Selasa, 27 Februari 2018

Panik duluan

Hal yang selalu dirasakan dan dialami saat menghadapi seseorang/sesuatu. Kalau hal ini terjadi biasanya saya mencari koloni, bala bantuan untuk menghadapinya. Entah itu untuk memberi saran, atau hanya untuk membantu membalas pesan.

Saat dulu masih skripsi saya selalu resah saat h-1 bimbingan. Deg2an panas dingin sebelum masuk ke ruang dosen. Kursi di ruang dosen berasa 'kursi panas' seperti di kuis 'who wants to be a millionnaire?'. Tapi setelah berhadapan dengan dosen, menjawab pertanyaan yg diajukan, memberikan pendapat, keluar dari ruangan dosen ploooong. Beres. Kemudian revisi seperti biasa. Begitu terus pada awal2 bimbingan, mendekati hari sidang sudah mulai terbiasa tanpa harus resah, deg2an dan sebagainya.


Sama seperti saat itu, kali ini saya deg2an dan resah jika saya tahu ada meeting di esok hari. Saya khawatir persiapan saya kurang, saya tidak bisa mengemukakan maksud saya dengan baik, saya khawatir audience ambigu terhadap apa yg saya katakan. Ke khawatiran tersebut berputar-putar dalam kepala, menyebabkan mual dan susah tidur. Lebay sih.

Tapi memang begitu. Saat meeting awal bulan lalu pun seperti ini. Kemudian pada H nya, saya menjalani meeting dengan biasa, saya bisa mengemukakan apa yg ingin saya katakan. Saya tahu kunci dari keresahan ini adalah komunikasi. Saya harus banyak berkomunikasi dengan orang-orang terkait-mungkin orang-orang yang tak terkaitpun- Namun, banyak kendala yang saya hadapi, baik dari segi waktu maupun segi jenjang. Tak seperti saat saya di himpunan dulu, teman saya, apapun jabatan yang ia emban, saya selalu bisa menggaetnya untuk sekedar mendengarkan permasalahan saya, bahkan sampai bisa berdiskusi dan mencari solusi terhadap permasalahan yang ada. Tetapi kali ini berbeda...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar