Kamis, 20 Juni 2013

bepe


Semakin hari semakin kangen pada masa-masa kecil dulu. Semankin hari semakin sering pula diingatkan pada masa-masa itu. Masa dimana setiap hari kerjanya cuma main, sampai lupa makan, sampai lupa waktu. Main bepe sama icha, dean, detya, enda, gina, nia. Melihat barang-barang bepe itu rasanya….. aduuh perabotan rumah tiap hari gue mainin. Tiap hari gue pake. Dan saat itu itu semua akan diwariskan, hati kecil gue menolaknya. Laksana pedagang di Stasiun UI yang bertahun-tahun berjualan disana tiba-tiba kehilangan kios mereka begitu saja. Dan semua kenangan itu akan sirna. Dan hati gue sakit banget saat perabotan bepe akan diwariskan. Tanpa berfikir panjang, gue menyelamatkan perabotan-perabota yang gue anggap paling berharga. Perabotan yang pertama kali gue punya. Gue gak tau buat apa gue menyimpannya kembali. Dan gue gak yakin untuk memainkan nya kembali pada adegan rumah-rumahan bepe. Sekali lagi gue gak tau buat apa gue menyimpannya. Yang pasti, perabotan itu adalah perabotan perama yang gue punya. Dari waktu gue belum sekolah, dari waktu gue bertempat tinggal di samping mesjid deket rumah icha, dari waktu gue main bepe dimalam hari di meja makan. Gue udah punya perabotan itu. Dan gue gak mau kehilangan itu semua begitu saja. *foto perabotan bepe. Agak lebay sih postingan gue kali ini. Yaaaa beginilah gue. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar