Tepatnya minggu lalu, gue menghatamkan novel kedua karya Orihara
Ran, bokutachi no unmei. Seperti
biasa, kalau gue punya sesuatu yang menarik, yang menurut gue itu asik dan gue
suka, tentunya gue berbagi pada orang-orang sekitar—khususnya orang-orang yang
sejenis, sebangsa, dan serumpun sama gue *kalian yang udah kenal gue cukup lama
pasti tau maksudnya*. Dan karenanya, gue bersinopsis tentang novel itu kepada
Idip *gak perlu gue jelasin lagi Idip itu siapa*. Sebenernya sih tujuan gue
bersinopsis tidak lain dan tidak bukan agar sang Idip membaca novel yang sama.
Dengan kata lain, gue menghasutnya. Tapi sebenarnya bukan itu poin yang gue
mau. Gue menginginkan saat-saat pasca dia baca buku itu *biasanya kita ngebahas
buku itu dengan antusias alias heboh*. Idip menyanggupi membaca novel itu, tapi
karena itu novel kedua, gue menyarankan untuk membaca yang pertamanya dulu.
Akan tetapi yang punya novel pertama ialah Alma dan eonni Tia. Alma sangat
sulit untuk dihubungi dan eonni Tia tampaknya sibuk dan juga akan sulit untuk
dihubungi. Intinya, entah kapan bias pinjem novel yang pertama kepada kedua
orang itu.
Selanjutnya Idip malah balik bercertia tentang novel yang
baru ia baca, karya Orizuka dan tentunya ia merekomendasikan nya untuk
gue baca juga.
Tepatnya senin minggu lalu gue pinjem novel itu. Karena UTS
dan tugas yang amat sangat banyak beaucoup *hiperbola yang amat sangat lebay,
novel itu baru gue baca dihari Sabtu. Gak disangka-sangka novel itu beres
dibaca hanya dalam beberapa jam. Suatu rekor muri bagi seorang Sinta Tania bisa
membaca habis sebuah buku lagi
setelah selama ini hanya bisa membaca buku non akademik di perjalanan menuju
kampus.
Ada beberaa pro dan kontra di dalam hati mengenai novel yang
baru dibaca itu, tapi 95% gue suka dan gue merekomendasikan novel itu pada adik
gue. Setelah ia membaca, gue heboh sama dia ngebahas itu buku *sellllalu
begitu~
Dan
tadi pagi gue baru sms Idip, lapor bahwa gue hatam baca tuh novel.
Gue: syudaaaaah tamat si jinggaaaa~
Idip : yunjae <3
Gue: rayaaaaaaaaan <33333333
Idip : kebayang muka dinginnya da
Gue: kebayang patah hati nya aku ma. kkkkk
Idip : wks watir sih dan bodor pas bilang saranghae
Gue: sukaaaaaaaaa~
Idip : Dan aku BT pas jingga nolak yunjae, Namsan tower. Dilamar
aaaaaarrrrghhhhhhh
Gue: bae ih, kan dia ma bahagianya sama rayaaaaan~
Idip : yaudah aku we yg nerima yunjae - -“ kkkk
Gue: mangga2~ aku jingga yg nerima rayaaaaan~
Idip : kkkk kita selalu begini setelah baca novel atau nonton film
Gue: itu yang dirindukan saat dvd/ novel muter. Saat semuanya ngumpul n
pada heboh
Idip : nah itu
Setelah heboh di sms, gue jadi kangen. Kangen saat-saat
dimana kita— gue dan temen-temen dikelas waktu sekolah dulu— berbagi film
bersama untuk dilihat, berbagi buku bersama untuk dibaca, hingga film itu
‘muter’ dipinjam secara bergilir dan entah berakhir ditangan siapa, hingga si
pemilik mengikhlaskan bahwa kepingan dvd film yang ia punya telah menghilang
entah kemana. Seperti halnya film, buku pun demikian. Entah itu novel atapun
majalah. Ia muter dan entah berakhir dimana. Hingga ia kembali ke tangan si
pemilik dengan keadaan lecek karena kehujanan. Tak peduli seberapa besar si
pemilik dirugikan, tetapi kita bisa berkupul untuk saling berbagi cerita,
saling berpendapat dan tentunya, saling berhisteris. Itulah hal yang paling
menyenangkan untuk dijalani dan dirindukan saat dikenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar