Mungkin ini kali kedua buat gue
hunting sebuah majalah. Tentunya hal yang terjadi untuk kedua kali berbeda
dengan hal yang pertama. Bedanya, kali ini gue hunting majalah tersebut bukan
keinginan gue, bukan untuk gue, tapi untuk kakak gue. Di hari-hari terakhir tahun
2012 kakak gue heboh saat ada satu majalah baru yang ngebahas tentang j-pop.
Kakak gue yang tergila-gila Toyosaki Aki itu heboh pas tau majalah tersebut
terbit di pertengahan Desember. Ia takut kalau majalah itu udah habis. Sepulang
dari tempat servis hp di Jalan Naripan, ia langsung ke tukang majalah di depan
Jalan Solontongan—tepat langganan gue beli majalah pas sekolah— pas dia kesana,
majalah nya gak ada.
“majalah J-pop? Kalau k-pop mah
banyak” kata si penjual. Pulang ke rumah, dia mengungkapkan kekecewaannya karena
tidak menemukan majalah itu.
“salahnya, pulang dari naripan itu
harus nya ke palasari dulu. Eh, baru inget pas udah di (rumah sakit)
muhammadiyah” gue menganguk mendengarnya. Mengingat jalan tersebut satu arah,
gak bisa putar balik ke palasari. Yaaa, kecuali kalau kita nya jalan kaki.
“ya besok aku coba ke Gramed merdeka
deh. Siapa tau ada” gue mulai bersuara.
“oke, besok inta nyari, aa juga
nyari. Ntar kalau udah nemu, sms!” katanya sambil memberikan selembar uang
berwarna biru.
Keesokan harinya, pulang uas hari
pertama gue langsung ke Gramedia yang ada di Jalan MErdeka. Kaki gue langsung
melangkah ke tempat majalah. Dilihatnya satu persatu majalah yang ada. Majalah
k-pop, kalender suju, shinee dan sebagainya terpampang dimana-mana. Sedangkan
majalah yang gue cari gak ada. Kalau nanya ke mbak atau mas yang jaga, pasti
bilang “majalah j-pop? Kalau majalah k-pop mah banyak” you don’t say! Mbak!
Dari Gramedia merdeka gue berpindah ke
Gunung Agung BIP. Hasilnya sama. Hanya ada majalah Animonster dan majalah game
online yang terpampang. Dan juga aneka majalah k-pop. Sebenernya ada dua tempat
lagi yang bisa gue kunjungi untuk melakukan pemburuan majalah ini. Tapi dengan
kondisi kepala yang agak puyeng, dan maag yang tiba-tiba kambuh, gue memutuskan
dan menetapkan: pencarian hari ini dicukupkan sampai disini. Gue sms kakak gue,
memberi kabar bahwa gue gak berhasil mendapatkan majalah yang ia mau. Kakak gue
nanya,”mau ke TSM?” ia mendapat kabar bahwa majalah itu masih dijual di TSM.
Gue menolaknya dengan halus. Gue gak mau tepar di jalan gara-gara hal ini. Hasil
berburu majalah di hari pertama: Nihil.
Hari besoknya dengan keadaan fisik
yang agak ok, gue melanjutkan pencarian majalah tersebut. Gue mampir ke Lucky
Square. Karena waktu itu gue dapet majalah shinee di Gunung Agung mall ini.
setelah sampai disana, gue shock melihat toko buku itu telah tiada ː̗̀(☉.☉)ː̖́ mungkin mall itu tidak lagi memberikan
keberuntungan buat gue. Tapi gue gak menyerah gitu aja. Masih ada satu tempat
yang belum gue kunjungi.
Trans Studio Mall. Semuanya Nampak berbeda sejak
terakhir gue kesini *iyalah, terakhir gue kesini pertengahan 2011* tampak
berbeda pula saat gue kesini sendirian (⌣̩_⌣)
Oke, tanpa berbelit-belit lebih jauh lagi, gue
langsung menuju Gramed yang ada di lantai dua. Seperti biasa, gua langsung
menuju tempat majalah. Yang gue temui tetap sama, animonster dan majalah game
online. Dan tentunya majalah k-pop. Mengingat sekuat mungkin cover majalah yang
kakak gue pengen: cover warna putih dan ada member AKB48. Masalahnya, gue gak
hapal member AKB 48. Member EXO yang Cuma 12 aja gue bener-bener gak hapal (̾˘̶̀̾ ̯˘̶́̾ ̾̾'̾̾)̾
Melirik ke kanan, ke tempat majalah
yang semua covernya berwarna putih, gue menemukan majalah dengan nama j-pop
culture dengan tulisan berwarna pink. Tanpa berpikir panjang, gue ambil tu majalah.
Kalau ada yang lihat aksi gue pas mengambil majalah tersebut, sama dengan cicak
yang melahap nyamuk. Hap. Langsung di tangkap. Ya begitulah gue, sampe yang
disebelah agak kaget dengan cara ague yang ngambil majalah tuh majalah secara
tiba-tiba. Tanpa ba bi bu gue langsung bayar ke kasir dan pulang.
Ada rasa kepuasan saat gue
mendapatkan majalah itu. Tapi kepuasan ini tentunya berbeda dengan kepuasan pas
perburuan majalah sebelumnya. Kepuasan ini lebih ke… apa ya, ada satu rasa
legaaa banget pas menyadari majalah ini ada ditangan. Ini berbeda dengan yang
waktu itu, mungkin karena suatu hal yang bernama: obsesi. Kali ni gue gak terobsesi
untuk beli majalah itu. Dan bukan hanya tentang majalah itu, gue juga udah gak
terobsesi sama yang lainnya, sama k-pop. Gue udah gak gila seperti dulu lagi.
Seperti… hati gue gak disana lagi. Setiap gue ke acara k-pop, hati gue selalu
bilang: tempat gue bukan disini. Tiap lihat yang fan girling, lihat yang
heboh banget ber fan chat ria, hati gue bilang: gue gak pengin melakukan hal
yang seperti itu. Bukannya gue merasa udah sok dewasa atau apa, tapi… yaaa
masa-masa gue buat melakukan hal seperti itu udah lewat. Udah… seperti… yaaa,
pokoknya gue merasa sekarang ini bukan waktu nya. Bukan masa gue buat ber fan
chat dan heboh ria. Kadang gue berfikir: gue gak seharusnya ada disini.
Dan hal itu yang bikin gue gak enjoy setiap datang ke acara korea. Bukan Cuma
sekali, tapi udah tiga kali. Gue sendiri gak tau kenapa. Mungkin ada yang salah
dalam diri gue. Gue gak benci korea, gue masih suka koreaan, gue masih jadi
pacar Taemin seperti tiga tahun yang lalu, gue masih mengikuti perkembangan musik
mereka. Hanya saja… sekarang cukup tau. Gak lebih dari itu. gue gak membatasi semua
ini, gue gak bikin benteng apapun di dalam diri gue, hanya saja sekarang ini
gue gak mau terobsesi terlalu jauh sama suatu hal. Apapun itu. mungkin disini
letak perbedaannya. Mengapa perburuan majalah ini terasa berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar