Selasa, 02 April 2019

Komik


Bismillah
Kehidupan setelah menikah tentu berbeda. Asing, bagiku. Pun ketika pertama kali ku mengunjungi rumah mertua. Masih dalam suasana ngunduh mantu, pekerjaan rumah banyak dilakukan oleh para bibi – adiknya umi. Tak banyak yang bisa ku lakukan. Menyesal pula ku tak bisa melakukan banyak hal. Hanya nimbrung tak mengerjakan apapun tak enak, mau bantu pun sudah hampir selesai. Akhirnya ku banyak berinteraksi dengan sepupu-sepupu yang usianya masih balita. Sesekali ku melikirk tumpukan komik yang dimiliki suamiku. Berbagai macam komik bertumpuk menjadi satu dalam sebuah lemari. Mulai dari komik Doraemon, sampai komik islami karya mas vbi_djenggotten Ku ambil komik Doraemon yang tergeletak di lantai, pasca Zaki, sepupuku menaruhnya sembarangan.
Rupanya aku telah membaca sebagian komik Doraemon ketika ku kecil dulu. Aku hampir hafal semua gambar dan letak panelnya, begitupun dengan ceritanya. Namun, dahulu ketika ku membaca komik Doraemon tersebut, aku hanya membaca gambarnya saja, tak benar-benar membaca balon percakapannya. Seperti kata bu Yayah, psikolog yang mendampingi kelasku, bahwa tahap membaca pada anak itu membutuhkan beberapa tahapan, dan betul, dahulu kala ku hanya membaca gambarnya saja. Kali ini ku baca pula balon percakapannya dan mendapatkan sebuah kesan, “kok dulu seneng ya baca Doraemon? Sekarang kok jengkel banget lihat Nobita banyak merengek minta ini-itu kepada Doraemon”. Hanya satu jilid komik Doraemon yang ku baca. Dengan segala rengekan nobita di setiap chapternya, hanya satu ucapan Doraemon lah yang berkesan dalam benakku saat ini, dan kalimat ini selalu diulang-ulang ketika Nobita merengek, kira-kira seperti ini “jangan janjikan sesuatu yang belum tentu kamu sanggup melakukannya”
Bosan dengan cerita Doraemon, suamiku menunjukkan komik Bo & Jo karya mas vbi_djenggoten. Dari komik tersebut, aku banyak membaca karya lainnya, seperti 33 pesan nabi, 55 mutiara akhlak, lima pesan damai, dan lain sebagainya. Pada dasarnya aku bukan pembelajar secara visual, aku lebih menyukai audiotory, jadi aku pun tak begitu peduli dengan jenis tampilan gambar ketika membaca komik. Yang ku pikirkan adalah konten nya. Makna dari serangkaian gambar tersebut. Berlainan dengan suamiku. Ia menjelaskan bahwa gambar mas vbi_djenggoten  ini semakin kini, semakin tidak sempurna. Dan aku pun setuju. Maksudnya penggambaran manusianya tidak sempurna, karena ada hadist yang menyebutkan bahwa kita tidak boleh menggambar sesuatu yang hidup, yang menyerupai makhluk Allah. Oleh karena itu, suamiku pun berkata bahwa ia tak sering menggambar rupa makhluk yang sempurna, misalnya kalau ia menggambar harimau, paling hanya kepalanya saja.
Beralih dari karya vbi_djenggoten, aku juga menyukai karya sweta kartika. Terutama untuk komik romansanya. Karya-karya lainnya pun apik, ilustrasinya yang detil, atau cerita horror nya yang membuatku tak sanggup lagi membacanya. Ku juga mengikuti karya beliau pada platform Ciayo, Love Bird Diary, sekuel dari Grey & Jingga. Yang mengejutkan dari komik tersebut adalah unggahan mas Sweta di instagram, yang menjelaskan bahwa sebuah tokoh bernama Zahra pada cerita komik tersebut membuka perspektif baru bagi orang jepang yang ingin belajar tentang islam. Tentang seorang muslimah yang menjalani segala aktivitasnya sehari-hari, dapat mengenyam pendidikan, dapat bersosialisasi dengan masyarakat, dan lain sebagainya. Komik tersebut menjadi sebuah literasi awal bagi mereka menganal islam. Dalam unggahannya tersebut mas Sweta mengatakan bahwa, kurang lebih, “saya juga tak menyangka bahwa ini merupakan jalan dakwah”. Maasha Allah. Ternyata dakwah tak hanya kita jumpai pada kajian-kajian ilmu, pada buku-buku visual karya ust. Felix, namun terdapat pula pada goresan gambar dari rangkaian cerita mas vbi_djenggoten yang dikaitkan dengan hadits, pada pemaknaan seorang muslimah Zahra karya mas Sweta Kartika.
Hal lain yang ku kagumi dari mas Sweta Kartika adalah ketika ku selesai membaca Love Bird Diary. Mas sweta menceritakan proses pembuatan, peluncuran komik tersebut di aplikasi Ciayo. Dan yang paling aku suka adalah, mas Sweta tetap mempertahankan penggunaan bahasa yang digunakan oleh tokoh Dharma, yang terkesan puitis, berliku namun bermakna, tapi belum tentu bisa diterima oleh ‘pasar’ Ciayo. Tidak untuk menyesuaikan pangsa pasar, tapi penggunaan bahasa tersebut tetap digunkan untuk mempertahankan bahasa itu sendiri, bahasa puitis, bahasa sastra yang tidak banyak digunakan bahkan dimaknai oleh anak muda jaman sekarang. Salut mas Sweta!
Ps. Mungkin teman-teman agak bingung dan njelimet baca postingan ini, maka sila membaca karya-karya yang kusebutkan di atas. Senang sekali jika kita dapat diskusi dan berbagi. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar