Masalah
Saya ga yakin bahwa ini masalah. Atau sebuah krisis? Entahlah. Mungkin anda bisa menarik kesimpulannya sendiri setelah membaca tulisan ini.
Saya ga yakin bahwa ini masalah. Atau sebuah krisis? Entahlah. Mungkin anda bisa menarik kesimpulannya sendiri setelah membaca tulisan ini.
Pagi ini saya melihat salah satu instagram story teman, yang isinya tentang sebuah nasehat untuk tidak menanyakan 'udah hamil atau belum ?' kepada pasangan yang sudah menikah tetapi belum diberi keturunan (teman saya sudah menikah, btw). Memang terkesan basa-basi. Tetapi apakah hal tersebut jika diucapkan tidak menyinggung perasaan seorang wanita yg sudah menikah tersebut ? Belum lagi deretan komentar yg mengiringi sesudahnya: masa belum sih ? Udah berapa lama menikah, dll. Dan saya menganggap hal tersebut langkah yang dihadapi oleh orang-orang yg sudah menikah.
Berbeda dengan orang yg belum menikah. Mereka berada di langkah kehidupan dimana masih sering bertanya, "kapan menikah?". Mungkin diantara mereka bisa santai menjawab, "doakan saja. Semoga Allah mengizinkan di waktu yg tepat". Mungkin juga ada orang tua nya yang langsung bilang, "tidak! Kerja dulu aja yg bener, yg mapan. Baru menikah" saat ada orang yg bertanya pada anaknya. Ironis memang. Sang anak memohon agar mendoakan, bahwasannya ia percaya pada doa yang diibaratkan seperti sepeda: semakin dikayuh semakin tiba di tujuan. Begitu pula doa: semakin diucapkan, semakin dekat dengan tujuan. Kemudian keinginan untuk meminta doa pada yang bertanya langsung dibantahkan dengan kata 'tidak'. Diantara mereka mungkin akan acuh terhadap pertanyaan2 itu, akan acuh juga terhadap komentar2 itu. Mungkin juga diantara mereka jadi malas bertemu orang, bertemu tetangga, malas bertegur sapa, karena malas pula menghadapi pertanyaan yang terus diulang dan jawaban yang terus dibantahkan.
Saya jadi ingat apa kata dosen saya. Waktu beliau masih melanjutkan studi magisternya bertepatan dengan ia mengandung anak pertama, ada teman kuliahnya yang sangat judes, tidak mau bertegur sapa dengan dosen saya itu. Dosen saya bertanya2 dalam hati, saya salah apa? Setelah ditelusuri penyebabnya adalah dosen saya sedang hamil. Mungkin teman dosen saya itu belum diberi keturunan sampai bersikap seperti itu terhadap dosen saya. Akhirnya dosen saya menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang tak sepantasnya kita tanyakan kepada orang lain, seperti sudah menikah ? Punya anak berapa ?. Hal tersebut merupakan hal privasi yang tidak usah kita nganggu. Meskipun terlihat sepele dan basa-basi, tetapi kita tidak tahu bagaimana perasaan si lawan bicara. It's not your bussiness. Bahkan di dunia perkuliahan pun jika di akhir masa studi kita kadang jengkel dibanjiri pertanyaan, "udah bab berapa ? Kapan sidang ? Kapan wisuda ?" setelah lulus ditanya lagi, "kerja di mana ?" ya salam.
Banyak saya membaca postingan di medsos tentang kita hidup berjuang dalam waktu sendiri. Tidak bisa dibandingkan dengan orang lain. Ada yang cum laude, usia 27 tahun baru bekerja. Tetapi juga ada yg kuliahnya pas tepat waktu 7 tahun tapi langsung diterima kerja setelah lulus. Ada yg menikah, setahun kemudian sudah melahirkan. Ada jg yg menikah, bertahun-tahun kemudian baru diberi keturunan. Semua itu Allah yang mengatur. Membagikan kita di waktu-waktu yang telah ditetapkan-Nya sehingga kita punya waktu kita masing-masing.
Akan ada waktunya dimana kita lulus kuliah. Akan ada waktunya dimana kita menemukan pasangan kita dan menikah. Akan ada waktunya kita dikarunai anak. Akan ada waktunya! jadi berhenti lah bertanya, berhenti lah berkomentar, bahkan membantah bahwa kita akan sulit meraih 'waktu' yang kita jalani. Doakan lah. Semoga yang masih kuliah dilancarkan kuliahnya, yang sedang skripsi dilancarkan bimbingan dan revisinya, yang belum berjodoh dipertemukan jodohnya, yang akan menikah dimudahkan persiapannya, yang belum diberi keturunan semoga Allah memberinya keturunan, yang sedang mengandung disehatkan ibu dan janin nya, yang akan melahirkan dimudahkan persalinannya, yang belum bekerja semoga segera mendapat pekerjaan yang halal dan berkah rezekinya, dan sebagainya. Cukup dengan doa. Bukankah tiada pengharapan baik selain pengharapan kepada Allah melalui doa ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar