Senin, 01 April 2013

kengeeeen~


Tepatnya minggu lalu, gue menghatamkan novel kedua karya Orihara Ran, bokutachi no unmei. Seperti biasa, kalau gue punya sesuatu yang menarik, yang menurut gue itu asik dan gue suka, tentunya gue berbagi pada orang-orang sekitar—khususnya orang-orang yang sejenis, sebangsa, dan serumpun sama gue *kalian yang udah kenal gue cukup lama pasti tau maksudnya*. Dan karenanya, gue bersinopsis tentang novel itu kepada Idip *gak perlu gue jelasin lagi Idip itu siapa*. Sebenernya sih tujuan gue bersinopsis tidak lain dan tidak bukan agar sang Idip membaca novel yang sama. Dengan kata lain, gue menghasutnya. Tapi sebenarnya bukan itu poin yang gue mau. Gue menginginkan saat-saat pasca dia baca buku itu *biasanya kita ngebahas buku itu dengan antusias alias heboh*. Idip menyanggupi membaca novel itu, tapi karena itu novel kedua, gue menyarankan untuk membaca yang pertamanya dulu. Akan tetapi yang punya novel pertama ialah Alma dan eonni Tia. Alma sangat sulit untuk dihubungi dan eonni Tia tampaknya sibuk dan juga akan sulit untuk dihubungi. Intinya, entah kapan bias pinjem novel yang pertama kepada kedua orang itu.
Selanjutnya Idip malah balik bercertia tentang novel yang baru ia baca, karya Orizuka dan tentunya ia merekomendasikan nya untuk gue baca juga.
Tepatnya senin minggu lalu gue pinjem novel itu. Karena UTS dan tugas yang amat sangat banyak beaucoup *hiperbola yang amat sangat lebay, novel itu baru gue baca dihari Sabtu. Gak disangka-sangka novel itu beres dibaca hanya dalam beberapa jam. Suatu rekor muri bagi seorang Sinta Tania bisa membaca habis sebuah buku lagi setelah selama ini hanya bisa membaca buku non akademik di perjalanan menuju kampus.
Ada beberaa pro dan kontra di dalam hati mengenai novel yang baru dibaca itu, tapi 95% gue suka dan gue merekomendasikan novel itu pada adik gue. Setelah ia membaca, gue heboh sama dia ngebahas itu buku *sellllalu begitu~
Dan tadi pagi gue baru sms Idip, lapor bahwa gue hatam baca tuh novel.

Gue: syudaaaaah tamat si jinggaaaa~
Idip : yunjae <3
Gue: rayaaaaaaaaan <33333333
Idip : kebayang muka dinginnya da
Gue: kebayang patah hati nya aku ma. kkkkk
Idip : wks watir sih dan bodor pas bilang saranghae
Gue: sukaaaaaaaaa~
Idip : Dan aku BT pas jingga nolak yunjae, Namsan tower. Dilamar aaaaaarrrrghhhhhhh
Gue: bae ih, kan dia ma bahagianya sama rayaaaaan~
Idip : yaudah aku we yg nerima yunjae - -“ kkkk
Gue: mangga2~ aku jingga yg nerima rayaaaaan~
Idip : kkkk kita selalu begini setelah baca novel atau nonton film
Gue: itu yang dirindukan saat dvd/ novel muter. Saat semuanya ngumpul n pada heboh
Idip : nah itu

Setelah heboh di sms, gue jadi kangen. Kangen saat-saat dimana kita— gue dan temen-temen dikelas waktu sekolah dulu— berbagi film bersama untuk dilihat, berbagi buku bersama untuk dibaca, hingga film itu ‘muter’ dipinjam secara bergilir dan entah berakhir ditangan siapa, hingga si pemilik mengikhlaskan bahwa kepingan dvd film yang ia punya telah menghilang entah kemana. Seperti halnya film, buku pun demikian. Entah itu novel atapun majalah. Ia muter dan entah berakhir dimana. Hingga ia kembali ke tangan si pemilik dengan keadaan lecek karena kehujanan. Tak peduli seberapa besar si pemilik dirugikan, tetapi kita bisa berkupul untuk saling berbagi cerita, saling berpendapat dan tentunya, saling berhisteris. Itulah hal yang paling menyenangkan untuk dijalani dan dirindukan saat dikenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar