Pada bahasan merantau, mental tempe, dasar orang sunda, ga bisa ninggalin Bandung-dan segala sebutan lainnya- yaaa semua itu memang saya akui. Yes i am. Seminggu saya jauh dari orang tua sya merasa biasa saja. Saya jg sibuk dengan pekerjaan saya, kegiatan saya. Minggu kedua saya mulai rindu rumah. Air mata mulai menetes saat tadarus ba'da subuh. Minggu ketiga tangis tak terbendung. Tak sanggup ku baca Alquran itu. Suara bercampur dengan isak tangis. Berebut siapa yg akan keluar dari mulut ini. Isak tangislah yang menjadi juara. Satu jam setengah, saya dan rekan sekamar menguatkan hati, menguatkan diri untuk tetap tinggal dan menganggap semua akan baik-baik saja.
Lantas, Bagaimana kabar temanku yg merantau jauh ke luar pulau ? Ke Eropa sana ? Aku belum apa-apa dibandingkan mereka. Tapi sungguh, aku tak tahan dengan kondisi seperti ini. Sehingga yang ku lakukan adalah menyibukan diri, mengerjakan apa yg bisa dikerjakan, membuat diri lupa akan kerinduan kota Bandung dengan segala isinya.
Sempat ku berfikir, apakah suatu hari nanti aku bisa menikah ? Meninggalkan rumah dan melilih tinggal bersama lelaki yang ku pilih ? Apakah aku bisa melakukannya ?
Sempat ku berfikir, apakah suatu hari nanti aku bisa menikah ? Meninggalkan rumah dan melilih tinggal bersama lelaki yang ku pilih ? Apakah aku bisa melakukannya ?
#myproblem


Tentu saja kau bisa, suamimu kelak akan menjadi keluargamu juga, ketika kau menangis tiap subuh karna rindu rumah, suamimu akan berada di sana untuk memelukmu dan menghapus air matamu. Mintalah sekali2 padanya untuk pulang ke rumah, ajak dia bersamamu, setelah tersampaikan rindu itu, kembali lah hidup berdua lagi bersama suamimu. Apabila telah terbiasa, hal apapun yg menurutmu sulit, akan berubah dengan sendirinya. Percayalah itu sayang ������
BalasHapus