“rumah dimana ta?” kalau ada yang nanya
itu, males gue jawabnya. Masalahnya, kalaupun gue juawab, gue yakin dia gak tau
tempat yang gue sebutkan. Ya, rumah gue di bojongsoang, perumahan kecil di
daerah bandung selatan. Udah bukan termasuk kota bandung lagi, melainkan
kabupaten bandung. Meski begitu, hanya butuh waktu satu jam untuk mencapao
pusat kora bandung dibandingkan menuju pusat kabupaten yang harus menempuh
waktu kira-kira 2 jam. Kadang gue bilang rumah gue di cipagalo, deket IT
Telkom, memang nyatanya seperti itu. Mau ke rumah gue? Dari luar kota keluar
aja dari tol buah batu. Dari situ deket ke rumah gue.
Disini gak akan membahas rumah gue, tapi
gue mau bahas gimana caranya gue nyampe kampus.
Rumah gue ya bukan lagi di kota bandung,
dan kampus tercinta terletak di bandung utara. Berjarak sekitar 21,6 KM yang gue kutip dari google
map. Butuh waktu 2 jam untuk sampai di kampus dengan menggunakan transportasi
umum (angkot). Pake motor satu jam begitu pula kalau memakai mobil.
“kenapa gak ngekos?” jawaban gue adalah:
kalau ngekos, biaya tambah mahal karena gue harus ke Amerika dulu buat nge
klonning mama. Selama masih bisa pulang-pergi, ngapain ngekos. Kalo ngekos, gue
jarang dapet omelan mama. Dan gue gak meu hal itu terjadi.
“Ok, jadi bagaimana caranya lu bisa
pulang-pergi setiap hari?” naik transportasi umum lah. Dari riset yang telah
gue jl.in selama satu tahun ini, ada 5 transportasi umum dengan jalur yang
berbeda yang bisa gue pakai; Angkot cicaheum-ledeng, angkot margahayu-ledeng,
angkot Kalapa-ledeng, Damri, dan kalau gue kaya raya ya taksi. FYI, gue naik
angkot 3x untuk nyampe ke kampus. Yang pertama, Angkot GBA-buah batu.
Jurusannya yaitu rumah gue (GBA) menuju pasar kordon. Dari pasar tersebut ada 2
pilihan, bisa nyebrang ke ters. Buah batu, terus naik angkot jurusan buah
batu-kalapa. Turun di jl. Karapitan, naik kalapa-ledeng dan sampai deh di
kampus.
Opsi kedua adalah dari kordon naik
ciwasta-cicaheum sampai Carrefour, terus naik margahayu-ledeng. Akan tetapi,
naik angkot margahayu-ledeng selalu di dedet. Beberapa kali gue menggunakan
Angkot tersebut untuk pergi ke kampus, gue gak duduk dengan nyaman sampai jl.
merdeka. Karena itu, gue malas untuk menggunakan angkot ini kalau berangkat ke
kampus.
Opsi ketiga adalah naik Angkot
ciwastra-cicaheum dari kordon, turun di jl. Supratman, naik cicaheum-ledeng
sampe kampus. Gak Cuma tiga opsi, banyak kemungkinan yang bisa gue pake untuk
pergi ke kampus. Tapi gue suka menggunakan opsi pertama dan ketiga.
Nah, suatu hari gue menggunakan opsi
ketiga. Seperti biasa, Angkot ciwastra-cicaheum melewati jl. Kiara condong.
Baru ngeh kalau angkot ini lewat bawah. Gak naik flyover. Dan saat itu kereta
akan melintas. Bunyi alarm terdengar disana-sini. Pagar pembatas diturunkan.
Tapi masih banyak motor dan mobil yang menerobosnya. Tukang becak pun dengan
santai menyebrang diatas rel kereta. Orang-orang masih berlalu-lalang dengan
santai. Angkot yang gue tumpangi pun berkehendak untuk menerobos pagar. Gue
panic dengan kenyataan yang ada. Gimana kalau tiba-tiba kereta lewar dan
bessssssssss~ semua selesai begitu saja. Gue berdoa dalam hati “jangan lakukan
itu bapak sopir, gue belum mau mati. Gue belum nikah” (۳˚Д˚)۳
Suara khas dari kereta terdengar
kembali. Ia mulai melaju. Gue deg-degan setengah mati. Bayangan gue adalah
shinkansen lewat. Bessss~ dalam hitungan detik dia sudah menghilang di depan
mata. Kenyataan pun tidak seperti itu.
Kereta lewat. Jes… gu… jes…
gujes… gujes… lambat. Gak cepet. Bayangan kereta akan cepat kilat seperti
shinkansen pun pupus. Gue sadar, due di deket stasiun Kiara condong, bukan di
deket stasiun Tokyo. Oke, mungkin kereta nya masih baru berangkat jadi cuma
gujes gujes doang. Kalau gue di jl. Sunda, setiap kereta lewat pengendara bermotor
tertib, tidak ada yang menerobos. Dan juga, kereta yang melintas pun cepet. Gak
secepet kayak shinkansen sih, tapi dari kejadian ini yaaaa setidaknya gue masih
selamat walau[un awalnya jantungan karena sopir Angkot ingin menerobos pagar
pembatas rel kereta. Yang bisa gue pelajari adalah:
1.
Masyarakat Indonesia belum tertib. Walaupun kereta gak secepet shinkansen,
ya setidaknya mereka tertib dan gak ada yang berlalu-lalang lagi saat terdengar
alarm tanda kereta akan melintas. Gak ada yang menerobos waktu pagar pembatas
diturunkan.
2.
Gue terlalu banyak nonton film jepang. Dan terlalu berharap kecepatan
kereta di kircon sama dengan shinkansen.
![]() |
| shinkansen. swiiiiing~ gujessswiiiiing~~~ |
![]() |
| kereta kircon. tuuuut tuuut gujes gujessss~ |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar