Kamis, 20 Juni 2013

Sopir angkot dan dakwahnya


Udah gak usah dijelasin lagi tentang berapa jauhnya jarak dari rumah gue ke kampus, dan bagaimana gue bisa pulang-pergi setiap hati. Baca aja deh kalau mau tau disini Yang mau gue certain kali ini adalah Angkor ciwastra-cicaheum. Yang belum tau, angkot ini berwarna coklat kopi, berangka 09 dan beroperasi di dalam kota Bandung. Walaupun terpampang jurusan ciwastra-cicaheum, nyatanya Angkot ini beroperasi dari derwati sampai gasibu. Gue menggunakan jasa angkot ini dari gue SMP. Waktu SMP tuh waktu dimana gue dan temen-temen sering membajak angkot ini. Jadi seluruh penumpang dalam satu angkot adalah temen-temen se-genk. Mau ribut, koprol atau apapun juga suka-suka kita. Sering juga kita sewa angkot kalau ada pelajaran renang di perumahan Adipura di Gedebage ataupun di perumahan GBI. Atau disaat kita ingin membeli gorengan dipinggir jalan, kita suruh si sopirnya menepi dan menunggu kita saat membeli gorengan. Kegiatan membajak angkot ciwastra-cicaheum berhenti saat gue lulus SMP. Berhubung saat SMA gue dan temen-temen se-genk terpisah, jadinya gue gak ada temen untuk membajak angkot lagi.
Lucunya, sekarang kalau naik angkot ini, dapet sopir yang tukang dakwah. Itu menjadi hal yang enak untuk didengar. Pernah dia diskusi dengan seorang penumpang perempuan tentang islam. Entah perempuan itu mualaf atau apa, dia berdiskusi tentang shalat dengan si sopir. Dan menurut gue, sopir itu mempunyai iman yang teguh untuk seorang sopir angkot.(biasanya gue menemukan sopir angkot yang tetap menjalankan tugas nya meskipun waktu menunjukkan untuk shalat jumat). Sopir angkot ini menjelaskan cara ia membagi waktu saat sebagai sopir dan saat ia sebagai hamba Allah. Ia menjelaskan bagaimana ia shalat dzuhur, ia menyempatkan diri untuk shalat di Pusdai, kadang ia menjamal shalatnya. Ia pun menjelaskan jamak dan qoshor pada penumpang perempuan nya itu. Gue yakin, kalau perempuan itu mualaf, pasti dia langsung jatuh cinta sama sopir angkot ini.
Pernah juga dia berbincang-bincang dengan penumpang yang masih rekannya. Berikut percakapannya yang gue ubah dengan bahasa yang dimengerti. *aslinya menggunakan bahasa sunda
Sopir (S): kerja dimana sekarang?
Penumpang (P): di Santo Yusup
S: gak bisa shalat atuh?
P: bisa kok, ada mushola di lantai 2
S: bukannya harus masuk murtad kalau kerja disana?
P: enggak lah, kalau gitu mending ga kerja sekalian
S: iya, jangan sampai kita ketinggalan shalat. Karena shalat itu amalan yang pertama dihitung. Jangan sampai kita rugi. Di dunia gak punya harta, di akhirat sengsara. Karena kita gak selamanya hidup di dunia. Umur kita juga gak akan panjang.
P: umur orang Indonesia cuma sampai 60 tahun.
S: tuh, gue umur 50, 10 tahun lagu mati. Kalau gue gak shalat, yaaa rugi pisan. Terus juga, jangan sampai kita menjual iman hanya karena duit. Kaya gue, cuma sopir angkot, ada ya bisa makan, ya gak ada duit ya udah
Penumpang lain: wow~ tabah banget
S: ya mau gimana lagi? Kaya orang-orang yang demo bbm nai. Menurut gue yabuat apa? Percuma lah cape-cape demo. Toh bbm juga tetep naik. Seperti orang-orang kaya, mobil-mobil bagus tapi tetep kontra dengan naiknya bbm. Ya mending gue lah, walaupun cuma sopir angkot jelek tapi pro aja dengan keputusan pemerintah. Demo bbm kayak gini tuh seperti menjambak rambut orang yang berkepala botak. Ya sia-sia lah
Penumpang lain: aseeeeeeeeek!!
Gue: *tepuk tangan dalem hati
P: kalau bbm naik, tariff angkot ikut naik juga ga?
S: ya iya dong
Gue: *dongkol dalem hati.
Terus juga si penumpang yang masih rekan nya itu merokok, si sopir bilang, “ matiin rokoknya, kasian penumpang lain jadi terganggu karna asapnya. Orang bilang rokok itu mempercepat kematian, menurut gue sama aja. Orang yang ngerokok dan gak ngerokok pun akan menemui ajalnya. Hanya saja orang yang merokok mengajak orang lain untuk menemui ajalnya terlebih dahulu.
Gue: hidup mang angkot!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar