| apa yang ada di pikiran kalian saat melihat foto ini? |
Foto
itu diambil di rumahnya alma,tepatnya tanggal 24 maret 2012 lalu. Enggak. Kita
enggak lagi pajama party. Lha gue sama idip aja masih pake baju seragam. Kita
sedang ber hem… berparty ria mungkin ya. entah apa yang di ‘party’ kan. Waktu
itu hari terakhir ujian sekolah, kalau gak salah mata pelajaran yang diujiankan
hari itu hanya bahasa Prancis. Jadi kita punya waktu yang cukup leluasa untuk
berkunjung ke rumah alma yang letaknya hm.. lumayan jauh.
Karena
hanya bahasa Prancis yang tertera dalam jadwal ujian, jam 10 pagi kita telah
berhamburan ke luar sekolah. kita berdelapan, tentu saja—gue, alma, ajeng, gia,
herni, uppy, ichell, dan idip— langsung mejeng di depan shapira menunggu damri
yang akan lewat. Kita sempet seneng karena dari jalan buah batu sana ada sebuah
bus yang muncul. Setelah diamati dengan saksama, ternyata itu bus TNI yang akan
bertugas menjaga keamanan dalam demo BBM -___-. Tapi gak usah nunggu lama, bus
yang telah kami tunggu-tunggu pun muncul. Bus kota yang sudah em.. tidak bagus
itu berhenti di hadapan kami. Kami harus segera masuk karena bus kota yang body
nya menghalangi jalan itu gak boleh berhenti semaunya dia. jadi kita buru-buru
masuk dan mencari tempat epos. Pemumpang damri pagi itu cenderung sedikit alias
damri lumayan kosong untuk kita tempati. Alhamdulilah dapet tempat duduk. Gue
dan herni duduk di bangku 2. alma, idip, uppy duduk bersama di bangku 3 depan
sebelah kanan gue. Di belakang mereka ada seorang kakek-kakek. Sedangkan ajeng,
ichell dan gia duduk di bangku 3, dibelakang kakek tersebut. Ini kedua kalinya
gue naik damri. Pertama kali gue naik damri itu bareng tiara dan kita nyasar.
pas baru ambil tempat di dalem tuh damri, alma udah lirik gue sambil bilang,”
tenang aja ta. Gak kan nyasar”. deeemm!
Perjalanan
yang cukup menyenangkan hari itu. dari dulu, dari waktu kelas satu dulu, kita
emang udah punya rencana untuk main ke rumah alma dengan naik damri. Tapi hari
itu kita bener-bener gak percaya. Apa yang dari dulu kita ingin kan, kita
cita-cita kan setelah melalui banyak rintangan, hambatan, godaan, haluan, dan
ancaman akhirnya tercapai juga. Hal itu terlihat dari wajah uppy yang
cengat-cengir terus di sepanjang perjalanan.
Gede
bage telah di lalui, kami pun harus bersiap-siap turun di depan jalan yang
memiliki gapura dan bertuliskan ‘komplek panyileukan’. Setelah sedikit cek-cok
dengan kernet bus karena uppy gak mau turun dari bus tersebut, akhirnya kita
turun juga dengan selamat sentausa di tengah jalan. kita turun di tengah jalan.
Lebih tepatnya kita berada di tengah-tengah jalan, pembatas jalan antara arus
menuju jarinangor dan arus balik menuju kota Bandung. Kita menyebrang jalan
dengan cepat menuju muka jalan yang bertuliskan ‘komplek panyileukan’. Tapi
tidak untuk ajeng. Ia menyebrang jalan kearah sebaliknya. Mau kemana jeeeeng???
Setelah
ajeng bergabung bersama kita, kita mulai melanjutkan perjalanan dengan
menggunakan angkot berwarna hijau yang menyerupai warna angkot GBA. Tapi itu
bukan angkot GBA, melainkan angkot jurusan panyileukan- apa lah gue lupa.
Setelah naik angkot itu, kita turun di sebuah jalan menuju SD Panyileukan 1 dan
3. Dari situ, perJALANan ke rumah alma baru dimulai.
Mendaki
gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman
bertualang~~. Tampaknya lagu opening ninja hatori itu memang tepat untuk
ekspedisi rumah alma kali ini. singkat cerita—biar gak panjang teuing— kita
sampai dirumah alma yang berwarna biru muda. Kita memasuki rumah alma dengan
malu-malu. Karena saat itu masih ada kakaknya alma, setelah kakaknya alma pergi
dan alma mengeluarkan makanan, disini kita mulai malu-malu in.Dimulai
dengan nonton chun yang, setelah itu uppy memarut jagung dan idip memotong
bonteng, hm… TIMUN!
Uppy
mulai mengoleskan jangung yang telah diparutnya itu ke wajahnya. Di susul
dengan ichell—dengan bantuan ajeng tentunya— kalau boleh jujur ya, gue gak
terlau suka sama masker jagung, gue gak terlalu suka dengan aroma jagung yang
telah diparut dan bubur jagung yang dioleskan ke wajah uppy dan ichell secara
merata itu tidak memperlihatkan kalau mereka bermasker jangung, melainkan
bermasker tahu! Kita ber enam sisanya
hanya bermaskeran dengan madu untuk melembabkan kulit wajah *cie ileh*. Cukup
sampai si madu membeku dan kita bahkan sulit untuk tersenyum. Beberapa menit
setelah itu basuh muka dengan air. Kulit wajah akan terasa lembuuut! *kayaknya
gue cocok jadi tukang masker deh*.
Sambil
menunggu maker madu nya mengeras, kita play film don’t be afraid of the dark.
Film yang lumayan seru untuk di tonton bareng-bareng. Setelah film itu selesai,
kami mulai membasuh wajah karena madu nya memang sudah terlalu lama mengeras.
Kami mengambil timun yang telah di iris oleh idip dan dimasukkannya kedalam
kulkas dan menempelkannya pada mata, pipi dan dagu. Alma mengganti film menjadi
film horror yang berjudul white. *bener kan? Takut salah nyebutin*. Gue tau itu
film korea, dan gue tau gak akan tidur nyenyak karena telah menonton film
horror. Jadi gue bergabung bersama uppy dan alma—pecinta film bukan horror— di
kamar alma. Di susul dengan idip. Kita berempat mulai mengacak-acak kasur alma.
Disusul dengan ichell yang hanya bertugas menjadi fotografer.
| pengalaman cecentilan di rumah alma |
FYI, buat kalian yang mengenal ataupun teman
bahkan sahabat semasa smp orang
disebelah kanan, pasti gak bakalan nyangka kalo orang yang kalian kenal dulu,
yang yaaa.. tomboy dan sangat mencintai persib itu telah bermetamorfosis
menjadi seperti ini. —sorry idip—
| nih biar si merah ikut eksis! |
| yang lagi nonton white juga ikut timunan! |
Ya..
gue merasa itu hari pertama gue ke rumah alma, dan centil-centilan bareng
temen-temn gue—emang iya— dan gue berharap, itu bukan terakhir kalinya kita
menghabiskan waktu bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar