Selasa, 19 September 2017

MILEA : Suara dari Dilan

Penampakan wujud Milea suara dari Dilan 

Novel yang ditunggu2 kehadirannya sejak tahun 2015 *mungkin, saya jg lupa* yang baner2 bikin saya harus baca karena di akhir novel Dilan 2 saya bertanya2: KENAPA HARUS PUTUS ?????? dan saya menahan diri untuk tidak membaca blognya Pidi Baiq karena cerita yang masih on going membuatku tersiksa (^^") 

Saya lupa kapan persisnya novel ini terbit, saat saya ke toko buku jg belum menemukannya *iyalah kaga ada di rak buku UN atau alquran dan terjemahan* tetiba saya menemukan buku berjudul Milea: Suara Dilan ini di rumah ! kebiasaan sejak dulu: saya senang membaca buku, tetapi tidak senang membeli buku. jadi gimana ya,  saat beli buku random di toko buku, terus setelah bukunya selesai dibaca dan ceritanya tidak terlalu menarik *bagi saya* saat itu pula  saya ingin menjual buku itu di tukang loak. Jadi hanya beberapa judul buku dari penulis favorit saja yang bukunya Benar2 aku beli *setelah proses panjang beli ebook atau buku fisik-harganya ga beda jauh sih- tapi akhirnya saya membeli buku fisik karena buku fisik itu bisa dipeluk2,  bisa dikasih ttd sama penulisnya *kalau ada acara fans signing itu juga*. Dan karena saya tidak tahu kapan novel Milea ini beredar *asli kuper banget* jadi saya lupa beli dan saat menemukannya tergeletak begitu saja di rumah langsung saja-dengan restu sang kakak- saya baca novel ini sampe tamat. 

bagi saya butuh waktu untuk mencerna apa yang diceritakan Dilan dalam novel Milea : Suara Dilan, pasalnya ingatan saya samar2 tentang cerita di novel Dilan sebelumnya. Saran saya jika mau membaca novel ini  jarak membaca antara novel 1,2, dan 3 tidak terlalu jauh sehingga tidak mudah lupa akan cerita yang berkesinambungan itu. Apalagi kalau kamu beli bukunya yg sepaket lgsg 3 itu, selain harganya lebih murah,  kamupun lebih enjoy mengikuti cerita ketiga buku tersebut *tuh,  Ayah Pidi,  udah saya bantu jualannya wkwk*

Sebenernya ingin banget saya utarakan tentang sinopsisnya  buku Milea : Suara Dilan. Tapi yaaaaa baca sendiri lah. Saya hanya akan menyimpulkan apa yang saya dapatkan dari membaca buku itu

- Selalu suka sama cara nulisnya pidi paiq.  Lurus aja mulus dgn apa yg ingin diceritakan.  Tanpa peduli dengan orang yg akan berkomentar apa.  Tak peduli pandangan orang seperti apa,  ya itu lah Dilan nya.  Dilan yang jujur apa adanya tanpa berusaha menjadi orang lain
-Ia memberikan pandangan bahwa "gini loh..  Cowo tuh kaya gini, pengen nya gini, kalo patah hati pasca putus tuh gini"

- berusaha meluruskan apa yang telah terjadi,  berusaha membuka pikiran dari sudut pandang lain
yg membuatku re-think deeply untuk tidak terburu2 dalam menyimpulkan sesuatu, bisa kukatakan dia bijak dalam berfikir. Dan menurutku, ga semua cowo seperti itu,  berkepala dingin dalam menyelesaikan masalah, mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Gitu-gitu lah. #inikomenku

saya bersyukur sempat bertemu pidi baiq setahun yg lalu di sebuah acara literasi yg diadakan oleh Tel-U. Ada yg bertanya tentang alasan pidi baiq bikin novel Dilan: ya supaya para cowo baca novel.  Dan itu terbukti.  Banyak teman2 kuliahku dulu yg baca novel2 nya Pidi Baiq termasuk Dilan,  ku lihat anak nongkrong di belakang fakultas jg lg baca buku dilan,  rupanya wabah dilan telah menyebar ke pelosok kampus, termasuk kakakku. Dia membaca buku Dilan direkomendasikan oleh seseorang dan kakakku membaca novel saudara saudara ! kukira dia hanya senang membaca manga dan alquran saja (^^") 
Btw, buku milea ini milik kakakku yg akan diberikan kepada pacarnya-atau apalah itu aku tidak peduli- yang pasti buku ini aku khatamkan dulu sebelum jatuh kepada orang itu.  HAHAHA. 
Terimakasih kakakku *sungkem

Tidak ada komentar:

Posting Komentar