Title : Voilà, Taemin!
Author : Intaonta
Leght : Chaptered
Cast : Lee Taemin
Raina
(fiction cast)
Jinyoung
“aish!
Dingin sekali disini” gumamku saat menginjakkan kaki di Bandara Incheon.
Seharusnya aku tidak ikut merayakan tahun baru di Jakarta bersama keluarga ku
minggu kemarin, karena itu membuatku sulit beradaptasi dengan cuaca di Seoul
yang super dingin ini. walaupun telah satu tahun tinggal di negeri ginseng ini,
aku belum terbiasa dengan cuaca ekstrem yang terasa menusuk tulang ini. setiap
aku kembali dari Indonesia, setidaknya selama 3 hari aku meringkuk di tempat
tidur karena tubuhku belum siap untuk menerima cuaca dingin.
Aku
menggerakkan tubuhku untuk meghilangkan rasa dingin. Tapi itu tak berhasil.
Akhirnya aku mencari tempat duduk dan mencoba menghangatkan diri disana.
“bolehkah
aku duduk disini?” Tanya seorang lelaki yang ingin duduk di sebelahku.
“tentu.
Silahkan” jawabku. aku menggeser tubuhku untuknya. Beberapa saat kemudian
seorang kakek beserta 3 orang cucu nya duduk di sisi lain dari tubuhku. Oh
tidak, aku di apit oleh orang-orang yang tidak dikenal. Apa di Korea ada
pencopet yang menapit mangsanya seperti yang dilakukan pencopet-pencopet di
Indonesia? apa mungkin kakek di sebelahku ingin mencopet? Mungkin saja ia ingin
melakukannya untuk menghidupi ketiga cucunya itu. Atau mungkin lelaki di
sebelahku yang akan menyerangku? Tapi dilihat dari denim yang ia pakai,
tampaknya ia bukan mencopet. Aku tau, merek dan harga denim yang ia pakai tidak
lah murah. Ya, dia bukan pencopet. Terlalu memikirkan tentang pencopetan aku
tersadar bahwa bangku yang aku duduki ini terasa semakin sempit. Oh ternyata
penghuni bangku ini bertambah satu, yaitu istri dari si kakek.
“cuaca
hari ini sangat dingin, ya kan?”kata lelaki di sebelahku ini.
“iya”
jawabku singkat tanpa menoleh kearahnya. Sepertinya ia remaja sepertiku, tapi
aku tak terlalu memikirkannya karena aku teringat kata-kata mama : jangan
berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Yah, walaupun mama mengatakan itu
pada saat aku berumur lima tahun.
“kau
sedang menunggu seseorang?”Tanya nya.
“ne, aku
sedang menunggu sepupuku. Kenapa ia lama sekali ya?ah sebaiknya aku telpon
saja” aku merogoh ponsel didalam kantong jaket ku dan menelpon Jinyoung. “Yah!
Jinyoung! Kau kemana saja? Kau tau tahu aku sudah membeku di Bandara?”
“aigoo!
Maafkan aku Raina” katanya di ujung telepon. “aku lupa kalau kau pulang hari
ini. 30 menit lagi aku tiba di bandara”
“aish!”
geramku. Ku masukan kembali ponsel ku kedalam kantong jaketku. Aku
menggosok-gosok kedua telapak tanganku memberikan kehangatan. Sepertinya aku
beruntung diapit oleh beberapa orang
disini. Aku merasa lebih hangat. Ku sentuh pipiku yang terasa dingin seperti
es. Ku tutup hidung dan mulut ku dengan telapak tanganku supaya tetap hangat.
Ah, ini lebih baik dan terasa nyaman. Rasa kantukku muncul sisa penerbagan
tadi. Tak lama kemudian aku berada di dalam mimpi.
“Raina..
raina.. bangunlah” kata Jinyoung menepuk pipiku. Aku membuka mata dan mengagkat
kepalaku yang tersandar pada pundak lelaki di sebelahku ini. aku tidak melihat kakek
di sebelahku. Ia dan istrinya serta cucu-cucunya telah pergi.
“syukurlah
kau sudah bangun” tambah Jinyoung. “maafkan kami,” kata Jinyoung sambil
membungkukan badan kepada lelaki di sebelahku ini. sepertinya aku harus meminta
maaf juga, karena telah tidur di pundaknya. Aku menoleh ke arahnya, astaga! Aku
tak percaya lelaki yang di sampingku ini adalah Taemin. Lee Taemin . SHINee
Taemin!!
“maafkan
aku” kataku sambil membungkuk sedalam-dalamnya. Sampai-sampai aku tak mau
mengangkat kepalaku lagi karena malu telah tertidur di pundaknya. Bagaimana
wajahku saat aku tidur tadi? Apakah aku mendengkur? Atau kah aku.. ah aku tak
mau membahasnya!
“maafkan
aku” untuk kesekian kalinya aku membungkuk di hadapan Taemin.
“sudah,
tak apa” kata nya sambil tersenyum kecil. Aku berusaha membalas senyumannya
semanis mungkin, tapi rasanya senyumanku ini terasa sangat hambar. Aku menarik
tangan Jinyoung. Untuk terakhir kalinya kami membungkuk bersamaan. Kami
berjalan mundur, berbalik dan kabur dari hadapan Taemin dengan membawa rasa
malu.
***
“benarkah
tidak ada kamera yang mengambil gambar?” kataku pada Jinyoung yang sedang
mengaduk sup-nya.
“tidak”
“Satu
kamera pun?”
“hm..
tidak”
“fan cam?”
“tidak
ada. Sudah empat jam berlalu. Tidak ada pembahasan di Internet tentang dirimu
yang tertidur di pundak Taemin”. Aku
menghela napas mendengarnya.
“aku tak
habis pikir, kau bisa tertidur di pundak Taemin” lanjut Jinyoung
“Yah!
Siapa yang membuatku menunggu begitu lama?”
“dan aku
tak bisa membayangkan bagaimana jika ada fans
yang mengambil gambar mu lalu meng upload nya ke internet. Dunia akan
mengetahui ada gadis Indonesia yang ngiler
di pundak Taemin”
“aku gak ngiler kok!. Aku merasa tertidur sangat
cantik seperti sleeping beauty”. Aku terdiam sesaat. Aku tak ingat bagaimana
aku tertidur. “aaaaaa… itu tak boleh terjadi!!” kataku sambil memegangi kepala.
Betapa memalukannya diriku. Rasanya aku ingin melakukan hara-kiri menggunakan
sendok sayur yang sedang dipegang Jinyoung.
***
“kudengar
Taemin pindah sekolah ke sekolah seni ya?” Tanya Jinyoung.
“hm..”
aku mengiyakan.
“bukan
kan kau juga bersekolah disana?”
“ya.
Sejak hari ini Taemin menjadi teman sekelasku”
Tadi pagi,
Aku sedang memandangi langit melalui jendela kelas saat sonsengnim memasuki
kelas.
“hari ini kita
kedatangan siswa baru. Dulu ia bersekolah di Cheongdam Senior High School.
Mungkin kalian telah mengenalinya”. Semua siswa dikelas bertanya-tanya.
Siapakah siswa baru ini?
“masuklah” kata
sonsengnim. Siswa itu pun melangkahkan kaki kedalam kelas. Kyaaaaa~~ beberapa
teman-temanku berteriak histeris saat melihatnya. Aku pun sulit bernapas saat
ia memasuki kelas.
“aku tak percaya!
Aku sekelas dengan Taemin!!” teriak Hye Lim.
“anneyong!” sapa
Taemin. Saat ini seluruh siswi dikelas dibuat melted
oleh senyum nya.
“semoga kalian
bersikap baik pada teman baru kalian ini. silahkan duduk!” kata sonsengnim.
Taemin berjalan menuju meja kosong dibelakang. “Oppa, duduklan
disampingku” Teriak Sulli. Ia tidak histeris kali ini, tapi ia menangis!.
Taemin hanya mengangguk kecil menghadapinya. Ia melihat Junsu, teman
sebangku-ku.
“kau ingin duduk
disini?”Tanya Junsu. Taemin mengangguk Kemudian Junsu pindah ke bangku
belakang. Taemin menarik kursi di sebelahku, lalu mendudukinya.
“anneyong! Senang
berjumpa denganmu lagi” sapa Taemin. Aku hanya sedikit megangguk dengan senyum
yang sedikit dipaksakan. Ingin rasanya ku tenggelamkan wajaku pada buku yang
berada di atas meja.
Jinyoung mendecakkan lidah. “kau
menyedihkan sekali, disaat orang-orang ingin bertemu dengannya, kau malah
menanggung malu”
“iya.
aku ini kurang beruntung. Kalau mengingat kejadian di Bandara tempo hari lalu
aku merasa sangat malu saat melihat wajahnya. Tapi, menurutku, Taemin anak yang
baik. Tadi ia mengajakku makan siang bersama”
“kau
makan siang bersama Taemin?”
“hm..”aku
mengiyakan
“kau
masih mempunyai muka dihadapannya?”
“ah,
aku sudah tidak terlalu memikirkannya. Untuk apa aku memikirkannya terus,
Taemin pun bersikap seperti tidak terjadi apa-apa”
***
Perpustakaan cukup ramai hari ini.
aku meletakkan kembali buku-buku yang telah kupinjam 3 hari yang lalu kedalam
rak nya.
“pantas
saja buku ini tak ada, rupanya kau yang meminjamnya” kata seseorang yang
suaranya tak asing lagi ditelingaku.
“Taemin-ssi?
Ku kira kau sudah pulang?”
“aku
harus mengerjakan beberapa pr ku dulu. Karena buku ini kau pinjam, aku belum
mengerjakannya. Kau ada waktu hari ini?”
“ya.
Aku memiliki banyak waktu hari ini. ada apa?”
“temani
aku ya? Karena kau meminjam buku ini, kau telah menghambat ku untuk mengerjakan
pr”
“baiklah”
jawabku. kami duduk di bangku yang telah disediakan di perpustakaan. Taemin mengerjakan
pr nya, sedangkan aku hanya memandanginya di hadapannya.
“apakah
aku cukup tampan untuk di pandangi?” Kata Taemin mengejutkanku.
“apa?”
Taemin meletakkan pulpennya dan
memandangku. “aku tahu, sejak tadi kau memandangi wajahku. Apakah aku cukup
tampan?”
Aku mengalihkan pandanganku dengan
sedikit rasa terkejut. Sejak tadi ia tertunduk fokus pada buku di depannya,
tapi ia mengetahui apa yang ku lakukan.
“sudah,
kerjakan saja pr mu!” jawabku.
“aku
anggap kau mengatakan iya”
“hey,
aku tak mengatakan itu!” kataku sambil tersenyum. Ia membalas senyumanku dan
melnjutkan pr nya lagi. Hatiku berdesir, ia benar-benar tampan!
Beberapa menit kemudian..
“akhirnya,
pr ku selesai juga!. Ayo kita pulang” ajak Taemin. Kami pun meninggalkan perpustakaan.
Tampaknya cuaca tidak bersahabat. Tetesan-tetesan hujan jatuh dari langit.
“aish!
Aku tidak membawa payung!” kata ku kesal.
“aku
juga” jawab Taemin. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. “aku ada latihan
hari ini. kami (SHINee) akan debut di jepang. Aku tak mau terlambat
latihan”lanjutnya.
“lantas?
Apa yang akan kau lakukan? Diluar hujan!”
Taemin melepaskan jasnya dan
menggunakannya untuk menutupi kepala. “kau mau ikut?” katanya
“apa?
kau bisa terkena flu!”jawabku.
“ayolah,
ini akan sangat menyenangkan!”. Aku memandang wajah Taemin dalam. Ia terlihat
sangat exited.
“baiklah”
aku berdiri disamping Taemin. Ia melindungi kepala kami dengan jasnya. Kemudian
kami berlari menerobos hujan menuju halte bus. Sesampainya di halte bus, kami
berdua basah kuyup. Tapi kami tertawa bahagia. Akhirnya kami berpisah. Aku
masuk kedalam bus dan Taemin masuk kedalam mobil menagernya. Keesokan harinya
kami terserang flu.
***
“rupanya
kau disini” kataku saat tiba di atap gedung sekolah. Taemin sudah menungguku.
Ia sedang memandangi langit yang tak menampakkan kecerahannya.
“untuk
apa kau mengajakku kemari? Kenapa kau masih ada disini? Bukankah beberapa hari
lagi kau akan pergi ke Jepang? Apa kau tidak berkemas?”
“pertanyaanmu
banyak sekali” jawabnya. Aku mengambil tempat di samping Taemin dan
mengikutinya, memandangi langit.
“flu-mu
sudah sembuh?” Tanya Taemin.
“hm
mm” aku mengiyakan. “kau sendiri?”
“sudah
sembuh” jawabnya sambil tersenyum.
“untuk
mu” kataku sambil memberikan sebotol susu rasa strawberry pada Taemin.
“terima
kasih” jawabnya. Ia meneguk susu tersebut. “aku sudah berada disampingmu,
mengapa kau tidak tertidur di pundakku lagi?”
“apa?!”
kataku tak percaya. Ternyata ia masih mengingat kejadian itu. “kenapa kau
berbicara seperti itu? Kau tahu betapa malu nya aku saat tersadar aku telah
tidur di pundak orang yang tak ku kenal”
“sekarang
kau telah mengenaliku. Tidurlah di pundakku atau bersandarlah padaku. Itu
membuatku lebih baik. Aku ingin menanggung beban yang kau rasakan juga”
Jantung ku berdegup lebih kencang, ‘Aku ingin menanggung beban yang kau rasakan
juga’ apa maksud perkataannya itu?
“ya
sudah. Jika kau tidak mau, aku yang akan tidur di pundakmu” sesaat kemudian
Taemin merapatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Jantungku
berdegup lebih kencang.
“kau
lelah?” tanyaku.
“sangat
lelah” jawabnya. “disaat gadis-gadis lain mengejarku, disaat mereka mengelilingiku,
aku tak merasa nyaman. Kau satu-satunya gadis yang membuatku merasa nyaman saat
aku bersamamu. Kau tak memandang siapa aku, kau tidak meneriakan namaku,
disampingmu aku bisa menjadi diriku sendiri. Kau memandangku seperti manusia
pada umumnya. Tidak men-dewa-kan ku seperti artis”
Aku diam seribu bahasa. Mencerna
kata-katanya. Aku mencoba meredup degup jantungku yang semakin tak karuan ini.
“udara sangat dingin disini, aku yakin sebentar lagi akan turun hujan. Pulang
lah, aku tak ingin kau terserang flu lagi”kataku pada Taemin.
“malam
ini, aku akan ada di salah satu acara tv. Aku ingin kau melihatnya”
“Yah!
Raina! Acara temanmu telah tayang!” kata Jinyoung bersemangat duduk di depan
tv. Aku duduk di sampingnya sambil memegang mangkuk Ramyeon ku.
“bagaimana
pendapat kalian tentang seorang gadis? Bertambahnya usia pasti membuat kalian mulai
menyukai seorang gadis” kata si MC. Para member SHINee hanya tersenyum
malu-malu mendengar pertanyaan itu. “bagaimana denganmu, Jong Hyun-shi?”
“hm..
ini tidak bisa dipungkiri lagi, aku telah memiliki seorang pacar”
“wow,
kau jujur sekali. Bagaimana dengan yang lain?” Tanya MC pada Onew, Minho,
Taemin dan Key.
“diantara
kami berempat, magnae Taemin lah yang saat ini sedang jatuh cinta” jawab Key.
“bisa
kau ceritakan, Taemin?”
Taemin terlihat tersipu malu untuk
menceritakan masalah pribadinya. “ya. Aku menyukai seorang gadis. Aku bertemu
dengannya di bandara beberapa minggu yang lalu. Gadis itu terlihat sangat
lelah. Ia menyandarkan kepalanya dipundakku dan setelah itu ia terlelap. Sejak
pertemuan yang tak disengaja itu, aku selalu merasa gelisah setiap kali aku tidak
melihatnya”
Jinyoung menolehkan kepalanya
padaku. Napasku terasa tercekat. Aku mengerjapkan mata dengan cepat. Dunia
terasa seperti berhenti berputar. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja
kudengar. Aku menoleh melihat Jinyoung yang juga sedang melihatku. Kami berdua
sungguh-sungguh tidak percaya. Jinyoung berkata dengan sangat hati-hati, ”gadis..
yang di maksud Taemin itu…” .aku hanya menjawabnya dengan tatapan kosong tidak
percaya.
Malam itu terasa sulit untuk
menutupkan mata. Kata-kata Taemin di acara tersebut selalu terdengar di telingaku.
Terus menerus terdengar seperti kaset yang sudah rusak.
Keesokan harinya aku sudah duduk di
bangku-ku menunggu Taemin datang. Tak lama kemudian lelaki itu datang dengan
berkata “selamat pagi” kepada orang-orang yang menyapanya. Ia duduk di
sampingku seperti tidak terjadi apa-apa tadi malam. Mungkin baginya tidak, tapi
bagiku? Aku tidak bisa tidur karena memikirkannya. Apa yang harus aku lakukan?
Apa aku harus bertanya? Ya. Mungkin itu harus aku lakukan supaya aku bisa tidur
nyenyak malam ini. aku menarik napas panjang. Saat ku buka mulutku untuk
melontarkan pertanyaan, aku mengurungkan niatku karena sonsengnim datang dan
memulai pelajaran. Pelajaran yang paling aku sukai ini terasa membosankan.
Pikiranku jauh melayang pada lelaki yang duduk disampingku ini. sesekali aku
meliriknya ketika ia sedang memperhatikan sonsengnim, atau ketika ia sedang
mencatat sesuatu.
“terima
kasih untuk pertemuan kali ini. jangan lupa kerjakan pr kalian”
“ne,
sonsengnim”jawab serempak anak-anak di dalam kelas. Sonsengnim pun meninggalkan
kelas. Ini kesempatanku untuk bertanya. Taemin sedang mencatat tulisan yang ada
di papan tulis. Sebenarnya aku pun sedang mancatatnya. tapi, aku kumpulkan
keberanian untuk bertanya pada Taemin.
“Tae..min
.. ssi..” kataku pelan.
“hmm..”
jawabnya sambil menulis
“bolehkah
aku bertanya sesuatu?”
“tentu
saja”
“tentang
acara tv semalam. Kau mengatakan bahwa kau menyukai gadis yang tertidur di
pundakmu saat berada di bandara. Apa maksudmu? Apa gadis itu..”
Taemin meletakkan pulpennya dan
memutar kepalanya kearahku. Ia menatapku dalam.”ya. aku mencintaimu. Jadilah
pacarku”.
Aku merasa tak bisa bernapas.
jantungku berdegup dua kali lebih kencang. Dan pada saat itu juga aku tidak
bisa untuk tidak menolaknya.
“besok
aku akan pergi ke Jepang. Katakan, apa yang kau inginkan?” kata Taemin saat
makan siang.
“aku?
Ingin apa ya? Aku sedang tak ingin apa-apa”
“ayolah,
katakan saja. Aku ingin memberimu sesuatu”
“hm…”
aku mencoba mencari apa yang sedang aku inginkan.
“katakan
saja. Aku telah jatuh di hatimu. Apa yang kau inginkan, aku ingin
mengabulkannya”
“walaupun
ini kedengarannya mustahil, tapi aku ingin melihatmu setiap hari”.
Taemin tersenyum tipis. “walaupun
itu mustahil, aku akan mencoba untuk melakukannya. Aku akan menghubungimu
setiap hari”
Kami
berdua berjalan meninggalkan sekolah. Ku genggam erat tangan Taemin seakan
takut kehilangannya.
“kau
berangkat jam berapa? Aku ingin mengantarmu ke bandara”
“jangan
lakukan itu”
“kenapa?
Aku juga ingin meneriakkan namamu seperti para fans mu”
“jika
kau bergabung bersama mereka dan juga ikut menerikan namaku, aku takut tak bisa
melihatmu. Aku tak ingin melihatmu berdesak-desakkan bersama mereka. Aku telah
membawamu kedalam kehidupanku. Cepat atau lambat, mereka juga pada media akan
mengetahui bahwa gadis yang kucintai itu kau. Jika kau ikut ke bandara untuk
mengantarku atau bahkan menjemputku, kau bisa terkena teror dari mereka. Aku
tak mau itu terjadi padamu. Kau diam saja dirumah. Aku akan menghubungimu. Kau
mengerti?”
Aku
mengangguk mengiyakan. Tapi aku tak bisa menyembunyikan raut wajah kecewa ku.
“kalau
begitu, aku hanya bisa mengantarmu sampai disini?”
Taemin mengangguk. “bus mu telah
datang”
“kenapa
bus nya cepat sekali datang?!” kataku kesal.
“Raina,
lihat aku” kata Taemin. Sebenarnya aku tak ingin melihatnya. Aku takut jika aku
melihatnya, aku tak mau melihat ia pergi. Tapi akhirnya aku mengangkat wajahku
dan menatap matanya. Ia menarikku kedalam pelukannya. Aku bisa mendengarkan
degup jantungnya seakan berkata ‘aku pun tak ingin pergi. Tapi tenang saja, ini
hanya untuk sementara. Semua akan baik-baik saja’. Aku melepaskan pelukannya.
“aku
akan merindukanmu” katanya. Dan sebuah kecupan darinya mendarat di keningku.
“jaga kesehatan mu”
“kau juga” jawabku. aku melambaikan tanganku dan
memasuki bus berwarna hijau yang telah menungguku.
Satu
bulan, dua bulan, tiga bulan. Ya. Hari ini tepat 3 bulan aku menjadi pacarnya.
Sejak SHINee menggelar konser perdana nya di Jepang, jadwal mereka menjadi
semakin sibuk. Interview oleh majalah, menjadi tamu di radio, muncul di acara
tv, mengadakan fansmeet di berbagai daerah, dan sebagainya. Bulan depan mereka
akan merilis single debutnya untuk di Jepang. Dan minggu lalu aku melihat
foto-foto mereka sedang berada di Paris bersama rekan-rekannya dari SM town.
Entah kapan Taemin mendarat di Korea. Entah kapan pula aku bisa melihatnya
dihadapanku secara langsung.
Saat
ia berada di Jepang, ia sering meng upload videonya ke youtube yang hanya
berdurasi 30 detik. Ia seperti segaja meng upload video itu untuk ku. “aku baru
tiba di Jepang. Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah tidur? Aku akan selalu
merindukanmu”. Jika berada di Korea, ia masih bisa menghubungiku melalui video
call, atau kita hanya bertelepon biasa. Jika aku bertemu dengannya di sekolah,
ia tak banyak bicara. Ia hanya memegang erat tanganku selama pelajaran
berlangsung.
Tapi
sudah dua minggu ini, ia tidak sekolah. Ia pun tidak memeberi kabar. Tidak
menghubungiku sama sekali. Aku tahu, mungkin ia masih berada di Paris. Tapi
megapa ia tidak membuat video seperti yang ia lakukan saat ia berada di Jepang?
Keinginanku
untuk melihatnya setiap hari memang mustahil. Apa yang terjadi saat ini adalah
sebuah resiko berhubungan dengan artis terkenal. Seharusnya aku siap untuk
menerima resiko ini. tapi tampaknya aku tidak siap. Aku merindukannya. Saat
ini, aku terlanjur mencintainya.
Ku
buka laptop ku. sudah beberapa hari aku tidak membuka email ku. saat aku
membukanya, ada email masuk. Entah dari siapa. Ku kira itu sebuah virus. Tapi
saat ku buka, munculah sebuah video. Ku kira Taemin yang berada di video itu.
Ternyata bukan. Minho yang muncul.
“anneyong!.
Aku tahu. Sebenarnya kau menginginkan Taemin yang muncul di video ini. aku
hanya ingin berbicara beberapa hal padamu. Aku tahu kau sangat kesal ataupun
bimbang karena Taemin. Tapi percayalah, Taemin sangat mencintaimu. Kau tahu,
hampir setiap hari ia membicarakan tentang dirimu. Setiap ia tidak melihatmu,
ia selalu merasa gelisah. Setiap hari ia mencari waktu luang untuk
menghubungimu. Aku tahu kau ingin bertemu dengannya, kau ingin berbicara banyak
dengannya, kau ingin mengahabiskan waktu dengannya.
“Sebagai
lelaki, aku mengerti apa yang dirasakan oleh Taemin. Aku tahu, ia ingin membuat
video seperti ini. tapi kau harus mengerti. Kami tidak mempunyai banyak waktu.
Bahkan untuk beristirahat. Saat ini Taemin sedang tertidur” Minho mengarahkan
kamera nya pada Taemin yang sedang tertidur di sofa. “kau lihat? Ia seperti
anak kecil ketika sedang tertidur” candanya. “bersabarlah sebentar lagi, tunggu
lah ia. Ia akan pulang. Ia pasti pulang”. Video itu berakhir. Video itu dikirim
dua hari yang lalu. Aku menghela napas.
Video itu meringakankan sedikit babanku. Walaupun aku tetap merindukannya, aku
harus bersabar. Ku masukkan laptop kedalam tasku dan beranjak pulang.
Langit
negeri ginseng tak menampakkan kecerahannya. Aku harus berlari sangat cepat
menuju halte bus sebelum tetesan hujan membasahi tubuhku. Saat baru keluar
gerbang sekolah, hujan telah mengguyur tubuhku. Aku hendak membuka blazer yang
sedang ku pakai untuk menutupi kepalaku. Tapi aku tak melakukannya. Seluruh
tubuhku terlanjur basah tersiram air hujan. Aku menatap langit. Hujan deras
semakin mengguyur tubuhku. Kupejamkan mata dan berdoa pada tuhan. Aku
merindukan Taemin, aku ingin bertemu dengannya.
“Yah!
Gadis yang pernah tertidur di pundak lelaki tampan! Sedang apa kau disana? apa
kau sedang bermain sebuah drama?” teriak seorang lelaki yang sedang duduk di
halte bus.
“Yah! Pria
yang pernah menyatakan cinta di televisi! mengapa kau berdiam diri disana? aku
sudah lama menunggumu” balasku. Kami berdua tertawa. Taemin berjalan menembus
hujan. Aku pun berlari menyambutnya. Ia memelukku erat. “aku merindukanmu”
bisikku.
“nado,
bogoshipo” jawabnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar