Semakin hari semakin kangen pada masa-masa kecil dulu.
Semankin hari semakin sering pula diingatkan pada masa-masa itu. Masa dimana
setiap hari kerjanya cuma main, sampai lupa makan, sampai lupa waktu. Main bepe
sama icha, dean, detya, enda, gina, nia. Melihat barang-barang bepe itu
rasanya….. aduuh perabotan rumah tiap hari gue mainin. Tiap hari gue pake. Dan saat itu itu
semua akan diwariskan, hati kecil gue menolaknya. Laksana pedagang di Stasiun
UI yang bertahun-tahun berjualan disana tiba-tiba kehilangan kios mereka begitu
saja. Dan semua kenangan itu akan sirna. Dan hati gue sakit banget saat
perabotan bepe akan diwariskan. Tanpa berfikir panjang, gue menyelamatkan
perabotan-perabota yang gue anggap paling berharga. Perabotan yang pertama kali
gue punya. Gue gak tau buat apa gue menyimpannya kembali. Dan gue gak yakin
untuk memainkan nya kembali pada adegan rumah-rumahan bepe. Sekali lagi gue gak
tau buat apa gue menyimpannya. Yang pasti, perabotan itu adalah perabotan
perama yang gue punya. Dari waktu gue belum sekolah, dari waktu gue bertempat
tinggal di samping mesjid deket rumah icha, dari waktu gue main bepe dimalam
hari di meja makan. Gue udah punya perabotan itu. Dan gue gak mau kehilangan
itu semua begitu saja. *foto perabotan bepe. Agak lebay sih postingan gue kali
ini. Yaaaa beginilah gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar