ketiga final. semi final dan final adalah cerdas cermat. Sesi pertama, yaitu sesi pre-eleminasi kita mengerjakan study kasus rekonsiliasi bank. Oke, gue nyerah. Gue gak inget outstanding check itu mengurang atau menambah rekening koran. Bendera putih dikibarkan. Dari study kasus tersebut gue udah gak yakin untuk iktu lomba. Tapi, ya gak pa-pa lah kalau dijadiin cadangan juga. Toh bawa nama baik AK4—gue masih baik sama Ak4 yang gak nge baik in gue akhir-akhir ini—
Kemudian kita dibagi jadi 3 tim. 1 tim terdiri dari 3 orang—2 anak kelas 3 dan 1 anak kelas2— dan satu nya lagi cadangan. Pertama, ditunjuk dulu siapa yang jadi ketua tim. Artinya dia yang berada di tengah yang bertugas menekan bel ada saat cermat. Dia pula yang menjadi juru bicara. Fitri jadi ketua tim 1, tim 2 Icha dan tim 3 idip. Dan diatur sedemikian rupa  menjadi seperti: tim1: Fitri, Risma, Aan, Novia. Tim2: Icha, Dewi, Dela, Sinta. Tim 3: Idip, Susi, Dian dan indah. Nama yang di cetak miring itu nama yang paling terakhir di tulis. Bisa jadi nama-nama itu adalah cadangan. Alhamdulillah!!

Keesokan harinya, gak ada satu pun anak kelas 2 yang datang. Idip pun gak datang karena sakit. Anggia datang karena mau menyerahkan berkas kuliah ke BP. Dia nongol ke lab Ak. diajakin ikut lomba deh sama kita. Anggia bisa masuk tim untuk menggantikan Idip. Itu pikir gue, tapi Bu Nina berkata lain. Bu Nina memutuskan, karena gak ada anak kelas 2, dan anak kelas 2 dianggap masih belum menguasai materi, maka yang akan berangkat lomba adalah anak kelas 3. Oke. Dan karena idip gak masuk, Anggia menggantikannya. Oke. Anggia masuk ke tim 2 dan sinta di pidahkan ke tim 3 untuk menggantikan idip sebagai ketua tim. Apaaaaaaaaa? jangan buuuu!
“kan sinta sering lomba bahasa. Pasti bisa lah jadi ketua tim”kata bu Nina. Apaan bu, lomba bahasa Prancis aja gue kalah.
Oh em ji. Gue asalnya cadangan, tapi kali ini gue jadi ketua. Dengan berat hari gue bergabung dengan susi dan indah yang super pendiem dan jarang ngomong. Mungkin kita belum begitu kenal jadi emang jarang ngobrol. It’s ok lah. Semua bisa berubah dengan berjalannya waktu.
Ngelirik ke tim 1. Fitri, tahu lah dia gimana. Ambisinya cukup besar untuk menjadi juara. Otaknya juga pinter. Ngelirik Risma. Cantik, putih, pinter, pake kerudung pula. Perfect sekali hidupnyaa. Presentasi nya juga bagus. Gue gak akan pernah mau berdiri disamping dia. kalau dibandingin sama dia, mending gue nyungseb sekalian. Novia.. udah gak usah ditanya lagi. Dia Ak1, di tim nya ada Fitri dan Risma. Novia tinggal heuay bari peureum juga tim mereka pasti menang.
Ngelirik tim 2. Icha, jangan di tanya. Nilai rata-rata rapot Ak nya 90, sedangkan gue 82 aja dapt ngiceupan Pa Dudy. Dewi, si Jenius super. Juara TO se jurusan Ak, yang berarti juara se sekolah. Anggia, sabelas duabelas sama si Icha.
Tim gue, Susi, temennya Risma dan Dewi. Pasti pinter, gue gak meragukannya. Ngitungnya cepet. Indah, sama kayak Susi. Lha gue? Satu-satu nya Ak 4 yang nyungseb disini, ditengah-tengah orang pinter, dan gue tentunya gak ada apa-apa dibanding mereka.
Dengan otak gue yang pas-pasan, dengan kemampuan dan doa, gue belajar. Menghapal buku-buku Ak yang hapir di kilo, membaca soal-soal Ak yang bejibun. Gue gak memprioritaskan untuk menang. Gue hanya ingin melakukan yang terbaik. Setidaknya gue gak malu-malu in tim gue karena gue yang paling bego.
H-1, gue nganterin ade gue ke kote. Mau audisi masuk QFent dia. ade gue yang mau audisi, tapi malah gue yang dag-dig-dug seeeeeeer.
Kalo temen-temen yang lain pasti pada lagi ngapalin buat lomba, gue lagi melihat kiko cs yang lagi melototin ade gue yang nge cover t-ara.
Hari H. gue dateng ke sekolah jam 05.37. udah ada Dewi dan Susi. Kita emang janjian jam 05.30 disekolah. Karena katanya jam 7 harus udah ada di UPI. Sekitar jam 6 kami berangkat dengan menggunakan espase. Iya mobil espase. Mobil yang harusnya berisi 6 orang sebagai penumpang itu di dedet menjadi 11 orang. Sama Pak Didi sebagai sopir berarti 12 orang. Pak Didi, wakasek kesiswaan dijadikan Sopir sama anak Ak. hahay..
Didalam mobil yang berdesakkan, Icha mulai mengeluarkan latihan soal yang bejibun. Gue ngikutin, biar pinter cerita nya. Tapi di rasa-rasa, membaca dengan berdesaakkan seperti ini hanya membuat perut menjadi mual dan ingin muntah. Gue tutup tuh soal, dan mengalihkan perhatian ke luar kaca mobil. Memandangi jalanan sepertinya lebih baik. Pikiran gue: abang kitty kuliah gak ya? Apa mungkin gue ketemu dia di UPI? Kalau seandainya pre eleminasi tim gue gagal, dari pada bulukan nungguin yang masih lomba, mendingan gue kabur dan mengelilingi UPI untuk menemukan pangeran hello kitty gue. Kalo gue lolos pre-eleminasi, gue masuk semi final… Ah jangan berharap banyak. Lakukan aja yang terbaik.
            Sampai di UPI, kita parkir di sebelah PKM. Gue dan Novia bernostalgia LSF sejenak. eh ternyata lombanya di BPU, bukan di PKM. Kita berjalan menuju BPU. Dengan ditemani bu Nina dan Pak Edo, kita disambut sama panitia dari Ansira (pekan akuntansi raya). Disambut juga sama teteh—siapa ya, gue gak tau namanya—pokoknya teteh itu yang bakal jadi pembimbing kita selama lomba berlangsung.
            Gue dan yang lainnya memasuki Balai Pertemuan itu. yang pertama gue lihat adalah ada lima buah meja berjejer. Dimeja tersebut masing-masing terdapat nama: TIM A, TIM B, TIM C, TIM D dan TIM E. gue yakin meja itu akan di pakai untuk semi final dan final ceras cermat. Dan entah kenapa, gue punya feeling, gue bakal menempati salah satu meja tersebut.
Gue duduk di kursi peserta, menghadap ke lima meja tersebut. Sebelah kanan gue Indah, dan sebelah kiri Susi. Mereka tampak tegang. Kok gue enggak ya? Gue inget gimana rasanya tegang dan gugup itu waktu lomba baca berita waktu LSF dulu, terus waktu tahun lalu pas lomba PMR, terus pas ngerjain laporan keuangan pada saat ujian kompetensi. Dan terakhir gue dag-dig-dug seeeer adalah kemarin, saat ade gue joget di depan isol. tapi sekarang gue sama sekali gak deg-degan.
            “indah, deg-degan ya?” tanya gue. Indah mengangguk. “kamu?” tanya nya. Gue menggeleng pelan—dengan wajah blah-bloh— “enggak” jawab gue.
            “aneh ih, kamu gak normal!” katanya. Baru nyadar, Ndah?. Gue melirik kearah Susi. Dia nge play musik dari hp nya, biar relax mungkin. Gue bosen kayak gini. Gak banyak yang bisa gue obrolin sama mereka, sama tim yang lain juga. Mereka pada serius dan tegang. Sedangkan Bu Nina menyuruh kita untuk tidak tegang. Ya udah gue enjoy. Gue berbisik pada Indah,”Indah, kok disini gak ada cowok ganteng ya?”.  

            Setelah—entah lah itu siapa—membuka resmi ansira ini, kami para peserta lomba LCTA dibawa ke gedung FPBS untuk pre-eleminasi.  Setelah ber hwaiting ria sama Ani, gue mengikuti teteh menuju gedung FPBS. Ada beberapa kelas yang ada mahasiswa yang sedang kuliah. Dikit-dikit gue curi-curi pandang. Ada abang kitty gak ya? Ya gak ada lah. Ini kan FPBS!!!.
            Teteh pembimbing yang cantik, putih, tinggi itu berhenti di depan sebuah kelas. Ternyata itu kelas C. dan tim gue kebagian ngerjain study kasus dikelas itu. kita terpisah dengan tim 1 dan 2. Mungkin tim 1 dikelas A dan tim 2 dikelas B. tapi kenapa gue harus dikelas C ???!!!
            Soal Study kasus dibagikan. Kesepakatan awal adalah Susi dan Indah mengerjakan Praktek, dan gue Teori yang berjumlah 30 soal. Oke, satu bundle soal kita bagi. Gue kebagian 99 persen kertas soal. Karena soal praktek untuk Susi dan Indah hanya satu lembar.
            Setelah selesai semuanya, soal dan jawaban dikumpulan, kami semua kembali ke BPU. Dari 23 tim yang bertanding, hanya ada 10 tim terbaik yang akan masuk ke semi final. Dan 4 tim dari 10 tim tersebut yang akan masuk final.
            Ba’da dzhuhur 10 besar akan diumumkan. Kita solat dzhuhur dulu deh~. Di mesjid, gue masih curi-curi pandang, mungkin aja ketemu abang kitty yang lagi solat dzuhur. Kembali ke BPU, kita makan siang dan menunggu pengumuman. Disela-sela makan siang icha kembali membuka soalnya yang bejibun. Dewi sedang memainkan hape nya. Setelah dilihat lebih saksama, ternyata dia sedang membaca soal dari Microsoft word yang dibuka melalui hape androidnya. Ya ampuuuun! lha gue? Gue  malah pengen joget lagu sorry- sorry yang lagi di play sama panitia. 
Kata Icha dan Dewi,” setidaknya salah satu tim dari kita masuk ke semi final. Masak kita kalah sih? Kita pulang dong kalo gitu”. Kata Bu Nina, kalau ada satu yang masuk semi final, tapi yang lainnya enggak, yang lainnya gak boleh pulang. Pulangnya ntar bareng-bareng. Berarti kita nunggu in sampe final itu beres. Dan kata Icha, taun kemarin dia pulang ke rumah jam 9 malem. Mungkin sekarang juga bakalan kayak gitu,— kalau ada yang masuk final. Untuk itulah gue berniat ngubek kampus ini untuk nyari abang kitty daripada ngunggu in tim yang masuk final.
            10 tim terbaik yang akan berlanjut ke babak semi final segera di umumkan. Panitia mengumumkan nama tim dari sekolah satu persatu.
            “yang akan masuk ke babak semi final adalah… SMK 2 Sumedang tim 1! SMK 11 bandung tim 2, SMKN 3 Bandung tim 2…”   tim icha masuk semi final! dan blablabla… gue gak terlalu memperhatikan.
“Tim ke-8 yang masuk semi final… SMKN 3 Bandung!.. ” yee.. gue tepuk tangan biasa. “TIM 3!”  TIM GUE MASUK???
“INDAAAAH… SUSI… TIM KITA MASUK!!!” kata gue panik. Susi ikut panik. Indah tetep stay cool sambil melempar senyum bahagia.
“SUSIII… AYO KITA MENGHAFAL BUAT PRESENTASI. TAPI APA YANG HARUS DI HAFALIN??” kata gue yang masih panik.
            “EMANG KITA BAKALAN MASUK FINAL???” kata Susi. Hehehe, iya ya. 
                                                                                                                          
            Dalam semi final ini, dibagi menjadi 2 sesi. dalam masing-masing sesi terdiri dari 5 tim dan akan dipilih 2 tim terbaik untuk melaju ke babak final. kata Icha, biar tim kita masuk sama-sama final, kita harus beda sesi, icha sesi satu dan gue sesi dua. Dengan cara itu peluang untuk masuk final lebih besar. Gue iya iya aja.
            Yang menentukan kita masuk sesi satu atau dua ialah guru pembimbing. Dan guru pembimbing kita yaitu Pak Edo. Ayo Pak, nyawa kita ada di tangan mu!! Pak Edo maju ke depan untuk memilih nomor yang menentukan tim kita masuk sesi mana. Dengan harap-harap cemas Pak Edo mengambil nomor yang ada dalam mangkuk aquarium tersebut. Setelah itu pak Edo memberikan nomor tersebut pada panitia.
            “SMKN 3 BANDUNG TIM 2 akan berada dalam sesi pertama grup B” kata panitia. Berarti gue harus ada di sesi kedua. Pak Edo mengambil satu nomor lagi.
            “SMKN 3 BANDUNG TIM 3 akan berada dalam sesi pertama grup C”. beuh, kita dalam satu sesi. Jadi tim kita harus bersaing untuk masuk final. bersaing? Enggak ta. Lakukan aja yang terbaik. Dan tim Icha bukan lah saingan gue. Mereka pasti bisa masuk final dibandingkan dengan tim gue.
            Setelah 10 tim terbagi kedalam dua sesi, sesi pertama memulai untuk cerdas cermat babak semi final. JEJEJENG!!! Semua tim menempati posisinya masing-masing.Icha tim B, gue tim C. KENAPA GUE HARUS TIM C ???
            Dalam semi final ini dibagi menjadi tiga babak. Babak point envelope, babak jatah dan babak rebutan. babak point envelope yaitu babak dimana setiap tim harus mengerjakan soal yang ada di dalam amplop.  di amplop tersebut terdapat point, ada 50, 100 dan 150.  Tiap tim berhak mengambil salah satu amplop, kemudian mengerjakan soal tersebut. Jika telah mengerjakan satu amplop, soal dan jawaban diberikan kepada juri dan tim boleh mengambil amplop selanjutnya untuk di kerjakan kembali. Jika jawaban benar mendapat score sesuai dengan point yang terdapat pada amplop tersebut. Jika jawaban salah hanya mendapat setengah dari poin yang tertera. Waktu mengerjakan soal amplop tersebut ialah 10 menit. Gue berdiskusi dengan parter gue, Indah dan Susi.
 “Mau milih amplop dengan point berapa nih? Menurut gue, point tersebut sesuai dengan tingkat kesulitan soal. Kalau 50, berarti soalnya gampang, 100 sedang dan 150 sulit. Gimana?”
“ya udah ambil jalan tengah nya aja. Ambil yang 100” kata indah.
“siapa yang mau ngambil amplopnya?” tanya gue. Tanpa diberi komando, gue dan Indah melirik kearah Susi.
“jangan Susi ah, kalau Susi yang ngambil, pasti gak beruntung” kata Susi.
“Jarak kamu kan ke meja amplop lebih deket” kata Indah. Oke, Susi kalah.
Setelah bel dibunyikan tanda babak point envelope dimulai, Susi langsung menambil amplop di meja amplop yang jaraknya cukup dekat—bahkan sangat dekat dengan meja kami. Setelah berebut amplop dengan tim A, akhirnya Susi mengambil amplop berpoin 100. Dengan ganas Indah merobek amplop tersebut dan mengeluarkan soal di dalamnya.
Di dalamnya. Terdapat satu soal dan dua lembar jawaban. Ternyata lembar jawaban tersebut adalah jurnal pembelian dan pengeluaran kas. Dan soalnya ialah transaksi dalam satu periode yag berlangsung selama bulan juli. Mantap! Susi mengerjakan jurnal pengeluaran kas, dan indah jurnal pembelian. Gue yang membacakan soal sekaligus memilih transaksi mana yang harus dicatat kedalam kedua jurnal tersebut.
Baru mengerjakan sampai tanggal 22 juli, waktu habis. Dengan berat hati, kami kumpulkan soal dan jawaban tersebut pada juri. Tim lain pun sama. Hanya tim B, tim nya Icha yang mampu mengerjakan dua amplop dalam waktu 10 menit. 
“tuh kan, makannya jangan Susi yang ambil” kata Susi menyalahkan dirinya. Udah lah, gwaenchana~ kita juga gak tahu soalnya bakalan seperti itu.
Babak jatah. Seperti dalam cerdas cermat umumnya, babak jatah yaitu babak dimana masing-masing tim berhak memilih satu dari 5 soal yang di sediakan. Kemudian, tim harus menjawab soal tersebut. Apabila jawaban benar mendapat score 100, dan jika salah tidak mendapat score dan score  tidak dikurangi. Gue berbisik pada Susi dan Indah. Mau pilih soal apa? A, B, C, D atau E?. Susi menggelengkan kepalanya. “jangan tanya Susi” katanya. Gue lirik Indah. “ta, yang disuruh milih soal itu tim A, bukan tim C”.
Tim A memilih soal B. panitia membuka soal B dan membacakannya. Kemudian tim A menjawab. Begitu seterusnya. Sampai giliran tim gue yang memilih soal. Gue melirik partner gue lagi, “yang mana nih? Tim A milih soal B. tim B milih soal A. tinggal tersisa soal C, D, dan E”
“terserah aja” kata Indah.
“E aja gitu?” kata gue.
“kalau dari nilai sih, nilai C lebih bagus dari nilai E” kata Susi. Bener juga. “soal C aja?” tanya gue. Indah dan Susi mengangguk mantap.
“Tim C. mau pilih yang mana?”tanya panitia.
“C” jawab gue. Saudara-saudara, lagi-lagi gue milih huruf C.
Panitia membuka amplop C dan membacakan soal. Dalam sesi jatah seperti ini tiap tim kebagian 5 soal. Soal pertama
“the term of.. blablabla—soal bahasa Inggris— is?” kata si pembaca soal. Gue lirik Susi. Dia geleng kepala. Indah, geleng kepala juga. teeet. Timer menekan bel. Waktu habis. Gue gak bisa jawab soal pertama. Oke,masih ada 4 soal lainnya. Dan blablabla, jatah tim gue untuk menjawab soal selesai. Soal pun telah dibacakan semuanya. Dan score yang diperoleh tim gue adalah 100. Tim gue Cuma bisa menjawab 1 dari 5 soal :'(. Giliran tim D kemudian tim E yang menjawab sesi jatah ini. sesi jatah pun berakhir. Score akhir dari sesi jatah ialah… JENG JENG JENG… tim gue paling kecil. Tim nya iche punya score 300. Semangat ta!. Masih ada sesi rebutan.
Di sesi rebutan, akan ada 15 soal yang di bacakan. Jika jawaban benar akan ditambah 100 point dan jika salah akan dikurang 100. Oke, gak boleh salah ini mah. Tangan gue siap di atas bel.
Soal pertama. “apakah blablabla—gue lupa soalnya apa—“
TEEEEEEEEEEET! Gue pencet bel se keras mungkin. Dan gue jawab pertanyaannya.
“seratus untuk tim C”
soal kedua. Blablabla. Gue pencet lagi  bel nya se cepat mungkin. Dan juge jawab pertanyaannya. “seratus untuk tim C” . Dari bangku penonton Fitri terlihat senang karena gue bisa menyusul. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya mengalir apa adanya. gue gak inget gue bisa jawab pertanyaan yang mana aja, yang penting kalau gue gak tau Indah atau Susi yang pencet bel, kemudian mereka membisikan jawabannya, dan gue yang menjawab pertanyaan itu. gue gak ingin juara. Tapi gue orangnya gak mau kalah—Kalian bakalan tahu, kalau kalian pernah debat sama gue—. Termasuk dalam semi final ini. gue gak mau kalah, gue mengerahkan seluruh kemampuan yang gue punya.
Pertanyaan terakhir. Gue berambisi, pokoknya, soal terakhir ini punya gue!!  Suasana menjadi makin panas. Tangan gue makin dingin karena AC dibelakang gue gak berhenti ngasih angin.
“jika dalam FOB Shipping point, maka blablabla… biaya angkut ditanggung oleh…” TEEEEEEEEEET ! gue pencet lagi bel itu. Semua mata tertuju pada tim gue. Seinget gue, Shipping point tuh pembeli, Destination point itu penjual—yang gak tahu akan hal ini, belajar lah akuntansi peruhsahaan dagang— tapi gue ragu, gue ngelirik Susi. Dia komat-kamit sambil bilang: penjual.
“PEMBELI” jawab gue dengan pasti.
“SERATUS POINT UNTUK TIM C”
Yeeeeeeeeee… akhirnya gue bisa mengeksekusi soal terakhir itu!. ya, sekarang gue inget, kalau shipping point itu pembeli, Destination point itu penjual. Cara mengingatnya adalah: gue inget temen gue namanya Desti, dia jurusan pemasaran. Yang namanya pemasaran itu menjual. Berarti pemasaran=penjualan. Karena Desti itu pemasaran, berarti Desti itu penjual. Maka dari itu FOB Destination point itu penjual. Kalau Destination penjual, berarti sisanya pembeli, berarti FOB Shipping point itu biaya angkut nya ditanggung oleh pembeli. Thank you Desti~
Gue tepuk tangan karena bisa menjawab pertanyaan terakhir. 
“Score akhir dari babak semi final sesi pertama adalah… JEJEJENG!!! Gue melihat layar infokus yang gede banget. Melihat score. Tim gue 450. Tim Icha 350. Yee gue unggul.
“Tim A dengan score 300, tim B 350, tim C 450. Tim D 400 dan tim E 550” kata panitia. Gue tepuk tangan. “dan yang lolos ke babak final adalah Tim C dari SMKN 3 Bandung dan Tim E dari SMKN 11 Bandung.  apaaaaaaaaaaa??? Tim gue masuk final. gue saling pandang dengan Susi dan Indah. Mereka terihat tidak percaya dengan apa yang terjadi. Apalagi gue. Gue dan yang lainnya kembali ke bangku peserta. Berasa abis bangun tidur, gue menumpulkan nyawa yang entah berada dimana. Gue masuk final! dan rencana gue untuk nyari abang kitty gagal!
Icha, selaku tim yang kalah dalam pertempuran menghampiri gue. “ngafalin ta!” katanya berapi-api. Dia tahu gue orangnya jarang buka buku. Tapi hal itu di cegah oleh bu Nina. “sekarang bukan waktunya untuk menghafal. Udah aja relax. Percuma ngafalin juga kalau gugup nantinya malah blank”. Bener juga kata bu Nina. Gue solat ashar dulu deh sambil tenangin pikiran.
Gue lirik syaf cowok. Gue gak lihat abang kitty di FPBS,mungkin aja gue ketemu dia pas lagi solat. Tapi gue cari-cari, dia gak ada. Gue baru sadar, yang gue cari itu bang kitty, bukan si babo. Jangan sama kan bang kitty dengan babo, Ta. Bang kitty gak babo. Gampang kalo nyari si babo, kalo gak di kelas ya di mesjid. Bang kitty? Je ne sais pas.
Kembali ke BPU, lagi babak semi final sesi kedua. Gue cuma nonton tim yang sedang bertanding. Sesekali Icha mendekati gue sambil bilang, “amortisasi adalah penyusutan aktiva tetap tidak berwujud. Cara perhitungannya ada dua, yang pertama itu dengan metode garis lurus dan yang kedua itu dengan bunga efektif”. Gue ngangguk-ngangguk. Jujur, sampai saat ini gue gak siap dengan babak final. di babak final itu ada sesi presentasi. Dan gue gak siap untuk sesi itu. apa yang harus gue presentasi kan? “semua yang berhubungan dengan akuntansi. Seperti aktiva, passiva, kas kecil, rekonsiliasi bank, laporan keuangan” kata bu Nina dan bu Ima. Terus ntar gue presentasi apa?.
Hasil dari semi final sesi kedua, yang masuk final itu dari SMKN 1 bandung—musuh bebuyutan—dan SMKN 11 bandung. Tuh kan, SMK 11 ada di sesi satu dan dua, dan keduanya masuk final! berarti lawan gue ialah smk 1 dan dua tim dari smk 11. Eotteokke eonni??
Gue gak habis pikir, kenapa Risma si cantik, pintar dan low profile, Fitri yang berambisi untuk menang, Icha yang nilai rata-rata Akuntansi nya 90, Dewi si juara umum TO, gak masuk final. sedangkan gue—yang alaaah cewek yang pas-pas an begini masuk final—. Semuanya pasti kembali pada Allah. Ini jalan Allah. Segala rezeki telah diatur oleh Allah. Bukannya gue gak bersyukur, tapi gue gak siap untuk presentasi itu. Pasti mereka lebih siap dibanding gue.
“Doa kan ya teman-teman, transfer kan ilmu kalian!! Kalau perlu kita tukeran otak!!” kata gue. Risma Cuma tersenyum hambar mendengar ocehan gue itu. 
Hiburan yang diadakan oleh panitia gak bikin gue terhibur. Anak-anak SMK 11 dengan riang gembira joget-joget di depan bareng band yang sedang bernyanyi. Kata Fitri mereka optimis untuk menang—balas dendam karena tahun lalu satu pun dari mereka gak lolos di babak pre-eleminasi—. Gue juga optimis menang. Tapi rasa optimis gue gak sebesar rasa optimis mereka—dari awal kan gue gak niat untuk menang— ditambah lagi Novia minta gue untuk bawa kembali piala bergilir. Tanpa terucapkan, teman-teman yang lain pun menginginkan hal yang sama. Meminta gue untuk menang. Dan bagi gue itu merupakan beban tersendiri yang gue dapet dari mereka. Kenapa jadi beban? Gue bener-bener gak siap dengan presentasi. Susi… indah… gantiin gue untuk presentasi dooong…
Tapi itu semua gak bisa. Ketua tim lah yang harus maju untuk presentasi. Anggota tim lainnya boleh membantu apabila ketua tim lupa. Indah, disebelah gue. Dia lagi menahan rasa maag nya yang sedang kambuh. Kata Novia, ini sering terjadi. Kalau Indah berada diluar rumah sampai lewat dari jam 3 sore, maag nya pasti kambuh.
“terus sembuhnya gimana?” tanya gue.
“kalau kayak gini biasanya langsung tidur”kata indah. Dalam hal seperti ini Indah gak boleh tidur. Dan untuk maju ke babak final dia gak bisa digantikan. Dan dalam hal seperti ini, yang hanya bisa Indah lakukan yaitu bertahan. Semangat Indah… kita pasti bisa!
Babak final dimulai. Masing-masing tim dipersilakan untuk menempati meja nya masing-masing. Dalam babak final ini gue kebagian di meja pertama, yaitu tim A. kenapa harus tim A? ada beberapa huruf yang gak gue suka, yang pertama huruf C, yang kedua huruf A, dan yang seterusnya adalah N, D, R, A. udah, gak usah di bahas.
Kenapa gue gak suka huruf A? huruf A itu pertama! Dan pastinya dalam presentasi kali ini gue yang pertama maju. Nice!
Gue menempati meja A. gue duduk di tengah. Seperti biasa, Susi di samping kanan gue dan Indah disamping kiri gue. Bener aja, gue di persilakan untuk membuka babak final dengan presentasi pertama. Dengan bismillah gue mengambil satu kertas dari wadah aquarium itu. berasa miss universe, gue harus mempresentasikan apa yang tertulis dalam kertas tersebut. Dengan perlahan gue buka, kertas itu bertuliskan PENYUSUTAN. mampus!
Dengan banyak membaca bismillah, robbishrohliishodri wa yashir lii amri wahlul ukdatamillisani yaf khohu kouli—baca doa— sambil sesekali melirik Bu Nina, pak Edo, Bu Ima, dan teman-teman yang lain di bangku penonton, gue membuka presentasi,
“assalamualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh… nama saya Sinta. Disini saya mewakili tim A dari SMK Negeri 3 Bandung akan menjelaskan tentang penyusutan. Penyusutan adalah… “ gue diem sejenak, mencari kata yang tepat, penyusutan itu apa? Gue gak banyak baca pengertian dari kata ‘penyusutan’.
“cara yang dilakukan perusahaan untuk menyusutkan aktiva tetap”lanjut gue. “metode penyusutan, dibagi menjadi beberapa metode, yang pertama yaitu metode garis lurus,” dan blablabla gue menjelaskan tentang metode-metode penyusutan. Setelah itu gue bingung mau ngomong apa lagi. “cukup” kata gue ke dewan juri.
“cukup?” tanya dewan juri. “kamu masih memiliki waktu 3 menit lagi”.
Presentasi ini maksimal 5 menit. tapi apa yang harus gue omongin lagi?. Gue lirik Susi yang ada di belakang. Bantu dong Suuus! Apa lagi nih?
            Susi komat kamit: penyusutan aktiva tidak berwujud amortisasi.
Ah! Gue lupa dengan yang satu itu. gue copy kata-kata Icha tadi, “penyusutan aktiva tidak berwujud dinamakan amortisasi. Cara perhitungannya ada dua, yang pertama itu dengan metode garis lurus dan yang kedua itu dengan bunga efektif” dan blablabla.
            “cukup sekian” kata gue mengakhiri presentasi tersebut. Selanjutnya dewan juri memberikan 5 pertanyaan buat gue. Pertanyaan yang pertama “apa yang dimaksud dengan penyusutan?”
Mati lah awak! Penyusutan? Penyusutan ya penyusutan dewan juri! Gue lirik Susi, cara yang digunakan perusahaan untuk menyusutkan aktiva tetap. Baik berwujud maupun tidak berwujud. Gue copy paste kata-kata Susi. Walaupun gue yakin, jawaban itu tak memuaskan para juri. Pertanyaan kedua, “jelaskan yang dimaksud dengan metode penyusutan double declining metode”.
            “double declining metode adalah penyusutan yang di hitung menurut presentase penyusutan yang di kali dua. Perhitungannya ialah presentase dari metode garis lurus dikali kan dua” jawab gue. Itu bukan jawaban yang tepat, Ta!  Seinget gue, cara perhitungan dari double declining metode cukup rumit untuk dijelaskan—gue sendiri aja gak ngerti— jarang menemukan soal ini sih dalam pelajaran sehari-hari. kalau pun ada, biasanya gue ngitungnya pake cara cepat yang diajarkan oleh Alma dan Anggia. Langsung aja presentase dari metode garis lurus dikali dua. Beres!
            “apakah semua aktiva tetap disusutkan?jelaskan”
Gue tahu, jawabannya tidak. dan saat gue melirik Susi, dia menggelengkan kepalanya. “Tidak. tidak semua aktiva tetap mengalami penyusutan. Aktiva tetap yang mengalami penyusutan adalah mesin, peralatan, kendaraan, dan aktiva tidak berwujud. Tetapi tanah, merupakan aktiva tetap yang tidak mengalami penyusutan”
            Dan dua pertanyaan berikutnya gue bisa jawab. Tapi gue  gak yakin jawaban gue itu bener. Mood gue terjun bebas setelah presentasi itu. gue kembali duduk di meja A. adzan maghrib dikumandangkan. Peserta babak final diperbolehkan untuk solat maghrib terlebih dahulu. Karena Susi dan Indah sedang berhalangan, gue langsung ngacir ke mesjid bareng temen-temen gue yang jadi penonton. Pengen nangis gue… presentasi gue tadi jelek…
Gue berjalan paling belakang saat menuju mesjid.  Depan gue bu Nina dan Icha yang sedang asik berbincang. Mereka gak nyadar, kalau gue ada di belakang mereka.
“emang bener ya bu, mempertahankan piala itu lebih sulit dari pada merebut” kata Icha. Bu Nina mengiyakan. Icha mulai hopeless sama gue. Gue juga emang gak bisa diharapkan. Bunuh lah aku!!!!!
Saat matahari terbenam, solat maghrib di dirikan. Saat itu semua menjadi gelap. Langit gelap, sehingga gue menginjak kubangan air yang tak terlihat. Pak Didi yang sudah menjemput pun terlihat gelap. Hati gue, perasaan gue, semua yang ada dalam diri gue juga ikut gelap setelah mendengar ucapan Icha barusan. Mengingat presentasi tadi, gue merasa gagal dalam lomba ini. terlebih lagi gue merasa gagal menjadi seorang murid. Buat semua guru-guru Akuntansi, maafin murid yang penuh dosa ini, Bu Nina, Pak Edo, Pak Iwan, Pak Dudy, Pak Redi, Bu Dewi, Bu Ima, Bapak Luca Paciolo~ maafkan aku~~ Dalam solatnya, bu Nina sujud lamaaa banget. Ibu minta apa? Jangan minta sinta untuk menang bu. Sinta pengen menang, tapi sinta, susi dan indah gak kuat untuk menanggung semuanya.
Balik lagi ke BPU, giliran tim B dari SMK 11 yang presentasi. Mereka dapet materi tentang rekonsiliasi bank. Materi yang cukup mudah untuk di presentasikan. Ketua tim B cowok, dia baceprot menjelaskan rekonsiliasi. Itu membuat gue nyungseb. Pengen pulang, gak mau disini, mood gue terjun bebas . Tim selanjutnya dapet materi tentang laporan keuangan. Itu juga gampang. Kenapa gue dapet penyusutan! Semua gak bakalan kayak gini kalau lo belajar lebih serius. Kata-kata itu terus muncul dipikiran gue seperti mendengar lagu dari kaset yang sudah rusak.
Dari babak presentasi, tim gue Cuma dapet nilai 235, tim yang lain ada yang 300 dan sebagainya. Intinya, tim gue paling kecil. Maafin gue Susi, Indah… mari membalas kekalahan… —loyo—
Babak jatah, gue Cuma bisa jawab 2 dari 5 pertayaan. Babak rebutan, gue gak bisa ikut rebutan. kenapa? Pertama, gue kalah cepet. Bel yang ada di meja A ini gak se epos bel yang ada di meja C tadi. Kedua, gue emang gak mood untuk berjuang lagi. Begitu pun dengan Susi, dia hanya memainkan kalkulatornya pada saat soal hitungan bahasa Inggris. Dia gak menghitung, gue juga gak menghitung karena hilang konsentrasi. Indah juga sama, seharusnya dia menulis angka yang disebutkan oleh pembaca soal. Dia masih menahan perih di lambungnya pula. Intinya, kita sama-sama gak konsen. Yang di pikiran kita adalah : pembaca soal ngomong apa sih? Angka yang disebutinnya berapa? Soal yang ditanyakan apa? Nett sales? Nett purchase? Nett profit? Cost of goods sold? Atau apa?.
Hasil akhir, tim kita dapet juara harapan satu. Tim B dari SMK 11 dapet juara pertama, juara kedua tim D, SMK 11 juga, juara ketiga tim C SMK 1. Kami saling berjabat tangan sambil mengucapkan ‘selamat ya!!’. Tapi kata-kata itu terasa hambar di dengar. Setelah itu gue berjalan menuju teman-teman dan guru-guru. Gue cium tangan bu Nina, bu Ima, Pak Edo, Pak Didi, sambil bilang “maaf ya gak bisa bawa pulang juara satu”. Mereka bilang gak pa-pa sambil menepuk pundak gue.
“gak pa-pa, udah bagus kok” kata Novia dan teman-teman lainnya.  tetep aja pengen nangis!!! Apa gue harus harakiri?.
            “Ta, gak dapet mendali? Ih kenapa ya? Tahun kemarin aja, aku yang gak juara dapet mendali loh” kata Icha. Huwaaaaaa tambah pengen nangis!
            “Icha… gak usah ngomong gitu deh” kata Novia. Thanks Novia.
Setelah berfoto-foto sedikit dengan para pemenang yang lain—foto yang hambar pastinya—, mobil espase yang tadi pagi mengantar kita telah menunggu di depan BPU untuk menjemput pulang. Kalau juara satu, kita gak mungkin di jemput pake espase. Kita pasti di jemput pake bus. Orang tinggi piala nya se tinggi Ufiya Izmi, mana muat kalo dimasukkin ke espase. Kalo si Uppy di lipet-lipet terus di dempet di espase cukup. Lha piala? Mana mungkin di lipet-lipet. Dan kalau juara satu, pialanya dapet dua. Satu piala juara satu, dan satu piala bergilir dari Gubernur.
Tapi kita gak dapet juara satu, kita cuma dapet harapan satu. Pialanya juga muat masuk ke dalam espase yang sudah sempit naudzubillah. Piala itu muat dengan hanya gue pangku di bangku depan. Maaf  ya teman-teman… gue gak bisa bawa piala yang tingginya tinggi banget—kalo foto sama piala itu berasa foto sama ade sendiri—maaf juga, karena presentasi buruk dari gue, kalian masih harus berdesakkan dalam espase, maaf gak bisa ngasih bus untuk kalian pulang.
Selama perjalanan pulang, suasana dalam mobil sepi. Tidak terdengar ocehan apapun. Tak ada lagi yang membaca soal dalam mobil, tak ada yang bersenda gurau, hanya sesekali Pak Didi melemparkan ocehan untuk mencairkan suasana. Gue sendiri masih melamun, melamun apa yang baru saja terjadi. Presentasi  yang amat buruk, piala di pangkuan gue yang gak kalah buruk, seharusnya gue bisa bawa pulang piala gede dan ngasih bus buat temen-temen gue!
“Sinta, Susi, Indah. Ketiganya sama-sama anggun. Gak ada yang baceo.” kata Bu Nina yang ada di sebelah gue. Cuma Bu Nina yang bilang gue anggun, kalo temen-temen sekelas gue denger, pasti mereka bilang: FITNAAAH!!
Mungkin menurut Bu Nina, faktor ke’anggun’an gue itu yang menyebabkan gue kalah dalam babak presentasi. Bukan bu, bukan faktor itu. emang gue gak mempersiapkan lebih serius untuk presentasi. Lebih tepat nya untuk lomba ini. gue gak nyangka sama sekali buat masuk final. gue malah berniat untuk mengelilingi UPI demi mencari abang kitty dari pada menunggu yang sedang beradu final. eh malah gue yang masuk final. jadi emang gak ada persiapan apapun dari gue.
Gue masih melamun sambil sesekali melihat bulan yang tergantung di langit. Menurut gue, babak final tadi tuh kayak sebuah perang. Perang melawan para penjajah demi memperebutkan piala yang akan menentukan kekuasaan. Tim lawan siap berperang dengan membawa bazoka, rudal, meriam, gas air mata dan peralatan perang lainnya. Tim gue hanya membawa peralatan seadanya. Susi membawa senapan angin, tapi ia merasa ragu untuk menembakkannya kepada musuh. Indah membawa sebungkus obat promaag untuk memerangi rasa sakit di lambungnya, sedangkan gue hanya membawa ketapel. Ya kita kalah.
Ujian tanpa belajar juga sama aja dengan bunuh diri. Sama aja dengan mau perang dengan bawa ketapel. Tetep kalah. Lomba kali ini juga. kenapa gue Cuma bawa ketapel? Gue jadi kalah kan?! Harakiriiii~
Pak Didi memberhentikan espase di sekolah. kami pun turun dari mobil tersebut.
“bapak mau kearah sapan, yang searah bisa ikut”kata Pak Didi. Gue kembali naik kedalam mobil. Didalam mobil ada Fitri, Aan, Novia, Anggia dan Ani. Kata Pak Didi dari sapan bakalan putar balik ke Kopo. Jadi Anggia dan Ani ikut dalam mobil. Gue duduk di bangku tengah, sebelah gue Fitri yang baru bangun tidur. Piala udah di titipkan di pos satpam. Gue pengen nangis mengingat piala itu. akhirnya suara rintihan gue keluar.
“suara siapa itu?” kata Anggia tiba-tiba.
“serem ih, inta! Kayak setan tauk!” Novia melanjutkan. Oke gue gak boleh nangis. Pak Didi bisa nabrak tiang kalo tau ada setan dalam mobilnya.
Aan turun duluan di sekelimus. Gue menyusul dengan turun di logam. Dan gue pulang dengan dijemput mang ojek yang selalu setia~
Itulah cerita tentang Lomba Cepat Tepat Akuntansi. Dari lomba kali ini, banyak pelajaran yang gue dapat. Yang pertama, gue jadi pengen kayak Risma, yang baik, cantik, pinter, tidak sombong dan pake kerudung pula. Perfect sekali hidupnya, gak kaya gue yang masih berantakan. Gue pengen sepintar Risma, tapi gue gak mau sombong dengan ilmu yang gue punya—yang kenal sama gue, yang satu sekolah sama gue, yang satu kelas sama gue, pasti tahu apa yang gue maksud—
Yang kedua, gue gak boleh meremehkan hal yang terkecil sekalipun. Karena gue meremehkan belajar, karena gue sering main-main dalam belajar, gue jadi gak siap untuk ikut lomba.
Yang ketiga, jangan bawa ketapel kalau mau perang.
Yang ke empat, jangan mencampur adukkan cinta dengan pelajaran.
Yang ke lima, udah ah gak usah disebutin, ntar malah tambah ngaco. Cukup sekian posting kali ini. waaah cukup panjang ya~ biarin aja. Diary gue ini. :P

Gue berniat untuk foto-foto setelah gue beres final. karena gue kalah, gak ada satu pun dari kita yang mood untuk berfoto, akhirnya gue edit ini foto buat jadi kenang-kenangan.

Yang warna merah, itu yang ikut lomba,yang warna ijo, itu dicalonkan untuk ikut lomba, tapi mereka mengundurkan diri.

Inilah persembahan terakhir dari gue, Susi, dan Indah untuk SMK Negeri 3 Bandung tercinta. Maaf gak bisa bawa piala yang gede.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar