Selasa, 25 September 2012

y=mx+c


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Aku segera membereskan barang-barangku dan meninggalkan kelas. Aku bergegas ke gedung olahraga untuk memberikan bekal makanan untuk adikku yang sedang bermain badminton. Tapi, sebenarnya tujuan ku bukan itu. Aku ingin melihat Yoga, temanku yang juga sedang bermain badminton. Sesekali mata kita bertemu saat ia sedang melakukan pemanasan.
                “bekal makan lagi ya, kak? Hari ini apa?”
                “sandwich” jawabku.
                “sandwich lagi, sandwich lagi. Bikin pasta kek, lagi pengen pasta nih!”
                “udah, makan aja sana! Kakak lagi pengen ngeliatin Yoga”
                “cie… aku bilangin ya, kak?”
“ja… “ Ingin aku menutup mulut mulut adikku, tetapi ia sudah berteriak, “KAK YOGA!! ADA SALAM DARI KAK CHIKA!!!”
Aku menutup muka ku malu. Yoga hanya menanggapi nya dengan senyuman. Ah, senyuman itu …
“oh, jadi Chika suka Yoga nih, ceritanya?” kata salah satu anggota club badminton.
“cie… cie… ” jawab yang lainnya.
Aku langsung meninggalkan gedung olahraga sebelum wajahku berubah warna menjadi merah padam.
Setiap hari ku lakukan kegiatan itu, memandangi Yoga dengan alasan memberikan makan siang untuk adikku. Setiap hari. Bahkan ketika aku lupa membuatkan makan siang, aku tetap datang ke gedung olahraga dengan membawa kotak makan siang yang tak berisi.
***
                “ehem…”
                “Yo.. Yoga?” aku yang sedang memesan jus seketika menjadi kikuk.
                “jus alpukat” pesan Yoga.
                “kalau neng, pesan apa?” Tanya si penjual jus.
                “sama. Alpukat”
Untuk beberapa saat kami diam seribu bahasa. Tidak mengeluarkan suara apapun, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kenapa aku jadi beli jus alpukat ya? Padahal kan lagi mau jus strawberry. Ah, Yoga. Secara tak langsung kau telah mempengaruhiku. Ah, iya. yoga udah punya pacar belum ya?
Suara blender berhenti berbunyi. Penjual jus itu menuangkan jus nya kedalam gelas kami.
                “ini. dua jus alpukat”
                “makasih, pak” jawab kami serempak. Aku menoleh ke arahnya. Mata kita bertemu. Aku langsung menundukkan kepala dan segera pergi meninggalkan kantin. Salting.
                “tunggu!” cegah Yoga. Aku balik kanan untuk menghadapnya. “buru-buru amat, duduk dulu yuk?” ajaknya. Kami pun duduk di bangku yang telah tersedia di kantin sekolah. Oh my god! Bisa berduaan dengan Yoga! Apa ini mimpi? Sebelumnya aku memang pernah makan bareng sama dia. tapi waktu itu kita bareng teman-teman yang lain. Tapi sekarang? Hanya berdua! Berasa ngedate jadinya.
                “minggu ini ada acara, gak?” Tanya Yoga to the point.
                “apa?!”
                “em.. minggu ini kamu ada acara gak? Sorry ya tiba-tiba nanya kayak gini. Aku gak biasa basa-basi”
                “hmm… memangnya kenapa?”
                “aku ingin ngajak kamu jalan”
                “apa?! Uhuk… uhuk… uhuk…” tiba-tiba aku tersedak. Yoga jadi serba salah. Terlihat sekali ia sangat canggung dan gugup.
                “gak pa-pa kok” kataku sembari menyeka mulutku dengan menggunakan tissue. “memangnya mau jalan kemana?”
                “kamu boleh ajak temen kamu kok”
                “iya. Tapi mau kemana?”
                “ke Lembang”
***
Persiapan telah siap. Sekarang tinggal berangkat. Kami janjian di sekolah. Mobil Yoga telah menunggu. Aku membawa 2 temanku, Raisa dan Maya.
                “udah siap?” Tanya Yoga.
                “iya. Aku bawa Raisa dan Maya. Gak pa-pa kan?”
                “gak pa-pa kok, yuk!” Yoga memasuki mobilnya. Ia duduk di balik kemudi. Sedangkan aku duduk disebelahnya. Raisa dan Maya duduk di bangku penumpang.
                “aku baru tahu, kalau kamu bisa nyetir” kataku memecah keheningan.
                “ya… dikit-dikit bisa lah” jawabnya.
                “ehem… ehem… “ Raisa dan Maya berpura-pura batuk. Aku dan Yoga menjadi salting. Akhirnya Yoga memutarkan lagu supaya tidak terlalu canggung.
Perjalanan yang di tempuh selama 1,5 jam terbayar sudah ketika merasakan udara yang sejuk dan melihat pemandangan yang indah. Ingin sekali mengelilingi kebun bunga disini. Atau sekedar mencuci muka di pancuran di pinggir kebun pun tak apa. Sudah terbayang segarnya air disini.
Setelah makan siang dan solat dzhuhur, kami mulai menikmati pemandangan di tempat ini. Yoga menghubungi dua orang temannya untuk bergabung bersama kami. Mereka adalah Putra dan Arya. Mereka menjadi guide dalam perjalanan mengelilingi kebun disini. Walaupun cuaca hari ini cukup panas, tapi tidak menghalangi kami untuk bersuka ria. Sesekali kami mengabadikan keceriaan kami dalam kamera yang kami bawa.
                “hati-hati ya jalannya. Karena kemarin hujan, jadi jalannya agak licin” kata Putra. Baru beberapa saat berlalu, tiba-tiba Raisa hampir terpeleset. Walaupun tidak terjatuh, tapi lumpur telah mengenai kakinya.
                “disini ada air gak?” Tanya Raisa.
                “ada. Nih” jawab Maya sambil memberikan botol minum doraemon nya.
                “bukan buat minum, tapi untuk cuci kaki”
                “di bawah ada sungai. Kita kesana aja” kata Arya
Kami pun berjalan menuju sungai. Raisa membersihkan kakinya disana.
                “airnya dingin banget. Tapi segar!” kata Raisa.
                “memang iya” putra melepas sandal nya dan memasukkan kaki nya kedalam air.
                “masa sih?” kata Maya. Ia pun membuka sandalnya dan memasukkan jari-jari kakinya kedalam sungai. “iya, dingin”. Arya pun mengikuti mereka. Dan mereka pun bermain air. Dasar!
Yoga menarik tanganku, “ikut aku, yuk!”
                “kemana?”
                “ikut aja!”. Aku pun mengikutinya. Langkah kaki kami berhenti pada sebuah rumah. Rumah tersebut cukup besar dibanding rumah  lainnya.
                “ ini rumah siapa, Ga?” tetapi Yoga tidak menjawab. Ia melangkahkan kaki mendekati rumah itu. “assalamu’alaikum” katanya sambil membuka pintu.
“wa’alaikum salam” jawab wanita dari dalam rumah.
“oh, ada Yoga. Masuk Ga!” kata wanita yang memakai baju kuning itu. Yoga memasuki rumah itu. Awalnya aku enggan, tetapi Yoga memberiku isyarat untuk ikut masuk.
                “sama siapa, Ga? Pacar ya?” Tanya wanita itu sembari menyuguhkan dua gelas sirup dan aneka kue kering untuk kami. Yoga hanya menjawabnya dengan senyuman.
                “ayah ada?”
                “ada. Tadi lagi di kebun. Bentar ya, dipanggil dulu”
Tunggu. Yoga menanyakan Ayah? Ayah siapa? Apakah Ayahnya Yoga? Oh my God! Ada apa ini?
                “Ga…” bisik ku.
                “tenang aja. Gak akan apa-apa kok”
                “tapi ini rumah siap…”
                “eh, ada Yoga” seorang pria paruh baya muncul dari pekarangan rumah. Ia memakai kemeja dan celana jeans. Dari segi penampilannya, ia tidak cocok jika ia disebut ‘dari kebun’. Tapi  ia lebih cocok jika disebut pemilik kebun.
Yoga langsung mencium tangan pria itu.
                “ini siapa?” Tanya pria itu sembari mata nya melihat padaku.
                “ini Chika, Yah, ng… teman Yoga” jawab Yoga kikuk.
Aku ikut mencium tangan pria yang disebut ‘ayah’ itu persis seperti yang dilakukan Yoga.
                “teman apa pacar? Cantik gini disebut teman”. Yoga hanya tersenyum malu. “kamu bilang ini pacar kamu juga ayah gak akan marah. Ayah gak akan ngelarang. Anak ayah sudah besar sekarang. Dulu minta di buatkan layangan. Sekarang sudah bawa cewek ke rumah”.
Wajah Yoga merah padam. Aku hanya bisa menahan tawa.
                “udah makan, kalian?”
                “Udah, Om” jawabku.
                “ya udah, lanjutin aja ngobrol-ngobrol kalian. Ayah mau ke kebun lagi”
Aku dan Yoga kembali duduk di ruang tamu.
                “eh, Yoga. Kesini sebentar” panggil ayah. Yoga pun keluar rumah dan berbicara dengan ayahnya. Pembicaraan antara ayah dan anak. Oh my god! Ternyata ini rumah yoga. Aku baru tahu kalau dia tinggal di Lembang. Belum jadi pacarnya aja udah dikenalin sama orang tuanya. Apalagi udah pacaran? Mungkin baru pacaran selama dua minggu aja udah di lamar.
Tak lama kemudian Yoga memasuki rumah dan duduk disamping ku.
                “maaf sebelumnya udah bikin kamu bingung. Pasti sekarang kamu kaget karena aku kenalin ke orang tua aku” Yoga mulai pembicaraan.
                “iya sih… sedikit” jawabku.
                “orang tua ku cerai. Ayah tinggal disini bersama istri barunya dan ibu tinggal di Jakarta. Wanita yang memakai baju kuning tadi, itu ibu tiri ku”
                “oh, jadi kamu tinggal disini juga? Bolak-balik dong kalau sekolah”
                “enggak. Aku kos di Bandung”
                “ayahku petani bunga di kampung ini”
                “petani  bunga?”
                “iya. petani bunga. Emang kenapa?”
                “bukan gitu. Ayah kamu gak cocok jadi petani bunga. Dia cocoknya jadi juragan bunga. Atau pemilik kebun bunga”
                “lebih tepatnya itu sih, juragan dan pemilik kebun. Tapi ayah lebih senang disebut petani bunga daripada juragan. Eh, sekali lagi maaf. Tiba-tiba ngajak kamu ke sini”
                “iya. nyantai aja kali”
                “aku pernah punya satu keinginan. Kalau aku punya pacar, aku pengin bawa dia kesini dan aku kenalin ke orang tua aku”
                “tapi kan…”
                “kang Yoga… amel ada pr matematika!” seorang anak —mungkin anak smp— muncul dari dalam kamarnya.
                “yang mana?”Tanya Yoga.
                “yang ini, kang” ia memberika buku nya. “Tentukan persamaan garis berikut. A. garis bergradien 4 melalui (0,7). B. garis bergradien 3½ melalui (0,5)”
                “ini mah gampang”
                “ih da suhe. Susah hese. Aku nanyain ke ibu, malah disuruh nanya ke kang Yoga”
                “ibunya udah lupa pelajaran smp, mungkin. Sini. Kalau kayak gini tinggal di masukkan ke rumus aja. No. a diketahui nya m=4, (0,7)=C= -7.
                 y= mx+c
                y= 4x-7. Udah, beres”
                “oh, Gitu. No B nya sama?”
                “iya”
                “makasih ya, kang!” anak itu kembali ke dalam kamarnya.
                “itu adik tiri ku”
                “walaupun tiri, dia tetep adik kamu”
                “iya. eh, tadi kamu mau ngomong apa?”
                “ha? ng…  aku juga lupa. Kamu masih inget pelajaran smp?”
                “inget lah. Matematika pula. Buat aku, matematika itu unik”
                “masak sih?”
                “kayak rumus barusan”. Ia mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan rumus disana. “y= mx+c. kalau mx=, maka C nya itu kamu, Chika”
Aku terdiam sejenak.
y= mx+c. mx=, c=aku.
Berarti y= +aku.
yaku.
y c.
yoga chika. Aku tersenyum melihat rumus yang ia tuliskan.
                “dasar!” kataku.
                “gimana?”
                “you’re so unique. Baru kali ini ada cowok yang pake rumus matematika buat nembak cewek”
                “tapi kamu suka, kan?”
 Aku mengangguk mengiyakan. “eh, nasib teman-teman aku gimana?”
***
                “hu… kemana aja kalian? Tiba-tiba menghilang” kata Raisa.
Aku melirik Yoga, “kami… abis beli minum”
                “hm? Bilang aja mau berduaan” jawab Maya.
                “pulang yuk, udah sore nih” ajak Raisa.
                “ayo. Mobilnya aku siapkan dulu” kata Yoga.
Beberapa saat kemudian…
                “mobilnya sudah siap” kata Yoga yang telah berganti pakaian. Cuaca sore hari memang cukup dingin. Tak heran ia memakai jaket berwarna cokelat. Tunggu, perasaan jaket itu kenal deh. Itu jaket ku!
                “Yoga! Dapet jaket itu dimana?”
                “di mobil”
                “buka, enggak? Itu punya aku!” kataku sambil memaksanya untuk membuka jaket.
                “ih, jaket model cowok kayak gini ngapain kamu yang pake?”
                “jaket ini aku design khusus untuk pacar aku, lepasin jaketnya!”
                “Chika, aku kan pacar kamu”
                “oh? Iya.. ya” kataku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

                “cie… cie… udah jadian nih, ceritanya?” ejek Raisa dan Maya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar