Bel pulang
sekolah telah berbunyi. Aku segera membereskan barang-barangku dan meninggalkan
kelas. Aku bergegas ke gedung olahraga untuk memberikan bekal makanan untuk
adikku yang sedang bermain badminton. Tapi, sebenarnya tujuan ku bukan itu. Aku
ingin melihat Yoga, temanku yang juga sedang bermain badminton. Sesekali mata
kita bertemu saat ia sedang melakukan pemanasan.
“bekal
makan lagi ya, kak? Hari ini apa?”
“sandwich”
jawabku.
“sandwich
lagi, sandwich lagi. Bikin pasta kek, lagi pengen pasta nih!”
“udah,
makan aja sana! Kakak lagi pengen ngeliatin Yoga”
“cie…
aku bilangin ya, kak?”
“ja… “ Ingin
aku menutup mulut mulut adikku, tetapi ia sudah berteriak, “KAK YOGA!! ADA
SALAM DARI KAK CHIKA!!!”
Aku
menutup muka ku malu. Yoga hanya menanggapi nya dengan senyuman. Ah, senyuman
itu …
“oh, jadi
Chika suka Yoga nih, ceritanya?” kata salah satu anggota club badminton.
“cie… cie…
” jawab yang lainnya.
Aku
langsung meninggalkan gedung olahraga sebelum wajahku berubah warna menjadi
merah padam.
Setiap
hari ku lakukan kegiatan itu, memandangi Yoga dengan alasan memberikan makan
siang untuk adikku. Setiap hari. Bahkan ketika aku lupa membuatkan makan siang,
aku tetap datang ke gedung olahraga dengan membawa kotak makan siang yang tak
berisi.
***
“ehem…”
“Yo..
Yoga?” aku yang sedang memesan jus seketika menjadi kikuk.
“jus
alpukat” pesan Yoga.
“kalau
neng, pesan apa?” Tanya si penjual jus.
“sama.
Alpukat”
Untuk
beberapa saat kami diam seribu bahasa. Tidak mengeluarkan suara apapun, sibuk
dengan pikiran masing-masing. Kenapa aku jadi beli jus alpukat ya? Padahal kan
lagi mau jus strawberry. Ah, Yoga. Secara tak langsung kau telah
mempengaruhiku. Ah, iya. yoga udah punya pacar belum ya?
Suara
blender berhenti berbunyi. Penjual jus itu menuangkan jus nya kedalam gelas
kami.
“ini.
dua jus alpukat”
“makasih,
pak” jawab kami serempak. Aku menoleh ke arahnya. Mata kita bertemu. Aku
langsung menundukkan kepala dan segera pergi meninggalkan kantin. Salting.
“tunggu!”
cegah Yoga. Aku balik kanan untuk menghadapnya. “buru-buru amat, duduk dulu
yuk?” ajaknya. Kami pun duduk di bangku yang telah tersedia di kantin sekolah.
Oh my god! Bisa berduaan dengan Yoga! Apa ini mimpi? Sebelumnya aku memang
pernah makan bareng sama dia. tapi waktu itu kita bareng teman-teman yang lain.
Tapi sekarang? Hanya berdua! Berasa ngedate jadinya.
“minggu
ini ada acara, gak?” Tanya Yoga to the point.
“apa?!”
“em..
minggu ini kamu ada acara gak? Sorry ya tiba-tiba nanya kayak gini. Aku gak
biasa basa-basi”
“hmm…
memangnya kenapa?”
“aku
ingin ngajak kamu jalan”
“apa?!
Uhuk… uhuk… uhuk…” tiba-tiba aku tersedak. Yoga jadi serba salah. Terlihat
sekali ia sangat canggung dan gugup.
“gak
pa-pa kok” kataku sembari menyeka mulutku dengan menggunakan tissue. “memangnya
mau jalan kemana?”
“kamu
boleh ajak temen kamu kok”
“iya.
Tapi mau kemana?”
“ke
Lembang”
***
Persiapan
telah siap. Sekarang tinggal berangkat. Kami janjian di sekolah. Mobil Yoga
telah menunggu. Aku membawa 2 temanku, Raisa dan Maya.
“udah
siap?” Tanya Yoga.
“iya.
Aku bawa Raisa dan Maya. Gak pa-pa kan?”
“gak
pa-pa kok, yuk!” Yoga memasuki mobilnya. Ia duduk di balik kemudi. Sedangkan
aku duduk disebelahnya. Raisa dan Maya duduk di bangku penumpang.
“aku
baru tahu, kalau kamu bisa nyetir” kataku memecah keheningan.
“ya…
dikit-dikit bisa lah” jawabnya.
“ehem…
ehem… “ Raisa dan Maya berpura-pura batuk. Aku dan Yoga menjadi salting.
Akhirnya Yoga memutarkan lagu supaya tidak terlalu canggung.
Perjalanan
yang di tempuh selama 1,5 jam terbayar sudah ketika merasakan udara yang sejuk
dan melihat pemandangan yang indah. Ingin sekali mengelilingi kebun bunga
disini. Atau sekedar mencuci muka di pancuran di pinggir kebun pun tak apa.
Sudah terbayang segarnya air disini.
Setelah
makan siang dan solat dzhuhur, kami mulai menikmati pemandangan di tempat ini.
Yoga menghubungi dua orang temannya untuk bergabung bersama kami. Mereka adalah
Putra dan Arya. Mereka menjadi guide dalam perjalanan mengelilingi kebun
disini. Walaupun cuaca hari ini cukup panas, tapi tidak menghalangi kami untuk
bersuka ria. Sesekali kami mengabadikan keceriaan kami dalam kamera yang kami
bawa.
“hati-hati
ya jalannya. Karena kemarin hujan, jadi jalannya agak licin” kata Putra. Baru
beberapa saat berlalu, tiba-tiba Raisa hampir terpeleset. Walaupun tidak terjatuh,
tapi lumpur telah mengenai kakinya.
“disini
ada air gak?” Tanya Raisa.
“ada.
Nih” jawab Maya sambil memberikan botol minum doraemon nya.
“bukan
buat minum, tapi untuk cuci kaki”
“di
bawah ada sungai. Kita kesana aja” kata Arya
Kami pun berjalan menuju sungai.
Raisa membersihkan kakinya disana.
“airnya
dingin banget. Tapi segar!” kata Raisa.
“memang
iya” putra melepas sandal nya dan memasukkan kaki nya kedalam air.
“masa
sih?” kata Maya. Ia pun membuka sandalnya dan memasukkan jari-jari kakinya
kedalam sungai. “iya, dingin”. Arya pun mengikuti mereka. Dan mereka pun
bermain air. Dasar!
Yoga menarik tanganku, “ikut aku,
yuk!”
“kemana?”
“ikut
aja!”. Aku pun mengikutinya. Langkah kaki kami berhenti pada sebuah rumah.
Rumah tersebut cukup besar dibanding rumah
lainnya.
“
ini rumah siapa, Ga?” tetapi Yoga tidak menjawab. Ia melangkahkan kaki
mendekati rumah itu. “assalamu’alaikum” katanya sambil membuka pintu.
“wa’alaikum salam” jawab wanita dari
dalam rumah.
“oh, ada Yoga. Masuk Ga!” kata
wanita yang memakai baju kuning itu. Yoga memasuki rumah itu. Awalnya aku
enggan, tetapi Yoga memberiku isyarat untuk ikut masuk.
“sama
siapa, Ga? Pacar ya?” Tanya wanita itu sembari menyuguhkan dua gelas sirup dan
aneka kue kering untuk kami. Yoga hanya menjawabnya dengan senyuman.
“ayah
ada?”
“ada.
Tadi lagi di kebun. Bentar ya, dipanggil dulu”
Tunggu. Yoga menanyakan Ayah? Ayah
siapa? Apakah Ayahnya Yoga? Oh my God! Ada apa ini?
“Ga…”
bisik ku.
“tenang
aja. Gak akan apa-apa kok”
“tapi
ini rumah siap…”
“eh,
ada Yoga” seorang pria paruh baya muncul dari pekarangan rumah. Ia memakai
kemeja dan celana jeans. Dari segi penampilannya, ia tidak cocok jika ia
disebut ‘dari kebun’. Tapi ia lebih
cocok jika disebut pemilik kebun.
Yoga langsung mencium tangan pria
itu.
“ini
siapa?” Tanya pria itu sembari mata nya melihat padaku.
“ini
Chika, Yah, ng… teman Yoga” jawab Yoga kikuk.
Aku ikut mencium tangan pria yang
disebut ‘ayah’ itu persis seperti yang dilakukan Yoga.
“teman
apa pacar? Cantik gini disebut teman”. Yoga hanya tersenyum malu. “kamu bilang
ini pacar kamu juga ayah gak akan marah. Ayah gak akan ngelarang. Anak ayah
sudah besar sekarang. Dulu minta di buatkan layangan. Sekarang sudah bawa cewek
ke rumah”.
Wajah Yoga merah padam. Aku hanya
bisa menahan tawa.
“udah
makan, kalian?”
“Udah,
Om” jawabku.
“ya
udah, lanjutin aja ngobrol-ngobrol kalian. Ayah mau ke kebun lagi”
Aku dan Yoga kembali duduk di ruang
tamu.
“eh,
Yoga. Kesini sebentar” panggil ayah. Yoga pun keluar rumah dan berbicara dengan
ayahnya. Pembicaraan antara ayah dan anak. Oh my god! Ternyata ini rumah yoga.
Aku baru tahu kalau dia tinggal di Lembang. Belum jadi pacarnya aja udah
dikenalin sama orang tuanya. Apalagi udah pacaran? Mungkin baru pacaran selama
dua minggu aja udah di lamar.
Tak lama kemudian Yoga memasuki
rumah dan duduk disamping ku.
“maaf
sebelumnya udah bikin kamu bingung. Pasti sekarang kamu kaget karena aku
kenalin ke orang tua aku” Yoga mulai pembicaraan.
“iya
sih… sedikit” jawabku.
“orang
tua ku cerai. Ayah tinggal disini bersama istri barunya dan ibu tinggal di
Jakarta. Wanita yang memakai baju kuning tadi, itu ibu tiri ku”
“oh,
jadi kamu tinggal disini juga? Bolak-balik dong kalau sekolah”
“enggak.
Aku kos di Bandung”
“ayahku
petani bunga di kampung ini”
“petani bunga?”
“iya.
petani bunga. Emang kenapa?”
“bukan
gitu. Ayah kamu gak cocok jadi petani bunga. Dia cocoknya jadi juragan bunga.
Atau pemilik kebun bunga”
“lebih
tepatnya itu sih, juragan dan pemilik kebun. Tapi ayah lebih senang disebut petani
bunga daripada juragan. Eh, sekali lagi maaf. Tiba-tiba ngajak kamu ke sini”
“iya.
nyantai aja kali”
“aku
pernah punya satu keinginan. Kalau aku punya pacar, aku pengin bawa dia kesini
dan aku kenalin ke orang tua aku”
“tapi
kan…”
“kang
Yoga… amel ada pr matematika!” seorang anak —mungkin anak smp— muncul dari
dalam kamarnya.
“yang
mana?”Tanya Yoga.
“yang
ini, kang” ia memberika buku nya. “Tentukan persamaan garis berikut. A. garis
bergradien 4 melalui (0,7). B. garis bergradien 3½ melalui (0,5)”
“ini
mah gampang”
“ih
da suhe. Susah hese. Aku nanyain ke ibu, malah disuruh nanya ke kang Yoga”
“ibunya
udah lupa pelajaran smp, mungkin. Sini. Kalau kayak gini tinggal di masukkan ke
rumus aja. No. a diketahui nya m=4, (0,7)=C= -7.
y= mx+c
y=
4x-7. Udah, beres”
“oh,
Gitu. No B nya sama?”
“iya”
“makasih
ya, kang!” anak itu kembali ke dalam kamarnya.
“itu
adik tiri ku”
“walaupun
tiri, dia tetep adik kamu”
“iya.
eh, tadi kamu mau ngomong apa?”
“ha?
ng… aku juga lupa. Kamu masih inget pelajaran
smp?”
“inget
lah. Matematika pula. Buat aku, matematika itu unik”
“masak
sih?”
“kayak
rumus barusan”. Ia mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan rumus disana. “y=
mx+c. kalau mx=♥, maka C nya itu kamu, Chika”
Aku
terdiam sejenak.
y=
mx+c. mx=♥, c=aku.
Berarti
y= ♥+aku.
y♥aku.
y ♥ c.
yoga ♥ chika.
Aku tersenyum melihat rumus yang ia tuliskan.
“dasar!” kataku.
“gimana?”
“you’re so unique. Baru kali ini
ada cowok yang pake rumus matematika buat nembak cewek”
“tapi kamu suka, kan?”
Aku mengangguk mengiyakan. “eh, nasib
teman-teman aku gimana?”
***
“hu…
kemana aja kalian? Tiba-tiba menghilang” kata Raisa.
Aku melirik Yoga, “kami… abis beli
minum”
“hm?
Bilang aja mau berduaan” jawab Maya.
“pulang
yuk, udah sore nih” ajak Raisa.
“ayo.
Mobilnya aku siapkan dulu” kata Yoga.
Beberapa saat kemudian…
“mobilnya
sudah siap” kata Yoga yang telah berganti pakaian. Cuaca sore hari memang cukup
dingin. Tak heran ia memakai jaket berwarna cokelat. Tunggu, perasaan jaket itu
kenal deh. Itu jaket ku!
“Yoga!
Dapet jaket itu dimana?”
“di
mobil”
“buka,
enggak? Itu punya aku!” kataku sambil memaksanya untuk membuka jaket.
“ih,
jaket model cowok kayak gini ngapain kamu yang pake?”
“jaket
ini aku design khusus untuk pacar aku, lepasin jaketnya!”
“Chika,
aku kan pacar kamu”
“oh?
Iya.. ya” kataku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
“cie…
cie… udah jadian nih, ceritanya?” ejek Raisa dan Maya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar