Sesuai
dengan judul posting kali ini, gue mau ngebahas tentang LOMBA CEPAT TEPAT
AKUNTANSI atau LCTA. Beberapa minggu sebelum UN, mungkin 2 minggu, Pak Edo
selaku Ketua Program Jurusan Akuntansi memberi tahu bahwa akan diadakan lomba
akuntansi bulan mei. Dan beliau mengharapkan setiap kelas mengirimkan
perwakilannya 2 orang.
“ikut ya? Lebar uang kalo gak ikut.
Saya udah nge daftarin 3 tim” kata Pa Edo. Pikiran gue saat itu adalah: apaan
sih si bapak, main daftarin aja, belum tentu kita mau ikut lomba itu. ini
namanya pemaksaan!. Oke, lupakan semuanya. Pak Edo gak ngebebanin kita, fokus
UN dulu aja, lomba urusan belakangan.
UN beres, gue dapet sms dari Kang
Ian, pelatih PMR yang minta gue untuk ikut lomba PMR. Satu kata yang tebesit
saat itu adalah: OGAH! Kenapa? Sebenarnya gak kenapa-napa sih. Ikut lomba nya
oke, tapi hari-hari untuk mempersiapkan lombanya itu loh yang gak oke. Tahu
sendiri laah, kang Ian kayak gimana… gue beserta tim gue, pernah juara 1 se
Jabar, DKI, Banten. dan gue tahu, dia minta gue untuk ikut lomba lagi karena
dia pengen sekolah kita juara lagi—semua orang pengen gitu—. Gue orangnya gak mau
di bebanin untuk jadi juara, waktu itu jadi juara juga emang bukan faktor
keberuntungan, melainkan usaha dan kerja keras dari tim gue untuk bisa
menampilkan yang terbaik. Saat itu rezeki berpihak pada kita dan Alhamdulillah
kita juara. Dan apabila sekarang kita di press untuk kembali juara seperti
tahun lalu, gue gak yakin bisa menang. Akhirnya
gue pake alasan lomba akuntansi untuk menolak tawaran dari Kang Ian.
Tanggal
23 April. Setiap perwakilan dari seriap kelas kumpul di lab Akuntansi (Ak)
untuk belajar bareng mempersiapkan lomba. Dari kelas gue, gue kepilih barengan
temen sekaligus sepupu gue, Idip. Kita gabung di lab Ak bareng anak-anak dari
kelas lain. Fitri dan Widya dari Ak1, entah siapa dari Ak2, dan Icha dari Ak3.
Pertama lihat tumpukan solanya aja gue eneg. Asli. Banyak banget. Kalo di
hitung kira-kira 70 lembar. Itu baru latihan soal. Belum sama materi yang harus
dibaca. Pikiran saat itu adalah: mamen, gue harus baca sebanyak ini? otak
gue masih butek abis UN kemareeen!. Saat itu Widya gak yakin untuk ikut
lomba. Padahal tahun kemarin dia juara satu. Harusnya dia ikut lagi dong, biar
tahun ini juara lagi. Tapi katanya dia udah interview kerja, dan dalam waktu
dekat ini dia siap untuk di panggil kerja sama perusahaan. Icha juga tahun
kemarin ikut lomba. Walaupun gak menang, setidaknya dia lebih berpengalaman
dibanding gue yang belum pernah sama sekali ikut lomba Ak. pertemuan pertama di
hari itu tidak membuahkan banyak hasil. Kita bahas soal masing-masing abis itu
pulang.
Mungkin
tanggal 3—gue lupa tanggal berapa— kita ngumpul lagi. Kali ini full ditambah
anak Ak2, Ak1 pengganti Widya dan anak kelas 2. Dari Ak1 ada Novia dan Indah.
Dari Ak2 ada Risma, Susi dan Dewi. Dari kelas 2 ada Aan, Dela dan Dian. Dalam
lomba ini, dibagi menjadi 3 sesi, yang pertama pre-eleminasi, yang ke dua semi
final dan yang ketiga final. semi final dan final adalah cerdas cermat. Sesi pertama,
yaitu sesi pre-eleminasi kita mengerjakan study kasus rekonsiliasi bank. Oke,
gue nyerah. Gue gak inget outstanding check itu mengurang atau menambah
rekening koran. Bendera putih dikibarkan. Dari study kasus tersebut gue udah
gak yakin untuk iktu lomba. Tapi, ya gak pa-pa lah kalau dijadiin cadangan
juga. Toh bawa nama baik AK4—gue masih baik sama Ak4 yang gak nge baik in gue
akhir-akhir ini—
Kemudian
kita dibagi jadi 3 tim. 1 tim terdiri dari 3 orang—2 anak kelas 3 dan 1 anak
kelas2— dan satu nya lagi cadangan. Pertama, ditunjuk dulu siapa yang jadi
ketua tim. Artinya dia yang berada di tengah yang bertugas menekan bel ada saat
cermat. Dia pula yang menjadi juru bicara. Fitri jadi ketua tim 1, tim 2 Icha
dan tim 3 idip. Dan diatur sedemikian rupa menjadi seperti: tim1: Fitri, Risma, Aan, Novia.
Tim2: Icha, Dewi, Dela, Sinta. Tim 3: Idip, Susi, Dian dan indah.
Nama yang di cetak miring itu nama yang paling terakhir di tulis. Bisa jadi
nama-nama itu adalah cadangan. Alhamdulillah!!
Keesokan
harinya, gak ada satu pun anak kelas 2 yang datang. Idip pun gak datang karena
sakit. Anggia datang karena mau menyerahkan berkas kuliah ke BP. Dia nongol ke
lab Ak. diajakin ikut lomba deh sama kita. Anggia bisa masuk tim untuk
menggantikan Idip. Itu pikir gue, tapi Bu Nina berkata lain. Bu Nina
memutuskan, karena gak ada anak kelas 2, dan anak kelas 2 dianggap masih belum
menguasai materi, maka yang akan berangkat lomba adalah anak kelas 3. Oke. Dan
karena idip gak masuk, Anggia menggantikannya. Oke. Anggia masuk ke tim 2 dan
sinta di pidahkan ke tim 3 untuk menggantikan idip sebagai ketua tim.
Apaaaaaaaaa? jangan
buuuu!
“kan
sinta sering lomba bahasa. Pasti bisa lah jadi ketua tim”kata bu Nina. Apaan
bu, lomba bahasa Prancis aja gue kalah.
Oh
em ji. Gue asalnya cadangan, tapi kali ini gue jadi ketua. Dengan berat hari
gue bergabung dengan susi dan indah yang super pendiem dan jarang ngomong. Mungkin
kita belum begitu kenal jadi emang jarang ngobrol. It’s ok lah. Semua bisa
berubah dengan berjalannya waktu.
Ngelirik
ke tim 1. Fitri, tahu lah dia gimana. Ambisinya cukup besar untuk menjadi
juara. Otaknya juga pinter. Ngelirik Risma. Cantik, putih, pinter, pake
kerudung pula. Perfect sekali hidupnyaa. Presentasi nya juga bagus. Gue gak
akan pernah mau berdiri disamping dia. kalau dibandingin sama dia, mending gue
nyungseb sekalian. Novia.. udah gak usah ditanya lagi. Dia Ak1, di tim nya ada
Fitri dan Risma. Novia tinggal heuay bari peureum juga tim mereka pasti menang.
Ngelirik
tim 2. Icha, jangan di tanya. Nilai rata-rata rapot Ak nya 90, sedangkan gue 82
aja dapt ngiceupan Pa Dudy. Dewi, si Jenius super. Juara TO se jurusan Ak, yang
berarti juara se sekolah. Anggia, sabelas duabelas sama si Icha.
Tim
gue, Susi, temennya Risma dan Dewi. Pasti pinter, gue gak meragukannya.
Ngitungnya cepet. Indah, sama kayak Susi. Lha gue? Satu-satu nya Ak 4 yang
nyungseb disini, ditengah-tengah orang pinter, dan gue tentunya gak ada apa-apa
dibanding mereka.
Dengan
otak gue yang pas-pasan, dengan kemampuan dan doa, gue belajar. Menghapal
buku-buku Ak yang hapir di kilo, membaca soal-soal Ak yang bejibun. Gue gak
memprioritaskan untuk menang. Gue hanya ingin melakukan yang terbaik. Setidaknya
gue gak malu-malu in tim gue karena gue yang paling bego.
H-1,
gue nganterin ade gue ke kote. Mau audisi masuk QFent dia. ade gue yang mau
audisi, tapi malah gue yang dag-dig-dug seeeeeeer.
Kalo
temen-temen yang lain pasti pada lagi ngapalin buat lomba, gue lagi melihat
kiko cs yang lagi melototin ade gue yang nge cover t-ara.
Hari
H. gue dateng ke sekolah jam 05.37. udah ada Dewi dan Susi. Kita emang janjian
jam 05.30 disekolah. Karena katanya jam 7 harus udah ada di UPI. Sekitar jam 6
kami berangkat dengan menggunakan espase. Iya mobil espase. Mobil yang harusnya
berisi 6 orang sebagai penumpang itu di dedet menjadi 11 orang. Sama Pak Didi
sebagai sopir berarti 12 orang. Pak Didi, wakasek kesiswaan dijadikan Sopir
sama anak Ak. hahay..
Didalam
mobil yang berdesakkan, Icha mulai mengeluarkan latihan soal yang bejibun. Gue
ngikutin, biar pinter cerita nya. Tapi di rasa-rasa, membaca dengan
berdesaakkan seperti ini hanya membuat perut menjadi mual dan ingin muntah. Gue
tutup tuh soal, dan mengalihkan perhatian ke luar kaca mobil. Memandangi
jalanan sepertinya lebih baik. Pikiran gue: abang kitty kuliah gak ya? Apa
mungkin gue ketemu dia di UPI? Kalau seandainya pre eleminasi tim gue gagal,
dari pada bulukan nungguin yang masih lomba, mendingan gue kabur dan
mengelilingi UPI untuk menemukan pangeran hello kitty gue. Kalo gue lolos
pre-eleminasi, gue masuk semi final… Ah jangan berharap banyak. Lakukan aja
yang terbaik.
Sampai di UPI, kita parkir di
sebelah PKM. Gue dan Novia bernostalgia LSF sejenak. eh ternyata lombanya di
BPU, bukan di PKM. Kita berjalan menuju BPU. Dengan ditemani bu Nina dan Pak
Edo, kita disambut sama panitia dari Ansira (pekan akuntansi raya). Disambut
juga sama teteh—siapa ya, gue gak tau namanya—pokoknya teteh itu yang bakal
jadi pembimbing kita selama lomba berlangsung.
Gue dan yang lainnya memasuki Balai
Pertemuan itu. yang pertama gue lihat adalah ada lima buah meja berjejer.
Dimeja tersebut masing-masing terdapat nama: TIM A, TIM B, TIM C, TIM D dan TIM
E. gue yakin meja itu akan di pakai untuk semi final dan final ceras cermat.
Dan entah kenapa, gue punya feeling, gue bakal menempati salah satu meja
tersebut.
Gue
duduk di kursi peserta, menghadap ke lima meja tersebut. Sebelah kanan gue
Indah, dan sebelah kiri Susi. Mereka tampak tegang. Kok gue enggak ya? Gue
inget gimana rasanya tegang dan gugup itu waktu lomba baca berita waktu LSF
dulu, terus waktu tahun lalu pas lomba PMR, terus pas ngerjain laporan keuangan
pada saat ujian kompetensi. Dan terakhir gue dag-dig-dug seeeer adalah kemarin,
saat ade gue joget di depan isol. tapi sekarang gue sama sekali gak deg-degan.
“indah, deg-degan ya?” tanya gue.
Indah mengangguk. “kamu?” tanya nya. Gue menggeleng pelan—dengan wajah
blah-bloh— “enggak” jawab gue.
“aneh ih, kamu gak normal!” katanya.
Baru nyadar, Ndah?. Gue melirik kearah Susi. Dia nge play musik dari hp
nya, biar relax mungkin. Gue bosen kayak gini. Gak banyak yang bisa gue obrolin
sama mereka, sama tim yang lain juga. Mereka pada serius dan tegang. Sedangkan
Bu Nina menyuruh kita untuk tidak tegang. Ya udah gue enjoy. Gue berbisik pada
Indah,”Indah, kok disini gak ada cowok ganteng ya?”.
Setelah—entah lah itu siapa—membuka
resmi ansira ini, kami para peserta lomba LCTA dibawa ke gedung FPBS untuk
pre-eleminasi. Setelah ber hwaiting ria sama Ani, gue
mengikuti teteh menuju gedung FPBS. Ada
beberapa kelas yang ada mahasiswa yang sedang kuliah. Dikit-dikit gue curi-curi
pandang. Ada abang kitty gak ya? Ya gak ada lah. Ini kan FPBS!!!.
Teteh pembimbing yang cantik, putih,
tinggi itu berhenti di depan sebuah kelas. Ternyata itu kelas C. dan tim gue
kebagian ngerjain study kasus dikelas itu. kita terpisah dengan tim 1 dan 2.
Mungkin tim 1 dikelas A dan tim 2 dikelas B. tapi kenapa gue harus dikelas C
???!!!
Soal Study kasus dibagikan.
Kesepakatan awal adalah Susi dan Indah mengerjakan Praktek, dan gue Teori yang
berjumlah 30 soal. Oke, satu bundle soal kita bagi. Gue kebagian 99 persen
kertas soal. Karena soal praktek untuk Susi dan Indah hanya satu lembar.
Setelah selesai semuanya, soal dan
jawaban dikumpulan, kami semua kembali ke BPU. Dari 23 tim yang bertanding,
hanya ada 10 tim terbaik yang akan masuk ke semi final. Dan 4 tim dari 10 tim
tersebut yang akan masuk final.
Ba’da dzhuhur 10 besar akan
diumumkan. Kita solat dzhuhur dulu deh~. Di mesjid, gue masih curi-curi
pandang, mungkin aja ketemu abang kitty yang lagi solat dzuhur. Kembali ke BPU,
kita makan siang dan menunggu pengumuman. Disela-sela makan siang icha kembali
membuka soalnya yang bejibun. Dewi sedang memainkan hape nya. Setelah dilihat
lebih saksama, ternyata dia sedang membaca soal dari Microsoft word yang dibuka
melalui hape androidnya. Ya ampuuuun! lha gue? Gue malah pengen joget lagu sorry- sorry yang
lagi di play sama panitia.
Kata
Icha dan Dewi,” setidaknya salah satu tim dari kita masuk ke semi final. Masak
kita kalah sih? Kita pulang dong kalo gitu”. Kata Bu Nina, kalau ada satu yang
masuk semi final, tapi yang lainnya enggak, yang lainnya gak boleh pulang.
Pulangnya ntar bareng-bareng. Berarti kita nunggu in sampe final itu beres. Dan
kata Icha, taun kemarin dia pulang ke rumah jam 9 malem. Mungkin sekarang juga
bakalan kayak gitu,— kalau ada yang masuk final. Untuk itulah gue berniat
ngubek kampus ini untuk nyari abang kitty daripada ngunggu in tim yang masuk
final.
10 tim terbaik yang akan berlanjut
ke babak semi final segera di umumkan. Panitia mengumumkan nama tim dari
sekolah satu persatu.
“yang akan masuk ke babak semi final
adalah… SMK 2 Sumedang tim 1! SMK 11 bandung tim 2, SMKN 3 Bandung tim 2…” tim icha masuk semi final! dan
blablabla… gue gak terlalu memperhatikan.
“Tim
ke-8 yang masuk semi final… SMKN 3 Bandung!.. ” yee.. gue tepuk tangan biasa.
“TIM 3!” TIM GUE MASUK???
“INDAAAAH…
SUSI… TIM KITA MASUK!!!” kata gue panik. Susi ikut panik. Indah tetep stay cool
sambil melempar senyum bahagia.
“SUSIII…
AYO KITA MENGHAFAL BUAT PRESENTASI. TAPI APA YANG HARUS DI HAFALIN??” kata gue
yang masih panik.
“EMANG KITA BAKALAN MASUK FINAL???”
kata Susi. Hehehe, iya ya.
Dalam semi final ini, dibagi menjadi
2 sesi. dalam masing-masing sesi terdiri dari 5 tim dan akan dipilih 2 tim
terbaik untuk melaju ke babak final. kata Icha, biar tim kita masuk sama-sama
final, kita harus beda sesi, icha sesi satu dan gue sesi dua. Dengan cara itu
peluang untuk masuk final lebih besar. Gue iya iya aja.
Yang menentukan kita masuk sesi satu
atau dua ialah guru pembimbing. Dan guru pembimbing kita yaitu Pak Edo. Ayo
Pak, nyawa kita ada di tangan mu!! Pak Edo maju ke depan untuk memilih nomor
yang menentukan tim kita masuk sesi mana. Dengan harap-harap cemas Pak Edo
mengambil nomor yang ada dalam mangkuk aquarium tersebut. Setelah itu pak Edo
memberikan nomor tersebut pada panitia.
“SMKN 3 BANDUNG TIM 2 akan berada
dalam sesi pertama grup B” kata panitia. Berarti gue harus ada di sesi kedua.
Pak Edo mengambil satu nomor lagi.
“SMKN 3 BANDUNG TIM 3 akan berada
dalam sesi pertama grup C”. beuh, kita dalam satu sesi. Jadi tim kita harus
bersaing untuk masuk final. bersaing? Enggak ta. Lakukan aja yang terbaik. Dan
tim Icha bukan lah saingan gue. Mereka pasti bisa masuk final dibandingkan
dengan tim gue.
Setelah 10 tim terbagi kedalam dua sesi,
sesi pertama memulai untuk cerdas cermat babak semi final. JEJEJENG!!! Semua
tim menempati posisinya masing-masing.Icha tim B, gue tim C. KENAPA GUE HARUS
TIM C ???
Dalam semi final ini dibagi menjadi
tiga babak. Babak point envelope, babak jatah dan babak rebutan. babak point
envelope yaitu babak dimana setiap tim harus mengerjakan soal yang ada di dalam
amplop. di amplop tersebut terdapat
point, ada 50, 100 dan 150. Tiap tim
berhak mengambil salah satu amplop, kemudian mengerjakan soal tersebut. Jika
telah mengerjakan satu amplop, soal dan jawaban diberikan kepada juri dan tim
boleh mengambil amplop selanjutnya untuk di kerjakan kembali. Jika jawaban
benar mendapat score sesuai dengan point yang terdapat pada amplop tersebut.
Jika jawaban salah hanya mendapat setengah dari poin yang tertera. Waktu
mengerjakan soal amplop tersebut ialah 10 menit. Gue berdiskusi dengan parter
gue, Indah dan Susi.
“Mau milih amplop dengan point berapa nih?
Menurut gue, point tersebut sesuai dengan tingkat kesulitan soal. Kalau 50,
berarti soalnya gampang, 100 sedang dan 150 sulit. Gimana?”
“ya
udah ambil jalan tengah nya aja. Ambil yang 100” kata indah.
“siapa
yang mau ngambil amplopnya?” tanya gue. Tanpa diberi komando, gue dan Indah
melirik kearah Susi.
“jangan
Susi ah, kalau Susi yang ngambil, pasti gak beruntung” kata Susi.
“Jarak
kamu kan ke meja amplop lebih deket” kata Indah. Oke, Susi kalah.
Setelah
bel dibunyikan tanda babak point envelope dimulai, Susi langsung menambil
amplop di meja amplop yang jaraknya cukup dekat—bahkan sangat dekat dengan meja
kami. Setelah berebut amplop dengan tim A, akhirnya Susi mengambil amplop
berpoin 100. Dengan ganas Indah merobek amplop tersebut dan mengeluarkan soal
di dalamnya.
Di
dalamnya. Terdapat satu soal dan dua lembar jawaban. Ternyata lembar jawaban
tersebut adalah jurnal pembelian dan pengeluaran kas. Dan soalnya ialah
transaksi dalam satu periode yag berlangsung selama bulan juli. Mantap! Susi
mengerjakan jurnal pengeluaran kas, dan indah jurnal pembelian. Gue yang membacakan
soal sekaligus memilih transaksi mana yang harus dicatat kedalam kedua jurnal
tersebut.
Baru
mengerjakan sampai tanggal 22 juli, waktu habis. Dengan berat hati, kami
kumpulkan soal dan jawaban tersebut pada juri. Tim lain pun sama. Hanya tim B,
tim nya Icha yang mampu mengerjakan dua amplop dalam waktu 10 menit.
“tuh
kan, makannya jangan Susi yang ambil” kata Susi menyalahkan dirinya. Udah lah,
gwaenchana~ kita juga gak tahu soalnya bakalan seperti itu.
Babak
jatah. Seperti dalam cerdas cermat umumnya, babak jatah yaitu babak dimana
masing-masing tim berhak memilih satu dari 5 soal yang di sediakan. Kemudian,
tim harus menjawab soal tersebut. Apabila jawaban benar mendapat score 100, dan
jika salah tidak mendapat score dan score
tidak dikurangi. Gue berbisik pada Susi dan Indah. Mau pilih soal apa?
A, B, C, D atau E?. Susi menggelengkan kepalanya. “jangan tanya Susi” katanya.
Gue lirik Indah. “ta, yang disuruh milih soal itu tim A, bukan tim C”.
Tim
A memilih soal B. panitia membuka soal B dan membacakannya. Kemudian tim A
menjawab. Begitu seterusnya. Sampai giliran tim gue yang memilih soal. Gue
melirik partner gue lagi, “yang mana nih? Tim A milih soal B. tim B milih soal
A. tinggal tersisa soal C, D, dan E”
“terserah
aja” kata Indah.
“E
aja gitu?” kata gue.
“kalau
dari nilai sih, nilai C lebih bagus dari nilai E” kata Susi. Bener juga. “soal
C aja?” tanya gue. Indah dan Susi mengangguk mantap.
“Tim
C. mau pilih yang mana?”tanya panitia.
“C”
jawab gue. Saudara-saudara, lagi-lagi gue milih huruf C.
Panitia
membuka amplop C dan membacakan soal. Dalam sesi jatah seperti ini tiap tim
kebagian 5 soal. Soal pertama
“the
term of.. blablabla—soal bahasa Inggris— is?” kata si pembaca soal. Gue lirik
Susi. Dia geleng kepala. Indah, geleng kepala juga. teeet. Timer menekan bel.
Waktu habis. Gue gak bisa jawab soal pertama. Oke,masih ada 4 soal lainnya. Dan
blablabla, jatah tim gue untuk menjawab soal selesai. Soal pun telah dibacakan
semuanya. Dan score yang diperoleh tim gue adalah 100. Tim gue Cuma bisa
menjawab 1 dari 5 soal :'(. Giliran tim D kemudian tim E yang
menjawab sesi jatah ini. sesi jatah pun berakhir. Score akhir dari sesi jatah
ialah… JENG JENG JENG… tim gue paling kecil. Tim nya iche punya score 300.
Semangat ta!. Masih ada sesi rebutan.
Di
sesi rebutan, akan ada 15 soal yang di bacakan. Jika jawaban benar akan
ditambah 100 point dan jika salah akan dikurang 100. Oke, gak boleh salah ini
mah. Tangan gue siap di atas bel.
Soal
pertama. “apakah blablabla—gue lupa soalnya apa—“
TEEEEEEEEEEET!
Gue pencet bel se keras mungkin. Dan gue jawab pertanyaannya.
“seratus
untuk tim C”
soal
kedua. Blablabla. Gue pencet lagi bel
nya se cepat mungkin. Dan juge jawab pertanyaannya. “seratus untuk tim C” .
Dari bangku penonton Fitri terlihat senang karena gue bisa menyusul. Pertanyaan-pertanyaan
berikutnya mengalir apa adanya. gue gak inget gue bisa jawab pertanyaan yang
mana aja, yang penting kalau gue gak tau Indah atau Susi yang pencet bel,
kemudian mereka membisikan jawabannya, dan gue yang menjawab pertanyaan itu.
gue gak ingin juara. Tapi gue orangnya gak mau kalah—Kalian bakalan tahu, kalau
kalian pernah debat sama gue—. Termasuk dalam semi final ini. gue gak mau
kalah, gue mengerahkan seluruh kemampuan yang gue punya.
Pertanyaan
terakhir. Gue berambisi, pokoknya, soal terakhir ini punya gue!! Suasana menjadi makin panas. Tangan gue makin
dingin karena AC dibelakang gue gak berhenti ngasih angin.
“jika
dalam FOB Shipping point, maka blablabla… biaya angkut ditanggung oleh…”
TEEEEEEEEEET ! gue pencet lagi bel itu. Semua mata tertuju pada tim gue.
Seinget gue, Shipping point tuh pembeli, Destination point itu penjual—yang gak
tahu akan hal ini, belajar lah akuntansi peruhsahaan dagang— tapi gue ragu, gue
ngelirik Susi. Dia komat-kamit sambil bilang: penjual.
“PEMBELI”
jawab gue dengan pasti.
“SERATUS
POINT UNTUK TIM C”
Yeeeeeeeeee…
akhirnya gue bisa mengeksekusi soal terakhir itu!. ya, sekarang gue inget,
kalau shipping point itu pembeli, Destination point itu penjual. Cara
mengingatnya adalah: gue inget temen gue namanya Desti, dia jurusan pemasaran.
Yang namanya pemasaran itu menjual. Berarti pemasaran=penjualan. Karena Desti
itu pemasaran, berarti Desti itu penjual. Maka dari itu FOB Destination point
itu penjual. Kalau Destination penjual, berarti sisanya pembeli, berarti FOB
Shipping point itu biaya angkut nya ditanggung oleh pembeli. Thank you Desti~
Gue
tepuk tangan karena bisa menjawab pertanyaan terakhir.
“Score
akhir dari babak semi final sesi pertama adalah… JEJEJENG!!! Gue melihat layar
infokus yang gede banget. Melihat score. Tim gue 450. Tim Icha 350. Yee gue
unggul.
“Tim
A dengan score 300, tim B 350, tim C 450. Tim D 400 dan tim E 550” kata
panitia. Gue tepuk tangan. “dan yang lolos ke babak final adalah Tim C dari
SMKN 3 Bandung dan Tim E dari SMKN 11 Bandung. apaaaaaaaaaaa??? Tim gue masuk final. gue
saling pandang dengan Susi dan Indah. Mereka terihat tidak percaya dengan apa
yang terjadi. Apalagi gue. Gue dan yang lainnya kembali ke bangku peserta.
Berasa abis bangun tidur, gue menumpulkan nyawa yang entah berada dimana. Gue
masuk final! dan rencana gue untuk nyari abang kitty gagal!
Icha,
selaku tim yang kalah dalam pertempuran menghampiri gue. “ngafalin ta!” katanya
berapi-api. Dia tahu gue orangnya jarang buka buku. Tapi hal itu di cegah oleh
bu Nina. “sekarang bukan waktunya untuk menghafal. Udah aja relax. Percuma
ngafalin juga kalau gugup nantinya malah blank”. Bener juga kata bu Nina. Gue
solat ashar dulu deh sambil tenangin pikiran.
Gue
lirik syaf cowok. Gue gak lihat abang kitty di FPBS,mungkin aja gue ketemu dia
pas lagi solat. Tapi gue cari-cari, dia gak ada. Gue baru sadar, yang gue cari
itu bang kitty, bukan si babo. Jangan sama kan bang kitty dengan babo, Ta. Bang
kitty gak babo. Gampang kalo nyari si babo, kalo gak di kelas ya di
mesjid. Bang kitty? Je ne sais pas.
Kembali
ke BPU, lagi babak semi final sesi kedua. Gue cuma nonton tim yang sedang
bertanding. Sesekali Icha mendekati gue sambil bilang, “amortisasi adalah
penyusutan aktiva tetap tidak berwujud. Cara perhitungannya ada dua, yang
pertama itu dengan metode garis lurus dan yang kedua itu dengan bunga efektif”.
Gue ngangguk-ngangguk. Jujur, sampai saat ini gue gak siap dengan babak final.
di babak final itu ada sesi presentasi. Dan gue gak siap untuk sesi itu. apa
yang harus gue presentasi kan? “semua yang berhubungan dengan akuntansi.
Seperti aktiva, passiva, kas kecil, rekonsiliasi bank, laporan keuangan” kata
bu Nina dan bu Ima. Terus ntar gue presentasi apa?.
Hasil
dari semi final sesi kedua, yang masuk final itu dari SMKN 1 bandung—musuh
bebuyutan—dan SMKN 11 bandung. Tuh kan, SMK 11 ada di sesi satu dan dua, dan
keduanya masuk final! berarti lawan gue ialah smk 1 dan dua tim dari smk 11.
Eotteokke eonni??
Gue
gak habis pikir, kenapa Risma si cantik, pintar dan low profile, Fitri yang
berambisi untuk menang, Icha yang nilai rata-rata Akuntansi nya 90, Dewi si
juara umum TO, gak masuk final. sedangkan gue—yang alaaah cewek yang pas-pas an
begini masuk final—. Semuanya pasti kembali pada Allah. Ini jalan Allah. Segala
rezeki telah diatur oleh Allah. Bukannya gue gak bersyukur, tapi gue gak siap
untuk presentasi itu. Pasti mereka lebih siap dibanding gue.
“Doa
kan ya teman-teman, transfer kan ilmu kalian!! Kalau perlu kita tukeran otak!!”
kata gue. Risma Cuma tersenyum hambar mendengar ocehan gue itu.
Hiburan
yang diadakan oleh panitia gak bikin gue terhibur. Anak-anak SMK 11 dengan
riang gembira joget-joget di depan bareng band yang sedang bernyanyi. Kata
Fitri mereka optimis untuk menang—balas dendam karena tahun lalu satu pun dari
mereka gak lolos di babak pre-eleminasi—. Gue juga optimis menang. Tapi rasa
optimis gue gak sebesar rasa optimis mereka—dari awal kan gue gak niat untuk
menang— ditambah lagi Novia minta gue untuk bawa kembali piala bergilir. Tanpa
terucapkan, teman-teman yang lain pun menginginkan hal yang sama. Meminta gue
untuk menang. Dan bagi gue itu merupakan beban tersendiri yang gue dapet dari
mereka. Kenapa jadi beban? Gue bener-bener gak siap dengan presentasi. Susi…
indah… gantiin gue untuk presentasi dooong…
Tapi
itu semua gak bisa. Ketua tim lah yang harus maju untuk presentasi. Anggota tim
lainnya boleh membantu apabila ketua tim lupa. Indah, disebelah gue. Dia lagi
menahan rasa maag nya yang sedang kambuh. Kata Novia, ini sering terjadi. Kalau
Indah berada diluar rumah sampai lewat dari jam 3 sore, maag nya pasti kambuh.
“terus
sembuhnya gimana?” tanya gue.
“kalau
kayak gini biasanya langsung tidur”kata indah. Dalam hal seperti ini Indah gak
boleh tidur. Dan untuk maju ke babak final dia gak bisa digantikan. Dan dalam
hal seperti ini, yang hanya bisa Indah lakukan yaitu bertahan. Semangat Indah…
kita pasti bisa!
Babak
final dimulai. Masing-masing tim dipersilakan untuk menempati meja nya
masing-masing. Dalam babak final ini gue kebagian di meja pertama, yaitu tim A.
kenapa harus tim A? ada beberapa huruf yang gak gue suka, yang pertama huruf C,
yang kedua huruf A, dan yang seterusnya adalah N, D, R, A. udah, gak usah di
bahas.
Kenapa
gue gak suka huruf A? huruf A itu pertama! Dan pastinya dalam presentasi kali
ini gue yang pertama maju. Nice!
Gue
menempati meja A. gue duduk di tengah. Seperti biasa, Susi di samping kanan gue
dan Indah disamping kiri gue. Bener aja, gue di persilakan untuk membuka babak
final dengan presentasi pertama. Dengan bismillah gue mengambil satu kertas
dari wadah aquarium itu. berasa miss universe, gue harus mempresentasikan apa
yang tertulis dalam kertas tersebut. Dengan perlahan gue buka, kertas itu bertuliskan
PENYUSUTAN. mampus!
Dengan
banyak membaca bismillah, robbishrohliishodri wa yashir lii amri wahlul
ukdatamillisani yaf khohu kouli—baca doa— sambil sesekali melirik Bu Nina, pak
Edo, Bu Ima, dan teman-teman yang lain di bangku penonton, gue membuka
presentasi,
“assalamualaikum
warrahmatullah hi wabarakatuh… nama saya Sinta. Disini saya mewakili tim A dari
SMK Negeri 3 Bandung akan menjelaskan tentang penyusutan. Penyusutan adalah… “
gue diem sejenak, mencari kata yang tepat, penyusutan itu apa? Gue gak banyak
baca pengertian dari kata ‘penyusutan’.
“cara
yang dilakukan perusahaan untuk menyusutkan aktiva tetap”lanjut gue. “metode
penyusutan, dibagi menjadi beberapa metode, yang pertama yaitu metode garis
lurus,” dan blablabla gue menjelaskan tentang metode-metode penyusutan. Setelah
itu gue bingung mau ngomong apa lagi. “cukup” kata gue ke dewan juri.
“cukup?”
tanya dewan juri. “kamu masih memiliki waktu 3 menit lagi”.
Presentasi
ini maksimal 5 menit. tapi apa yang harus gue omongin lagi?. Gue lirik Susi
yang ada di belakang. Bantu dong Suuus! Apa lagi nih?
Susi komat kamit: penyusutan aktiva
tidak berwujud amortisasi.
Ah!
Gue lupa dengan yang satu itu. gue copy kata-kata Icha tadi, “penyusutan aktiva
tidak berwujud dinamakan amortisasi. Cara perhitungannya ada dua, yang pertama
itu dengan metode garis lurus dan yang kedua itu dengan bunga efektif” dan
blablabla.
“cukup sekian” kata gue mengakhiri
presentasi tersebut. Selanjutnya dewan juri memberikan 5 pertanyaan buat gue.
Pertanyaan yang pertama “apa yang dimaksud dengan penyusutan?”
Mati
lah awak! Penyusutan? Penyusutan
ya penyusutan dewan juri! Gue lirik Susi, cara yang digunakan perusahaan
untuk menyusutkan aktiva tetap. Baik berwujud maupun tidak berwujud. Gue
copy paste kata-kata Susi. Walaupun gue yakin, jawaban itu tak memuaskan para
juri. Pertanyaan kedua, “jelaskan yang dimaksud dengan metode penyusutan double
declining metode”.
“double declining metode adalah
penyusutan yang di hitung menurut presentase penyusutan yang di kali dua.
Perhitungannya ialah presentase dari metode garis lurus dikali kan dua” jawab
gue. Itu bukan jawaban yang tepat, Ta! Seinget gue, cara perhitungan dari double
declining metode cukup rumit untuk dijelaskan—gue sendiri aja gak ngerti—
jarang menemukan soal ini sih dalam pelajaran sehari-hari. kalau pun ada,
biasanya gue ngitungnya pake cara cepat yang diajarkan oleh Alma dan Anggia.
Langsung aja presentase dari metode garis lurus dikali dua. Beres!
“apakah semua aktiva tetap
disusutkan?jelaskan”
Gue
tahu, jawabannya tidak. dan saat gue melirik Susi, dia menggelengkan kepalanya.
“Tidak. tidak semua aktiva tetap mengalami penyusutan. Aktiva tetap yang
mengalami penyusutan adalah mesin, peralatan, kendaraan, dan aktiva tidak
berwujud. Tetapi tanah, merupakan aktiva tetap yang tidak mengalami penyusutan”
Dan dua pertanyaan berikutnya gue
bisa jawab. Tapi gue gak yakin jawaban
gue itu bener. Mood gue terjun bebas setelah presentasi itu. gue kembali duduk
di meja A. adzan maghrib dikumandangkan. Peserta babak final diperbolehkan
untuk solat maghrib terlebih dahulu. Karena Susi dan Indah sedang berhalangan,
gue langsung ngacir ke mesjid bareng temen-temen gue yang jadi penonton. Pengen
nangis gue… presentasi gue tadi jelek…
Gue
berjalan paling belakang saat menuju mesjid.
Depan gue bu Nina dan Icha yang sedang asik berbincang. Mereka gak nyadar,
kalau gue ada di belakang mereka.
“emang
bener ya bu, mempertahankan piala itu lebih sulit dari pada merebut” kata Icha.
Bu Nina mengiyakan. Icha mulai hopeless sama gue. Gue juga emang gak bisa
diharapkan. Bunuh lah aku!!!!!
Saat
matahari terbenam, solat maghrib di dirikan. Saat itu semua menjadi gelap.
Langit gelap, sehingga gue menginjak kubangan air yang tak terlihat. Pak Didi
yang sudah menjemput pun terlihat gelap. Hati gue, perasaan gue, semua yang ada
dalam diri gue juga ikut gelap setelah mendengar ucapan Icha barusan. Mengingat
presentasi tadi, gue merasa gagal dalam lomba ini. terlebih lagi gue merasa gagal
menjadi seorang murid. Buat semua guru-guru Akuntansi, maafin murid yang penuh
dosa ini, Bu Nina, Pak Edo, Pak Iwan, Pak Dudy, Pak Redi, Bu Dewi, Bu Ima,
Bapak Luca Paciolo~ maafkan aku~~ Dalam solatnya, bu Nina sujud lamaaa banget.
Ibu minta apa? Jangan minta sinta untuk menang bu. Sinta pengen menang, tapi
sinta, susi dan indah gak kuat untuk menanggung semuanya.
Balik
lagi ke BPU, giliran tim B dari SMK 11 yang presentasi. Mereka dapet materi
tentang rekonsiliasi bank. Materi yang cukup mudah untuk di presentasikan.
Ketua tim B cowok, dia baceprot menjelaskan rekonsiliasi. Itu membuat
gue nyungseb. Pengen pulang, gak mau disini, mood gue terjun bebas . Tim selanjutnya dapet materi
tentang laporan keuangan. Itu juga gampang. Kenapa gue dapet penyusutan! Semua
gak bakalan kayak gini kalau lo belajar lebih serius. Kata-kata itu terus
muncul dipikiran gue seperti mendengar lagu dari kaset yang sudah rusak.
Dari
babak presentasi, tim gue Cuma dapet nilai 235, tim yang lain ada yang 300 dan
sebagainya. Intinya, tim gue paling kecil. Maafin gue Susi, Indah… mari
membalas kekalahan… —loyo—
Babak
jatah, gue Cuma bisa jawab 2 dari 5 pertayaan. Babak rebutan, gue gak bisa ikut
rebutan. kenapa? Pertama, gue kalah cepet. Bel yang ada di meja A ini gak se
epos bel yang ada di meja C tadi. Kedua, gue emang gak mood untuk berjuang
lagi. Begitu pun dengan Susi, dia hanya memainkan kalkulatornya pada saat soal
hitungan bahasa Inggris. Dia gak menghitung, gue juga gak menghitung karena
hilang konsentrasi. Indah juga sama, seharusnya dia menulis angka yang
disebutkan oleh pembaca soal. Dia masih menahan perih di lambungnya pula.
Intinya, kita sama-sama gak konsen. Yang di pikiran kita adalah : pembaca
soal ngomong apa sih? Angka yang disebutinnya berapa? Soal yang ditanyakan apa?
Nett sales? Nett purchase? Nett profit? Cost of goods sold? Atau apa?.
Hasil
akhir, tim kita dapet juara harapan satu. Tim B dari SMK 11 dapet juara
pertama, juara kedua tim D, SMK 11 juga, juara ketiga tim C SMK 1. Kami saling
berjabat tangan sambil mengucapkan ‘selamat ya!!’. Tapi kata-kata itu terasa
hambar di dengar. Setelah itu gue berjalan menuju teman-teman dan guru-guru.
Gue cium tangan bu Nina, bu Ima, Pak Edo, Pak Didi, sambil bilang “maaf ya gak
bisa bawa pulang juara satu”. Mereka bilang gak pa-pa sambil menepuk
pundak gue.
“gak pa-pa, udah bagus kok” kata
Novia dan teman-teman lainnya. tetep aja pengen nangis!!! Apa gue harus harakiri?.
“Ta,
gak dapet mendali? Ih kenapa ya? Tahun kemarin aja, aku yang gak juara dapet
mendali loh” kata Icha. Huwaaaaaa tambah pengen nangis!
“Icha…
gak usah ngomong gitu deh” kata Novia. Thanks Novia.
Setelah berfoto-foto sedikit dengan
para pemenang yang lain—foto
yang hambar pastinya—, mobil espase yang tadi pagi
mengantar kita telah menunggu di depan BPU untuk menjemput pulang. Kalau juara
satu, kita gak mungkin di jemput pake espase. Kita pasti di jemput pake bus.
Orang tinggi piala nya se tinggi Ufiya Izmi, mana muat kalo dimasukkin ke
espase. Kalo si Uppy di lipet-lipet terus di dempet di espase cukup. Lha piala?
Mana mungkin di lipet-lipet. Dan kalau juara satu, pialanya dapet dua. Satu
piala juara satu, dan satu piala bergilir dari Gubernur.
Tapi kita gak dapet juara satu, kita cuma
dapet harapan satu. Pialanya juga muat masuk ke dalam espase yang sudah sempit
naudzubillah. Piala itu muat dengan hanya gue pangku di bangku depan. Maaf ya teman-teman… gue gak bisa bawa piala yang
tingginya tinggi banget—kalo foto sama piala itu berasa foto sama ade
sendiri—maaf juga, karena presentasi buruk dari gue, kalian masih harus
berdesakkan dalam espase, maaf gak bisa ngasih bus untuk kalian pulang.
Selama perjalanan pulang, suasana
dalam mobil sepi. Tidak terdengar ocehan apapun. Tak ada lagi yang membaca soal
dalam mobil, tak ada yang bersenda gurau, hanya sesekali Pak Didi melemparkan
ocehan untuk mencairkan suasana. Gue sendiri masih melamun, melamun apa yang
baru saja terjadi. Presentasi yang amat
buruk, piala di pangkuan gue yang gak kalah buruk, seharusnya gue bisa bawa
pulang piala gede dan ngasih bus buat temen-temen gue!
“Sinta, Susi, Indah. Ketiganya
sama-sama anggun. Gak ada yang baceo.” kata Bu Nina yang ada di sebelah
gue. Cuma Bu Nina yang bilang gue anggun, kalo temen-temen sekelas gue denger,
pasti mereka bilang: FITNAAAH!!
Mungkin menurut Bu Nina, faktor
ke’anggun’an gue itu yang menyebabkan gue kalah dalam babak presentasi. Bukan
bu, bukan faktor itu. emang gue gak mempersiapkan lebih serius untuk
presentasi. Lebih tepat nya untuk lomba ini. gue gak nyangka sama sekali buat
masuk final. gue malah berniat untuk mengelilingi UPI demi mencari abang kitty
dari pada menunggu yang sedang beradu final. eh malah gue yang masuk final. jadi
emang gak ada persiapan apapun dari gue.
Gue masih melamun sambil sesekali
melihat bulan yang tergantung di langit. Menurut gue, babak final tadi tuh
kayak sebuah perang. Perang melawan para penjajah demi memperebutkan piala yang
akan menentukan kekuasaan. Tim lawan siap berperang dengan membawa bazoka,
rudal, meriam, gas air mata dan peralatan perang lainnya. Tim gue hanya membawa
peralatan seadanya. Susi membawa senapan angin, tapi ia merasa ragu untuk
menembakkannya kepada musuh. Indah membawa sebungkus obat promaag untuk
memerangi rasa sakit di lambungnya, sedangkan gue hanya membawa ketapel. Ya kita
kalah.
Ujian tanpa belajar juga sama aja
dengan bunuh diri. Sama aja dengan mau perang dengan bawa ketapel. Tetep kalah.
Lomba kali ini juga. kenapa gue Cuma bawa ketapel? Gue jadi kalah kan?!
Harakiriiii~
Pak Didi memberhentikan espase di
sekolah. kami pun turun dari mobil tersebut.
“bapak mau kearah sapan, yang searah
bisa ikut”kata Pak Didi. Gue kembali naik kedalam mobil. Didalam mobil ada
Fitri, Aan, Novia, Anggia dan Ani. Kata Pak Didi dari sapan bakalan putar balik
ke Kopo. Jadi Anggia dan Ani ikut dalam mobil. Gue duduk di bangku tengah,
sebelah gue Fitri yang baru bangun tidur. Piala udah di titipkan di pos satpam.
Gue pengen nangis mengingat piala itu. akhirnya suara rintihan gue keluar.
“suara siapa itu?” kata Anggia
tiba-tiba.
“serem ih, inta! Kayak setan tauk!”
Novia melanjutkan. Oke gue gak boleh nangis. Pak Didi bisa nabrak tiang kalo
tau ada setan dalam mobilnya.
Aan turun duluan di sekelimus. Gue
menyusul dengan turun di logam. Dan gue pulang dengan dijemput mang ojek yang
selalu setia~
Itulah cerita tentang Lomba Cepat Tepat
Akuntansi. Dari lomba kali ini, banyak pelajaran yang gue dapat. Yang pertama,
gue jadi pengen kayak Risma, yang baik, cantik, pinter, tidak sombong dan pake
kerudung pula. Perfect sekali hidupnya, gak kaya gue yang masih berantakan. Gue
pengen sepintar Risma, tapi gue gak mau sombong dengan ilmu yang gue punya—yang
kenal sama gue, yang satu sekolah sama gue, yang satu kelas sama gue, pasti
tahu apa yang gue maksud—
Yang kedua, gue gak boleh meremehkan
hal yang terkecil sekalipun. Karena gue meremehkan belajar, karena gue sering
main-main dalam belajar, gue jadi gak siap untuk ikut lomba.
Yang ketiga, jangan bawa ketapel
kalau mau perang.
Yang ke empat, jangan mencampur
adukkan cinta dengan pelajaran.
Yang ke lima, udah ah gak usah
disebutin, ntar malah tambah ngaco. Cukup sekian posting kali ini. waaah cukup
panjang ya~ biarin aja. Diary gue ini. :P
Gue berniat untuk foto-foto setelah
gue beres final. karena gue kalah, gak ada satu pun dari kita yang mood untuk
berfoto, akhirnya gue edit ini foto buat jadi kenang-kenangan.
Yang warna merah, itu yang ikut
lomba,yang warna ijo, itu dicalonkan untuk ikut lomba, tapi mereka mengundurkan
diri.
Inilah persembahan terakhir dari gue,
Susi, dan Indah untuk SMK Negeri 3 Bandung tercinta. Maaf gak bisa bawa piala
yang gede.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar