Selasa, 11 Juni 2013

Shinkansen dan pergi ke kampus


“rumah dimana ta?” kalau ada yang nanya itu, males gue jawabnya. Masalahnya, kalaupun gue juawab, gue yakin dia gak tau tempat yang gue sebutkan. Ya, rumah gue di bojongsoang, perumahan kecil di daerah bandung selatan. Udah bukan termasuk kota bandung lagi, melainkan kabupaten bandung. Meski begitu, hanya butuh waktu satu jam untuk mencapao pusat kora bandung dibandingkan menuju pusat kabupaten yang harus menempuh waktu kira-kira 2 jam. Kadang gue bilang rumah gue di cipagalo, deket IT Telkom, memang nyatanya seperti itu. Mau ke rumah gue? Dari luar kota keluar aja dari tol buah batu. Dari situ deket ke rumah gue.
Disini gak akan membahas rumah gue, tapi gue mau bahas gimana caranya gue nyampe kampus.
Rumah gue ya bukan lagi di kota bandung, dan kampus tercinta terletak di bandung utara. Berjarak sekitar 21,6 KM yang gue kutip dari google map. Butuh waktu 2 jam untuk sampai di kampus dengan menggunakan transportasi umum (angkot). Pake motor satu jam begitu pula kalau memakai mobil. 

“kenapa gak ngekos?” jawaban gue adalah: kalau ngekos, biaya tambah mahal karena gue harus ke Amerika dulu buat nge klonning mama. Selama masih bisa pulang-pergi, ngapain ngekos. Kalo ngekos, gue jarang dapet omelan mama. Dan gue gak meu hal itu terjadi.
“Ok, jadi bagaimana caranya lu bisa pulang-pergi setiap hari?” naik transportasi umum lah. Dari riset yang telah gue jl.in selama satu tahun ini, ada 5 transportasi umum dengan jalur yang berbeda yang bisa gue pakai; Angkot cicaheum-ledeng, angkot margahayu-ledeng, angkot Kalapa-ledeng, Damri, dan kalau gue kaya raya ya taksi. FYI, gue naik angkot 3x untuk nyampe ke kampus. Yang pertama, Angkot GBA-buah batu. Jurusannya yaitu rumah gue (GBA) menuju pasar kordon. Dari pasar tersebut ada 2 pilihan, bisa nyebrang ke ters. Buah batu, terus naik angkot jurusan buah batu-kalapa. Turun di jl. Karapitan, naik kalapa-ledeng dan sampai deh di kampus.
Opsi kedua adalah dari kordon naik ciwasta-cicaheum sampai Carrefour, terus naik margahayu-ledeng. Akan tetapi, naik angkot margahayu-ledeng selalu di dedet. Beberapa kali gue menggunakan Angkot tersebut untuk pergi ke kampus, gue gak duduk dengan nyaman sampai jl. merdeka. Karena itu, gue malas untuk menggunakan angkot ini kalau berangkat ke kampus.
Opsi ketiga adalah naik Angkot ciwastra-cicaheum dari kordon, turun di jl. Supratman, naik cicaheum-ledeng sampe kampus. Gak Cuma tiga opsi, banyak kemungkinan yang bisa gue pake untuk pergi ke kampus. Tapi gue suka menggunakan opsi pertama dan ketiga.
Nah, suatu hari gue menggunakan opsi ketiga. Seperti biasa, Angkot ciwastra-cicaheum melewati jl. Kiara condong. Baru ngeh kalau angkot ini lewat bawah. Gak naik flyover. Dan saat itu kereta akan melintas. Bunyi alarm terdengar disana-sini. Pagar pembatas diturunkan. Tapi masih banyak motor dan mobil yang menerobosnya. Tukang becak pun dengan santai menyebrang diatas rel kereta. Orang-orang masih berlalu-lalang dengan santai. Angkot yang gue tumpangi pun berkehendak untuk menerobos pagar. Gue panic dengan kenyataan yang ada. Gimana kalau tiba-tiba kereta lewar dan bessssssssss~ semua selesai begitu saja. Gue berdoa dalam hati “jangan lakukan itu bapak sopir, gue belum mau mati. Gue belum nikah”  (۳˚Д˚)۳
Suara khas dari kereta terdengar kembali. Ia mulai melaju. Gue deg-degan setengah mati. Bayangan gue adalah shinkansen lewat. Bessss~ dalam hitungan detik dia sudah menghilang di depan mata. Kenyataan pun tidak seperti itu.
Kereta lewat. Jes… gu… jes… gujes… gujes… lambat. Gak cepet. Bayangan kereta akan cepat kilat seperti shinkansen pun pupus. Gue sadar, due di deket stasiun Kiara condong, bukan di deket stasiun Tokyo. Oke, mungkin kereta nya masih baru berangkat jadi cuma gujes gujes doang. Kalau gue di jl. Sunda, setiap kereta lewat pengendara bermotor tertib, tidak ada yang menerobos. Dan juga, kereta yang melintas pun cepet. Gak secepet kayak shinkansen sih, tapi dari kejadian ini yaaaa setidaknya gue masih selamat walau[un awalnya jantungan karena sopir Angkot ingin menerobos pagar pembatas rel kereta. Yang bisa gue pelajari adalah:
1.       Masyarakat Indonesia belum tertib. Walaupun kereta gak secepet shinkansen, ya setidaknya mereka tertib dan gak ada yang berlalu-lalang lagi saat terdengar alarm tanda kereta akan melintas. Gak ada yang menerobos waktu pagar pembatas diturunkan.
2.      Gue terlalu banyak nonton film jepang. Dan terlalu berharap kecepatan kereta di kircon sama dengan shinkansen. 

shinkansen. swiiiiing~ gujessswiiiiing~~~


kereta kircon. tuuuut tuuut gujes gujessss~







Tidak ada komentar:

Posting Komentar