Udah gak usah dijelasin
lagi tentang berapa jauhnya jarak dari rumah gue ke kampus, dan bagaimana gue
bisa pulang-pergi setiap hati. Baca aja deh kalau mau tau disini Yang
mau gue certain kali ini adalah Angkor ciwastra-cicaheum. Yang belum tau,
angkot ini berwarna coklat kopi, berangka 09 dan beroperasi di dalam kota
Bandung. Walaupun terpampang jurusan ciwastra-cicaheum, nyatanya Angkot ini
beroperasi dari derwati sampai gasibu. Gue menggunakan jasa angkot ini dari gue
SMP. Waktu SMP tuh waktu dimana gue dan temen-temen sering membajak angkot ini.
Jadi seluruh penumpang dalam satu angkot adalah temen-temen se-genk. Mau ribut,
koprol atau apapun juga suka-suka kita. Sering juga kita sewa angkot kalau ada
pelajaran renang di perumahan Adipura di Gedebage ataupun di perumahan GBI.
Atau disaat kita ingin membeli gorengan dipinggir jalan, kita suruh si sopirnya
menepi dan menunggu kita saat membeli gorengan. Kegiatan membajak angkot
ciwastra-cicaheum berhenti saat gue lulus SMP. Berhubung saat SMA gue dan
temen-temen se-genk terpisah, jadinya gue gak ada temen untuk membajak angkot
lagi.
Lucunya, sekarang kalau
naik angkot ini, dapet sopir yang tukang dakwah. Itu menjadi hal yang enak
untuk didengar. Pernah dia diskusi dengan seorang penumpang perempuan tentang
islam. Entah perempuan itu mualaf atau apa, dia berdiskusi tentang shalat
dengan si sopir. Dan menurut gue, sopir itu mempunyai iman yang teguh untuk
seorang sopir angkot.(biasanya gue menemukan sopir angkot yang tetap
menjalankan tugas nya meskipun waktu menunjukkan untuk shalat jumat). Sopir
angkot ini menjelaskan cara ia membagi waktu saat sebagai sopir dan saat ia
sebagai hamba Allah. Ia menjelaskan bagaimana ia shalat dzuhur, ia menyempatkan
diri untuk shalat di Pusdai, kadang ia menjamal shalatnya. Ia pun menjelaskan
jamak dan qoshor pada penumpang perempuan nya itu. Gue yakin, kalau perempuan
itu mualaf, pasti dia langsung jatuh cinta sama sopir angkot ini.
Pernah juga dia
berbincang-bincang dengan penumpang yang masih rekannya. Berikut percakapannya
yang gue ubah dengan bahasa yang dimengerti. *aslinya menggunakan bahasa sunda
Sopir (S): kerja dimana sekarang?
Penumpang (P): di Santo Yusup
S: gak bisa shalat atuh?
P: bisa kok, ada mushola di lantai 2
S: bukannya harus masuk murtad kalau
kerja disana?
P: enggak lah, kalau gitu mending ga
kerja sekalian
S: iya, jangan sampai kita ketinggalan
shalat. Karena shalat itu amalan yang pertama dihitung. Jangan sampai kita
rugi. Di dunia gak punya harta, di akhirat sengsara. Karena kita gak selamanya
hidup di dunia. Umur kita juga gak akan panjang.
P: umur orang Indonesia cuma sampai 60
tahun.
S: tuh, gue umur 50, 10 tahun lagu mati.
Kalau gue gak shalat, yaaa rugi pisan. Terus juga, jangan sampai kita menjual
iman hanya karena duit. Kaya gue, cuma sopir angkot, ada ya bisa makan, ya gak
ada duit ya udah
Penumpang lain: wow~ tabah banget
S: ya mau gimana lagi? Kaya orang-orang
yang demo bbm nai. Menurut gue yabuat apa? Percuma lah cape-cape demo. Toh bbm
juga tetep naik. Seperti orang-orang kaya, mobil-mobil bagus tapi tetep kontra
dengan naiknya bbm. Ya mending gue lah, walaupun cuma sopir angkot jelek tapi
pro aja dengan keputusan pemerintah. Demo bbm kayak gini tuh seperti menjambak
rambut orang yang berkepala botak. Ya sia-sia lah
Penumpang lain: aseeeeeeeeek!!
Gue: *tepuk tangan dalem hati
P: kalau bbm naik, tariff angkot ikut
naik juga ga?
S: ya iya dong
Gue: *dongkol dalem hati.
Terus juga si penumpang
yang masih rekan nya itu merokok, si sopir bilang, “ matiin rokoknya, kasian
penumpang lain jadi terganggu karna asapnya. Orang bilang rokok itu mempercepat
kematian, menurut gue sama aja. Orang yang ngerokok dan gak ngerokok pun akan
menemui ajalnya. Hanya saja orang yang merokok mengajak orang lain untuk
menemui ajalnya terlebih dahulu.
Gue: hidup mang angkot!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar