Selasa, 25 September 2012

Voilà, Taemin!

Title      : Voilà, Taemin!
Author :  Intaonta
Leght    : Chaptered
Cast      : Lee Taemin
               Raina (fiction cast)
               Jinyoung


“aish! Dingin sekali disini” gumamku saat menginjakkan kaki di Bandara Incheon. Seharusnya aku tidak ikut merayakan tahun baru di Jakarta bersama keluarga ku minggu kemarin, karena itu membuatku sulit beradaptasi dengan cuaca di Seoul yang super dingin ini. walaupun telah satu tahun tinggal di negeri ginseng ini, aku belum terbiasa dengan cuaca ekstrem yang terasa menusuk tulang ini. setiap aku kembali dari Indonesia, setidaknya selama 3 hari aku meringkuk di tempat tidur karena tubuhku belum siap untuk  menerima cuaca dingin.
Aku menggerakkan tubuhku untuk meghilangkan rasa dingin. Tapi itu tak berhasil. Akhirnya aku mencari tempat duduk dan mencoba menghangatkan diri disana.
“bolehkah aku duduk disini?” Tanya seorang lelaki yang ingin duduk di sebelahku.
“tentu. Silahkan” jawabku. aku menggeser tubuhku untuknya. Beberapa saat kemudian seorang kakek beserta 3 orang cucu nya duduk di sisi lain dari tubuhku. Oh tidak, aku di apit oleh orang-orang yang tidak dikenal. Apa di Korea ada pencopet yang menapit mangsanya seperti yang dilakukan pencopet-pencopet di Indonesia? apa mungkin kakek di sebelahku ingin mencopet? Mungkin saja ia ingin melakukannya untuk menghidupi ketiga cucunya itu. Atau mungkin lelaki di sebelahku yang akan menyerangku? Tapi dilihat dari denim yang ia pakai, tampaknya ia bukan mencopet. Aku tau, merek dan harga denim yang ia pakai tidak lah murah. Ya, dia bukan pencopet. Terlalu memikirkan tentang pencopetan aku tersadar bahwa bangku yang aku duduki ini terasa semakin sempit. Oh ternyata penghuni bangku ini bertambah satu, yaitu istri dari si kakek.
“cuaca hari ini sangat dingin, ya kan?”kata lelaki di sebelahku ini.
“iya” jawabku singkat tanpa menoleh kearahnya. Sepertinya ia remaja sepertiku, tapi aku tak terlalu memikirkannya karena aku teringat kata-kata mama : jangan berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Yah, walaupun mama mengatakan itu pada saat aku berumur lima tahun.
“kau sedang menunggu seseorang?”Tanya nya.
“ne, aku sedang menunggu sepupuku. Kenapa ia lama sekali ya?ah sebaiknya aku telpon saja” aku merogoh ponsel didalam kantong jaket ku dan menelpon Jinyoung. “Yah! Jinyoung! Kau kemana saja? Kau tau tahu aku sudah membeku di Bandara?”
“aigoo! Maafkan aku Raina” katanya di ujung telepon. “aku lupa kalau kau pulang hari ini. 30 menit lagi aku tiba di bandara”
“aish!” geramku. Ku masukan kembali ponsel ku kedalam kantong jaketku. Aku menggosok-gosok kedua telapak tanganku memberikan kehangatan. Sepertinya aku beruntung diapit oleh beberapa  orang disini. Aku merasa lebih hangat. Ku sentuh pipiku yang terasa dingin seperti es. Ku tutup hidung dan mulut ku dengan telapak tanganku supaya tetap hangat. Ah, ini lebih baik dan terasa nyaman. Rasa kantukku muncul sisa penerbagan tadi. Tak lama kemudian aku berada di dalam mimpi.
“Raina.. raina.. bangunlah” kata Jinyoung menepuk pipiku. Aku membuka mata dan mengagkat kepalaku yang tersandar pada pundak lelaki di sebelahku ini. aku tidak melihat kakek di sebelahku. Ia dan istrinya serta cucu-cucunya telah pergi.
“syukurlah kau sudah bangun” tambah Jinyoung. “maafkan kami,” kata Jinyoung sambil membungkukan badan kepada lelaki di sebelahku ini. sepertinya aku harus meminta maaf juga, karena telah tidur di pundaknya. Aku menoleh ke arahnya, astaga! Aku tak percaya lelaki yang di sampingku ini adalah Taemin. Lee Taemin . SHINee Taemin!!
“maafkan aku” kataku sambil membungkuk sedalam-dalamnya. Sampai-sampai aku tak mau mengangkat kepalaku lagi karena malu telah tertidur di pundaknya. Bagaimana wajahku saat aku tidur tadi? Apakah aku mendengkur? Atau kah aku.. ah aku tak mau membahasnya!
“maafkan aku” untuk kesekian kalinya aku membungkuk di hadapan Taemin.
“sudah, tak apa” kata nya sambil tersenyum kecil. Aku berusaha membalas senyumannya semanis mungkin, tapi rasanya senyumanku ini terasa sangat hambar. Aku menarik tangan Jinyoung. Untuk terakhir kalinya kami membungkuk bersamaan. Kami berjalan mundur, berbalik dan kabur dari hadapan Taemin dengan membawa rasa malu.
***

“benarkah tidak ada kamera yang mengambil gambar?” kataku pada Jinyoung yang sedang mengaduk sup-nya.
“tidak”
“Satu kamera pun?”
“hm.. tidak”
“fan cam?”
“tidak ada. Sudah empat jam berlalu. Tidak ada pembahasan di Internet tentang dirimu yang tertidur di pundak Taemin”.  Aku menghela napas mendengarnya.
“aku tak habis pikir, kau bisa tertidur di pundak Taemin” lanjut Jinyoung
“Yah! Siapa yang membuatku menunggu begitu lama?”
“dan aku tak bisa membayangkan bagaimana jika ada fans  yang mengambil gambar mu lalu meng upload nya ke internet. Dunia akan mengetahui ada gadis Indonesia yang ngiler di pundak Taemin”
“aku gak ngiler kok!. Aku merasa tertidur sangat cantik seperti sleeping beauty”. Aku terdiam sesaat. Aku tak ingat bagaimana aku tertidur. “aaaaaa… itu tak boleh terjadi!!” kataku sambil memegangi kepala. Betapa memalukannya diriku. Rasanya aku ingin melakukan hara-kiri menggunakan sendok sayur yang sedang dipegang Jinyoung.

***
                “kudengar Taemin pindah sekolah ke sekolah seni ya?” Tanya Jinyoung.
                “hm..” aku mengiyakan.
                “bukan kan kau juga bersekolah disana?”
                “ya. Sejak hari ini Taemin menjadi teman sekelasku”
Tadi pagi,
Aku sedang memandangi langit melalui jendela kelas saat sonsengnim memasuki kelas.
                “hari ini kita kedatangan siswa baru. Dulu ia bersekolah di Cheongdam Senior High School. Mungkin kalian telah mengenalinya”. Semua siswa dikelas bertanya-tanya. Siapakah siswa baru ini?
                “masuklah” kata sonsengnim. Siswa itu pun melangkahkan kaki kedalam kelas. Kyaaaaa~~ beberapa teman-temanku berteriak histeris saat melihatnya. Aku pun sulit bernapas saat ia memasuki kelas.
                “aku tak percaya! Aku sekelas dengan Taemin!!” teriak Hye Lim.
                “anneyong!” sapa Taemin. Saat ini seluruh siswi dikelas dibuat melted oleh senyum nya.
                “semoga kalian bersikap baik pada teman baru kalian ini. silahkan duduk!” kata sonsengnim.
Taemin berjalan menuju meja kosong dibelakang. “Oppa, duduklan disampingku” Teriak Sulli. Ia tidak histeris kali ini, tapi ia menangis!. Taemin hanya mengangguk kecil menghadapinya. Ia melihat Junsu, teman sebangku-ku.
                “kau ingin duduk disini?”Tanya Junsu. Taemin mengangguk Kemudian Junsu pindah ke bangku belakang. Taemin menarik kursi di sebelahku, lalu mendudukinya.
                “anneyong! Senang berjumpa denganmu lagi” sapa Taemin. Aku hanya sedikit megangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Ingin rasanya ku tenggelamkan wajaku pada buku yang berada di atas meja.

Jinyoung mendecakkan lidah. “kau menyedihkan sekali, disaat orang-orang ingin bertemu dengannya, kau malah menanggung malu”
                “iya. aku ini kurang beruntung. Kalau mengingat kejadian di Bandara tempo hari lalu aku merasa sangat malu saat melihat wajahnya. Tapi, menurutku, Taemin anak yang baik. Tadi ia mengajakku makan siang bersama”
                “kau makan siang bersama Taemin?”
                “hm..”aku mengiyakan
                “kau masih mempunyai muka dihadapannya?”
                “ah, aku sudah tidak terlalu memikirkannya. Untuk apa aku memikirkannya terus, Taemin pun bersikap seperti tidak terjadi apa-apa”
***
Perpustakaan cukup ramai hari ini. aku meletakkan kembali buku-buku yang telah kupinjam 3 hari yang lalu kedalam rak nya.
                “pantas saja buku ini tak ada, rupanya kau yang meminjamnya” kata seseorang yang suaranya tak asing lagi ditelingaku.
                “Taemin-ssi? Ku kira kau sudah pulang?”
                “aku harus mengerjakan beberapa pr ku dulu. Karena buku ini kau pinjam, aku belum mengerjakannya. Kau ada waktu hari ini?”
                “ya. Aku memiliki banyak waktu hari ini. ada apa?”
                “temani aku ya? Karena kau meminjam buku ini, kau telah menghambat ku untuk mengerjakan pr”
                “baiklah” jawabku. kami duduk di bangku yang telah disediakan di perpustakaan. Taemin mengerjakan pr nya, sedangkan aku hanya memandanginya di hadapannya.
                “apakah aku cukup tampan untuk di pandangi?” Kata Taemin mengejutkanku.
                “apa?”
Taemin meletakkan pulpennya dan memandangku. “aku tahu, sejak tadi kau memandangi wajahku. Apakah aku cukup tampan?”
Aku mengalihkan pandanganku dengan sedikit rasa terkejut. Sejak tadi ia tertunduk fokus pada buku di depannya, tapi ia mengetahui apa yang ku lakukan.
                “sudah, kerjakan saja pr mu!” jawabku.
                “aku anggap kau mengatakan iya”
                “hey, aku tak mengatakan itu!” kataku sambil tersenyum. Ia membalas senyumanku dan melnjutkan pr nya lagi. Hatiku berdesir, ia benar-benar tampan!
Beberapa menit kemudian..
                “akhirnya, pr ku selesai juga!. Ayo kita pulang” ajak Taemin. Kami pun meninggalkan perpustakaan. Tampaknya cuaca tidak bersahabat. Tetesan-tetesan hujan jatuh dari langit.
                “aish! Aku tidak membawa payung!” kata ku kesal.
                “aku juga” jawab Taemin. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. “aku ada latihan hari ini. kami (SHINee) akan debut di jepang. Aku tak mau terlambat latihan”lanjutnya.
                “lantas? Apa yang akan kau lakukan? Diluar hujan!”
Taemin melepaskan jasnya dan menggunakannya untuk menutupi kepala. “kau mau ikut?” katanya
                “apa? kau bisa terkena flu!”jawabku.
                “ayolah, ini akan sangat menyenangkan!”. Aku memandang wajah Taemin dalam. Ia terlihat sangat exited.
                “baiklah” aku berdiri disamping Taemin. Ia melindungi kepala kami dengan jasnya. Kemudian kami berlari menerobos hujan menuju halte bus. Sesampainya di halte bus, kami berdua basah kuyup. Tapi kami tertawa bahagia. Akhirnya kami berpisah. Aku masuk kedalam bus dan Taemin masuk kedalam mobil menagernya. Keesokan harinya kami terserang flu.
***
                “rupanya kau disini” kataku saat tiba di atap gedung sekolah. Taemin sudah menungguku. Ia sedang memandangi langit yang tak menampakkan kecerahannya.
                “untuk apa kau mengajakku kemari? Kenapa kau masih ada disini? Bukankah beberapa hari lagi kau akan pergi ke Jepang? Apa kau tidak berkemas?”
                “pertanyaanmu banyak sekali” jawabnya. Aku mengambil tempat di samping Taemin dan mengikutinya, memandangi langit.
                “flu-mu sudah sembuh?” Tanya Taemin.
                “hm mm” aku mengiyakan. “kau sendiri?”
                “sudah sembuh” jawabnya sambil tersenyum.
                “untuk mu” kataku sambil memberikan sebotol susu rasa strawberry pada Taemin.
                “terima kasih” jawabnya. Ia meneguk susu tersebut. “aku sudah berada disampingmu, mengapa kau tidak tertidur di pundakku lagi?”
                “apa?!” kataku tak percaya. Ternyata ia masih mengingat kejadian itu. “kenapa kau berbicara seperti itu? Kau tahu betapa malu nya aku saat tersadar aku telah tidur di pundak orang yang tak ku kenal”
                “sekarang kau telah mengenaliku. Tidurlah di pundakku atau bersandarlah padaku. Itu membuatku lebih baik. Aku ingin menanggung beban yang kau rasakan juga”
Jantung ku berdegup lebih kencang, ‘Aku ingin menanggung beban yang kau rasakan juga’ apa maksud perkataannya itu?
                “ya sudah. Jika kau tidak mau, aku yang akan tidur di pundakmu” sesaat kemudian Taemin merapatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Jantungku berdegup lebih kencang.
                “kau lelah?” tanyaku.
                “sangat lelah” jawabnya. “disaat gadis-gadis lain mengejarku, disaat mereka mengelilingiku, aku tak merasa nyaman. Kau satu-satunya gadis yang membuatku merasa nyaman saat aku bersamamu. Kau tak memandang siapa aku, kau tidak meneriakan namaku, disampingmu aku bisa menjadi diriku sendiri. Kau memandangku seperti manusia pada umumnya. Tidak men-dewa-kan ku seperti artis”
Aku diam seribu bahasa. Mencerna kata-katanya. Aku mencoba meredup degup jantungku yang semakin tak karuan ini. “udara sangat dingin disini, aku yakin sebentar lagi akan turun hujan. Pulang lah, aku tak ingin kau terserang flu lagi”kataku pada Taemin.
                “malam ini, aku akan ada di salah satu acara tv. Aku ingin kau melihatnya”

                “Yah! Raina! Acara temanmu telah tayang!” kata Jinyoung bersemangat duduk di depan tv. Aku duduk di sampingnya sambil memegang mangkuk Ramyeon ku.
                “bagaimana pendapat kalian tentang seorang gadis? Bertambahnya usia pasti membuat kalian mulai menyukai seorang gadis” kata si MC. Para member SHINee hanya tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan itu. “bagaimana denganmu, Jong Hyun-shi?”
                “hm.. ini tidak bisa dipungkiri lagi, aku telah memiliki seorang pacar”
                “wow, kau jujur sekali. Bagaimana dengan yang lain?” Tanya MC pada Onew, Minho, Taemin dan Key.
                “diantara kami berempat, magnae Taemin lah yang saat ini sedang jatuh cinta” jawab Key.
                “bisa kau ceritakan, Taemin?”
Taemin terlihat tersipu malu untuk menceritakan masalah pribadinya. “ya. Aku menyukai seorang gadis. Aku bertemu dengannya di bandara beberapa minggu yang lalu. Gadis itu terlihat sangat lelah. Ia menyandarkan kepalanya dipundakku dan setelah itu ia terlelap. Sejak pertemuan yang tak disengaja itu, aku selalu merasa gelisah setiap kali aku tidak melihatnya”
Jinyoung menolehkan kepalanya padaku. Napasku terasa tercekat. Aku mengerjapkan mata dengan cepat. Dunia terasa seperti berhenti berputar. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku menoleh melihat Jinyoung yang juga sedang melihatku. Kami berdua sungguh-sungguh tidak percaya. Jinyoung berkata dengan sangat hati-hati, ”gadis.. yang di maksud Taemin itu…” .aku hanya menjawabnya dengan tatapan kosong tidak percaya.
Malam itu terasa sulit untuk menutupkan mata. Kata-kata Taemin di acara tersebut selalu terdengar di telingaku. Terus menerus terdengar seperti kaset yang sudah rusak.

Keesokan harinya aku sudah duduk di bangku-ku menunggu Taemin datang. Tak lama kemudian lelaki itu datang dengan berkata “selamat pagi” kepada orang-orang yang menyapanya. Ia duduk di sampingku seperti tidak terjadi apa-apa tadi malam. Mungkin baginya tidak, tapi bagiku? Aku tidak bisa tidur karena memikirkannya. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus bertanya? Ya. Mungkin itu harus aku lakukan supaya aku bisa tidur nyenyak malam ini. aku menarik napas panjang. Saat ku buka mulutku untuk melontarkan pertanyaan, aku mengurungkan niatku karena sonsengnim datang dan memulai pelajaran. Pelajaran yang paling aku sukai ini terasa membosankan. Pikiranku jauh melayang pada lelaki yang duduk disampingku ini. sesekali aku meliriknya ketika ia sedang memperhatikan sonsengnim, atau ketika ia sedang mencatat sesuatu.
                “terima kasih untuk pertemuan kali ini. jangan lupa kerjakan pr kalian”
                “ne, sonsengnim”jawab serempak anak-anak di dalam kelas. Sonsengnim pun meninggalkan kelas. Ini kesempatanku untuk bertanya. Taemin sedang mencatat tulisan yang ada di papan tulis. Sebenarnya aku pun sedang mancatatnya. tapi, aku kumpulkan keberanian untuk bertanya pada Taemin.
                “Tae..min .. ssi..” kataku pelan.
                “hmm..” jawabnya sambil menulis
                “bolehkah aku bertanya sesuatu?”
                “tentu saja”
                “tentang acara tv semalam. Kau mengatakan bahwa kau menyukai gadis yang tertidur di pundakmu saat berada di bandara. Apa maksudmu? Apa gadis itu..”
Taemin meletakkan pulpennya dan memutar kepalanya kearahku. Ia menatapku dalam.”ya. aku mencintaimu. Jadilah pacarku”.
Aku merasa tak bisa bernapas. jantungku berdegup dua kali lebih kencang. Dan pada saat itu juga aku tidak bisa untuk tidak menolaknya.

                “besok aku akan pergi ke Jepang. Katakan, apa yang kau inginkan?” kata Taemin saat makan siang.
                “aku? Ingin apa ya? Aku sedang tak ingin apa-apa”
                “ayolah, katakan saja. Aku ingin memberimu sesuatu”
                “hm…” aku mencoba mencari apa yang sedang aku inginkan.
                “katakan saja. Aku telah jatuh di hatimu. Apa yang kau inginkan, aku ingin mengabulkannya”
                “walaupun ini kedengarannya mustahil, tapi aku ingin melihatmu setiap hari”.
Taemin tersenyum tipis. “walaupun itu mustahil, aku akan mencoba untuk melakukannya. Aku akan menghubungimu setiap hari”
                Kami berdua berjalan meninggalkan sekolah. Ku genggam erat tangan Taemin seakan takut kehilangannya.
                “kau berangkat jam berapa? Aku ingin mengantarmu ke bandara”
                “jangan lakukan itu”
                “kenapa? Aku juga ingin meneriakkan namamu seperti para fans mu”
                “jika kau bergabung bersama mereka dan juga ikut menerikan namaku, aku takut tak bisa melihatmu. Aku tak ingin melihatmu berdesak-desakkan bersama mereka. Aku telah membawamu kedalam kehidupanku. Cepat atau lambat, mereka juga pada media akan mengetahui bahwa gadis yang kucintai itu kau. Jika kau ikut ke bandara untuk mengantarku atau bahkan menjemputku, kau bisa terkena teror dari mereka. Aku tak mau itu terjadi padamu. Kau diam saja dirumah. Aku akan menghubungimu. Kau mengerti?”
                Aku mengangguk mengiyakan. Tapi aku tak bisa menyembunyikan raut wajah kecewa ku.
                “kalau begitu, aku hanya bisa mengantarmu sampai disini?”
Taemin mengangguk. “bus mu telah datang”
                “kenapa bus nya cepat sekali datang?!” kataku kesal.
                “Raina, lihat aku” kata Taemin. Sebenarnya aku tak ingin melihatnya. Aku takut jika aku melihatnya, aku tak mau melihat ia pergi. Tapi akhirnya aku mengangkat wajahku dan menatap matanya. Ia menarikku kedalam pelukannya. Aku bisa mendengarkan degup jantungnya seakan berkata ‘aku pun tak ingin pergi. Tapi tenang saja, ini hanya untuk sementara. Semua akan baik-baik saja’. Aku melepaskan pelukannya.
                “aku akan merindukanmu” katanya. Dan sebuah kecupan darinya mendarat di keningku. “jaga kesehatan mu”
                “kau  juga” jawabku. aku melambaikan tanganku dan memasuki bus berwarna hijau yang telah menungguku.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Ya. Hari ini tepat 3 bulan aku menjadi pacarnya. Sejak SHINee menggelar konser perdana nya di Jepang, jadwal mereka menjadi semakin sibuk. Interview oleh majalah, menjadi tamu di radio, muncul di acara tv, mengadakan fansmeet di berbagai daerah, dan sebagainya. Bulan depan mereka akan merilis single debutnya untuk di Jepang. Dan minggu lalu aku melihat foto-foto mereka sedang berada di Paris bersama rekan-rekannya dari SM town. Entah kapan Taemin mendarat di Korea. Entah kapan pula aku bisa melihatnya dihadapanku secara langsung.
                Saat ia berada di Jepang, ia sering meng upload videonya ke youtube yang hanya berdurasi 30 detik. Ia seperti segaja meng upload video itu untuk ku. “aku baru tiba di Jepang. Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah tidur? Aku akan selalu merindukanmu”. Jika berada di Korea, ia masih bisa menghubungiku melalui video call, atau kita hanya bertelepon biasa. Jika aku bertemu dengannya di sekolah, ia tak banyak bicara. Ia hanya memegang erat tanganku selama pelajaran berlangsung.
                Tapi sudah dua minggu ini, ia tidak sekolah. Ia pun tidak memeberi kabar. Tidak menghubungiku sama sekali. Aku tahu, mungkin ia masih berada di Paris. Tapi megapa ia tidak membuat video seperti yang ia lakukan saat ia berada di Jepang?
                Keinginanku untuk melihatnya setiap hari memang mustahil. Apa yang terjadi saat ini adalah sebuah resiko berhubungan dengan artis terkenal. Seharusnya aku siap untuk menerima resiko ini. tapi tampaknya aku tidak siap. Aku merindukannya. Saat ini, aku terlanjur mencintainya.
                Ku buka laptop ku. sudah beberapa hari aku tidak membuka email ku. saat aku membukanya, ada email masuk. Entah dari siapa. Ku kira itu sebuah virus. Tapi saat ku buka, munculah sebuah video. Ku kira Taemin yang berada di video itu. Ternyata bukan. Minho yang muncul.
                “anneyong!. Aku tahu. Sebenarnya kau menginginkan Taemin yang muncul di video ini. aku hanya ingin berbicara beberapa hal padamu. Aku tahu kau sangat kesal ataupun bimbang karena Taemin. Tapi percayalah, Taemin sangat mencintaimu. Kau tahu, hampir setiap hari ia membicarakan tentang dirimu. Setiap ia tidak melihatmu, ia selalu merasa gelisah. Setiap hari ia mencari waktu luang untuk menghubungimu. Aku tahu kau ingin bertemu dengannya, kau ingin berbicara banyak dengannya, kau ingin mengahabiskan waktu dengannya.
                “Sebagai lelaki, aku mengerti apa yang dirasakan oleh Taemin. Aku tahu, ia ingin membuat video seperti ini. tapi kau harus mengerti. Kami tidak mempunyai banyak waktu. Bahkan untuk beristirahat. Saat ini Taemin sedang tertidur” Minho mengarahkan kamera nya pada Taemin yang sedang tertidur di sofa. “kau lihat? Ia seperti anak kecil ketika sedang tertidur” candanya. “bersabarlah sebentar lagi, tunggu lah ia. Ia akan pulang. Ia pasti pulang”. Video itu berakhir. Video itu dikirim dua hari  yang lalu. Aku menghela napas. Video itu meringakankan sedikit babanku. Walaupun aku tetap merindukannya, aku harus bersabar. Ku masukkan laptop kedalam tasku dan beranjak pulang.
                Langit negeri ginseng tak menampakkan kecerahannya. Aku harus berlari sangat cepat menuju halte bus sebelum tetesan hujan membasahi tubuhku. Saat baru keluar gerbang sekolah, hujan telah mengguyur tubuhku. Aku hendak membuka blazer yang sedang ku pakai untuk menutupi kepalaku. Tapi aku tak melakukannya. Seluruh tubuhku terlanjur basah tersiram air hujan. Aku menatap langit. Hujan deras semakin mengguyur tubuhku. Kupejamkan mata dan berdoa pada tuhan. Aku merindukan Taemin, aku ingin bertemu dengannya.
“Yah! Gadis yang pernah tertidur di pundak lelaki tampan! Sedang apa kau disana? apa kau sedang bermain sebuah drama?” teriak seorang lelaki yang sedang duduk di halte bus.
“Yah! Pria yang pernah menyatakan cinta di televisi! mengapa kau berdiam diri disana? aku sudah lama menunggumu” balasku. Kami berdua tertawa. Taemin berjalan menembus hujan. Aku pun berlari menyambutnya. Ia memelukku erat. “aku merindukanmu” bisikku.
                “nado, bogoshipo” jawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar