Sabtu, 05 Januari 2013

perburuan majalah part II


Mungkin ini kali kedua buat gue hunting sebuah majalah. Tentunya hal yang terjadi untuk kedua kali berbeda dengan hal yang pertama. Bedanya, kali ini gue hunting majalah tersebut bukan keinginan gue, bukan untuk gue, tapi untuk kakak gue. Di hari-hari terakhir tahun 2012 kakak gue heboh saat ada satu majalah baru yang ngebahas tentang j-pop. Kakak gue yang tergila-gila Toyosaki Aki itu heboh pas tau majalah tersebut terbit di pertengahan Desember. Ia takut kalau majalah itu udah habis. Sepulang dari tempat servis hp di Jalan Naripan, ia langsung ke tukang majalah di depan Jalan Solontongan—tepat langganan gue beli majalah pas sekolah— pas dia kesana, majalah nya gak ada.
“majalah J-pop? Kalau k-pop mah banyak” kata si penjual. Pulang ke rumah, dia mengungkapkan kekecewaannya karena tidak menemukan majalah itu.
“salahnya, pulang dari naripan itu harus nya ke palasari dulu. Eh, baru inget pas udah di (rumah sakit) muhammadiyah” gue menganguk mendengarnya. Mengingat jalan tersebut satu arah, gak bisa putar balik ke palasari. Yaaa, kecuali kalau kita nya jalan kaki.
“ya besok aku coba ke Gramed merdeka deh. Siapa tau ada” gue mulai bersuara.
“oke, besok inta nyari, aa juga nyari. Ntar kalau udah nemu, sms!” katanya sambil memberikan selembar uang berwarna biru.
Keesokan harinya, pulang uas hari pertama gue langsung ke Gramedia yang ada di Jalan MErdeka. Kaki gue langsung melangkah ke tempat majalah. Dilihatnya satu persatu majalah yang ada. Majalah k-pop, kalender suju, shinee dan sebagainya terpampang dimana-mana. Sedangkan majalah yang gue cari gak ada. Kalau nanya ke mbak atau mas yang jaga, pasti bilang “majalah j-pop? Kalau majalah k-pop mah banyak” you don’t say! Mbak!
Dari Gramedia merdeka gue berpindah ke Gunung Agung BIP. Hasilnya sama. Hanya ada majalah Animonster dan majalah game online yang terpampang. Dan juga aneka majalah k-pop. Sebenernya ada dua tempat lagi yang bisa gue kunjungi untuk melakukan pemburuan majalah ini. Tapi dengan kondisi kepala yang agak puyeng, dan maag yang tiba-tiba kambuh, gue memutuskan dan menetapkan: pencarian hari ini dicukupkan sampai disini. Gue sms kakak gue, memberi kabar bahwa gue gak berhasil mendapatkan majalah yang ia mau. Kakak gue nanya,”mau ke TSM?” ia mendapat kabar bahwa majalah itu masih dijual di TSM. Gue menolaknya dengan halus. Gue gak mau tepar di jalan gara-gara hal ini. Hasil berburu majalah di hari pertama: Nihil.
Hari besoknya dengan keadaan fisik yang agak ok, gue melanjutkan pencarian majalah tersebut. Gue mampir ke Lucky Square. Karena waktu itu gue dapet majalah shinee di Gunung Agung mall ini. setelah sampai disana, gue shock melihat toko buku itu telah tiada ː̗̀(.)ː̖́  mungkin mall itu tidak lagi memberikan keberuntungan buat gue. Tapi gue gak menyerah gitu aja. Masih ada satu tempat yang belum gue kunjungi.
Trans Studio Mall. Semuanya Nampak berbeda sejak terakhir gue kesini *iyalah, terakhir gue kesini pertengahan 2011* tampak berbeda pula saat gue kesini sendirian (⌣̩_)
Oke, tanpa berbelit-belit lebih jauh lagi, gue langsung menuju Gramed yang ada di lantai dua. Seperti biasa, gua langsung menuju tempat majalah. Yang gue temui tetap sama, animonster dan majalah game online. Dan tentunya majalah k-pop. Mengingat sekuat mungkin cover majalah yang kakak gue pengen: cover warna putih dan ada member AKB48. Masalahnya, gue gak hapal member AKB 48. Member EXO yang Cuma 12 aja gue bener-bener gak hapal (̾˘̶̀̾ ̯˘̶́̾ ̾̾'̾̾)̾  
Melirik ke kanan, ke tempat majalah yang semua covernya berwarna putih, gue menemukan majalah dengan nama j-pop culture dengan tulisan berwarna pink. Tanpa berpikir panjang, gue ambil tu majalah. Kalau ada yang lihat aksi gue pas mengambil majalah tersebut, sama dengan cicak yang melahap nyamuk. Hap. Langsung di tangkap. Ya begitulah gue, sampe yang disebelah agak kaget dengan cara ague yang ngambil majalah tuh majalah secara tiba-tiba. Tanpa ba bi bu gue langsung bayar ke kasir dan pulang.
Ada rasa kepuasan saat gue mendapatkan majalah itu. Tapi kepuasan ini tentunya berbeda dengan kepuasan pas perburuan majalah sebelumnya. Kepuasan ini lebih ke… apa ya, ada satu rasa legaaa banget pas menyadari majalah ini ada ditangan. Ini berbeda dengan yang waktu itu, mungkin karena suatu hal yang bernama: obsesi. Kali ni gue gak terobsesi untuk beli majalah itu. Dan bukan hanya tentang majalah itu, gue juga udah gak terobsesi sama yang lainnya, sama k-pop. Gue udah gak gila seperti dulu lagi. Seperti… hati gue gak disana lagi. Setiap gue ke acara k-pop, hati gue selalu bilang: tempat gue bukan disini. Tiap lihat yang fan girling, lihat yang heboh banget ber fan chat ria, hati gue bilang: gue gak pengin melakukan hal yang seperti itu. Bukannya gue merasa udah sok dewasa atau apa, tapi… yaaa masa-masa gue buat melakukan hal seperti itu udah lewat. Udah… seperti… yaaa, pokoknya gue merasa sekarang ini bukan waktu nya. Bukan masa gue buat ber fan chat dan heboh ria. Kadang gue berfikir: gue gak seharusnya ada disini. Dan hal itu yang bikin gue gak enjoy setiap datang ke acara korea. Bukan Cuma sekali, tapi udah tiga kali. Gue sendiri gak tau kenapa. Mungkin ada yang salah dalam diri gue. Gue gak benci korea, gue masih suka koreaan, gue masih jadi pacar Taemin seperti tiga tahun yang lalu, gue masih mengikuti perkembangan musik mereka. Hanya saja… sekarang cukup tau. Gak lebih dari itu. gue gak membatasi semua ini, gue gak bikin benteng apapun di dalam diri gue, hanya saja sekarang ini gue gak mau terobsesi terlalu jauh sama suatu hal. Apapun itu. mungkin disini letak perbedaannya. Mengapa perburuan majalah ini terasa berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar