Lebaran lalu kakek mengajak ke makam untuk ziarah. Aku, bapak dan A Apep, sepupuku ikut bersamanya. Lebaran tahun ini terasa sedih melihat kakek sendirian. Biasanya ada nenek yang selalu menemani saat kami bersilaturhami pada kerabat kakek.
Kami berjalan menuju makam. Aku tahu, bukan makam nenek yang kami kunjungi, karena nenek tidak dimakamkan di desa ini. Beberapa nama ku dengar yang dimakamkan di pemakaman yang kami tuju. Tetapi tak ada satupun yang ku kenal baik. Mereka wafat sebelum aku mengenalnya. Aku tak ambil pusing makam siapa yang kan ku kunjungi. Ada dua hal yang kuingat hal yang dilakukan ketika berziarah: mendoakan mereka, dan mengingat mati. Akupun setuju apa yang dikatakan oleh ust. Evie effendi: mungkin hari ini kita berada di atas tanah. Boleh jadi besok kita yang berada di bawah tanah. Ku pastikan ziarah kali ini untuk kedua hal itu.
Tibalah kami di pintu gerbang pemakaman. Beberapa makam baru terlihat dari pintu makam. Aku mengikuti langkah kakek ku, menemukan makam para pendahulu dari silsilah keluarga kami. Mataku menyusuri nama-nama yang tertera pada batu nisan. Dan langkahku terhenti pada sebuah pusara yang masih baru. Nama yang tertera di batu nisannya sungguh tak asing. Nama yang sering ku ketikan untuk surat-surat perizinan saat KKN dulu.
Ku coba untuk kuatkan hati. Ku ikuti langkah kakek yang berhenti pada sebuah pusara. Ia menyiramkan air pada pusara tersebut. Juga pada pusara lainnya yang menurut sepupuku masih dalam silsilah keluarga kami. Aku ikut mendoakan para keluargaku yang telah dimakamkan. Meski ku lihat nama-nama mereka tak satupun ku kenal. Satu-satunya nama yang ku kenal adalah Endan Hamdani, nama pak punduh yang banyak kami repotkan saat KKN dulu.
Air mataku tak kuat untuk ku bendung. Perlahan mengalir begitu saja yang sesekali ku seka dengan punggung tangan. Bapak ku bertanya mengapa aku menangis. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Kemudian langkahku kembali pada pusara pa punduh. Aku bersimpuh di sampingnya. Menangis sejadi-jadinya.
Kabar yang kudapat dari wafatnya pa punduh sekitar tahun lalu, saat aku bertemu Yuni dalam sebuah kesempatan. Ku sesali tak mendengar langsung kabar itu. ku sesali mengapa tak ku kunjungi rumah pa punduh pada lebaran lalu. Ku bertekad pada lebaran kali ini akan mampir ke rumah pa punduh.
Sungguh sambutan yang luar biasa di sore itu. Tak kusangka aku bertemu pa punduh di makam ini. Tak kusangka pa punduh menyambutku langsung di gerbang makam. Tak ku sangka aku benar-benar ke rumah pa punduh…
Kami berjalan menuju makam. Aku tahu, bukan makam nenek yang kami kunjungi, karena nenek tidak dimakamkan di desa ini. Beberapa nama ku dengar yang dimakamkan di pemakaman yang kami tuju. Tetapi tak ada satupun yang ku kenal baik. Mereka wafat sebelum aku mengenalnya. Aku tak ambil pusing makam siapa yang kan ku kunjungi. Ada dua hal yang kuingat hal yang dilakukan ketika berziarah: mendoakan mereka, dan mengingat mati. Akupun setuju apa yang dikatakan oleh ust. Evie effendi: mungkin hari ini kita berada di atas tanah. Boleh jadi besok kita yang berada di bawah tanah. Ku pastikan ziarah kali ini untuk kedua hal itu.
Tibalah kami di pintu gerbang pemakaman. Beberapa makam baru terlihat dari pintu makam. Aku mengikuti langkah kakek ku, menemukan makam para pendahulu dari silsilah keluarga kami. Mataku menyusuri nama-nama yang tertera pada batu nisan. Dan langkahku terhenti pada sebuah pusara yang masih baru. Nama yang tertera di batu nisannya sungguh tak asing. Nama yang sering ku ketikan untuk surat-surat perizinan saat KKN dulu.
Ku coba untuk kuatkan hati. Ku ikuti langkah kakek yang berhenti pada sebuah pusara. Ia menyiramkan air pada pusara tersebut. Juga pada pusara lainnya yang menurut sepupuku masih dalam silsilah keluarga kami. Aku ikut mendoakan para keluargaku yang telah dimakamkan. Meski ku lihat nama-nama mereka tak satupun ku kenal. Satu-satunya nama yang ku kenal adalah Endan Hamdani, nama pak punduh yang banyak kami repotkan saat KKN dulu.
Air mataku tak kuat untuk ku bendung. Perlahan mengalir begitu saja yang sesekali ku seka dengan punggung tangan. Bapak ku bertanya mengapa aku menangis. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Kemudian langkahku kembali pada pusara pa punduh. Aku bersimpuh di sampingnya. Menangis sejadi-jadinya.
Kabar yang kudapat dari wafatnya pa punduh sekitar tahun lalu, saat aku bertemu Yuni dalam sebuah kesempatan. Ku sesali tak mendengar langsung kabar itu. ku sesali mengapa tak ku kunjungi rumah pa punduh pada lebaran lalu. Ku bertekad pada lebaran kali ini akan mampir ke rumah pa punduh.
Sungguh sambutan yang luar biasa di sore itu. Tak kusangka aku bertemu pa punduh di makam ini. Tak kusangka pa punduh menyambutku langsung di gerbang makam. Tak ku sangka aku benar-benar ke rumah pa punduh…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar