Bismillah
Kehidupan
setelah menikah tentu berbeda. Asing, bagiku. Pun ketika pertama kali ku
mengunjungi rumah mertua. Masih dalam suasana ngunduh mantu, pekerjaan rumah
banyak dilakukan oleh para bibi – adiknya umi. Tak banyak yang bisa ku lakukan.
Menyesal pula ku tak bisa melakukan banyak hal. Hanya nimbrung tak mengerjakan
apapun tak enak, mau bantu pun sudah hampir selesai. Akhirnya ku banyak
berinteraksi dengan sepupu-sepupu yang usianya masih balita. Sesekali ku
melikirk tumpukan komik yang dimiliki suamiku. Berbagai macam komik bertumpuk
menjadi satu dalam sebuah lemari. Mulai dari komik Doraemon, sampai komik
islami karya mas vbi_djenggotten Ku ambil komik Doraemon yang tergeletak di lantai, pasca Zaki, sepupuku
menaruhnya sembarangan.
Rupanya aku telah membaca sebagian komik Doraemon
ketika ku kecil dulu. Aku hampir hafal semua gambar dan letak panelnya,
begitupun dengan ceritanya. Namun, dahulu ketika ku membaca komik Doraemon
tersebut, aku hanya membaca gambarnya saja, tak benar-benar membaca balon
percakapannya. Seperti kata bu Yayah, psikolog yang mendampingi kelasku, bahwa
tahap membaca pada anak itu membutuhkan beberapa tahapan, dan betul, dahulu
kala ku hanya membaca gambarnya saja. Kali ini ku baca pula balon percakapannya
dan mendapatkan sebuah kesan, “kok dulu seneng ya baca Doraemon? Sekarang kok
jengkel banget lihat Nobita banyak merengek minta ini-itu kepada Doraemon”.
Hanya satu jilid komik Doraemon yang ku baca. Dengan segala rengekan nobita di
setiap chapternya, hanya satu ucapan Doraemon lah yang berkesan dalam benakku
saat ini, dan kalimat ini selalu diulang-ulang ketika Nobita merengek, kira-kira
seperti ini “jangan janjikan sesuatu yang belum tentu kamu sanggup melakukannya”
Bosan dengan
cerita Doraemon, suamiku menunjukkan komik Bo & Jo karya mas vbi_djenggoten.
Dari komik tersebut, aku banyak membaca karya lainnya, seperti 33 pesan nabi, 55
mutiara akhlak, lima pesan damai, dan lain sebagainya. Pada dasarnya aku bukan
pembelajar secara visual, aku lebih menyukai audiotory, jadi aku pun tak begitu
peduli dengan jenis tampilan gambar ketika membaca komik. Yang ku pikirkan
adalah konten nya. Makna dari serangkaian gambar tersebut. Berlainan dengan
suamiku. Ia menjelaskan bahwa gambar mas vbi_djenggoten ini semakin kini, semakin tidak sempurna. Dan
aku pun setuju. Maksudnya penggambaran manusianya tidak sempurna, karena ada
hadist yang menyebutkan bahwa kita tidak boleh menggambar sesuatu yang hidup,
yang menyerupai makhluk Allah. Oleh karena itu, suamiku pun berkata bahwa ia
tak sering menggambar rupa makhluk yang sempurna, misalnya kalau ia menggambar
harimau, paling hanya kepalanya saja.
Beralih dari
karya vbi_djenggoten, aku juga menyukai karya sweta kartika. Terutama untuk
komik romansanya. Karya-karya lainnya pun apik, ilustrasinya yang detil, atau
cerita horror nya yang membuatku tak sanggup lagi membacanya. Ku juga mengikuti
karya beliau pada platform Ciayo, Love Bird Diary, sekuel dari Grey &
Jingga. Yang mengejutkan dari komik tersebut adalah unggahan mas Sweta di
instagram, yang menjelaskan bahwa sebuah tokoh bernama Zahra pada cerita komik
tersebut membuka perspektif baru bagi orang jepang yang ingin belajar tentang
islam. Tentang seorang muslimah yang menjalani segala aktivitasnya sehari-hari,
dapat mengenyam pendidikan, dapat bersosialisasi dengan masyarakat, dan lain
sebagainya. Komik tersebut menjadi sebuah literasi awal bagi mereka menganal
islam. Dalam unggahannya tersebut mas Sweta mengatakan bahwa, kurang lebih,
“saya juga tak menyangka bahwa ini merupakan jalan dakwah”. Maasha Allah.
Ternyata dakwah tak hanya kita jumpai pada kajian-kajian ilmu, pada buku-buku
visual karya ust. Felix, namun terdapat pula pada goresan gambar dari rangkaian
cerita mas vbi_djenggoten yang dikaitkan dengan hadits, pada pemaknaan seorang
muslimah Zahra karya mas Sweta Kartika.
Hal lain yang ku
kagumi dari mas Sweta Kartika adalah ketika ku selesai membaca Love Bird
Diary. Mas sweta menceritakan proses pembuatan, peluncuran komik tersebut
di aplikasi Ciayo. Dan yang paling aku suka adalah, mas Sweta tetap
mempertahankan penggunaan bahasa yang digunakan oleh tokoh Dharma, yang
terkesan puitis, berliku namun bermakna, tapi belum tentu bisa diterima oleh
‘pasar’ Ciayo. Tidak untuk menyesuaikan pangsa pasar, tapi penggunaan bahasa
tersebut tetap digunkan untuk mempertahankan bahasa itu sendiri, bahasa puitis,
bahasa sastra yang tidak banyak digunakan bahkan dimaknai oleh anak muda jaman
sekarang. Salut mas Sweta!
Ps. Mungkin
teman-teman agak bingung dan njelimet baca postingan ini, maka sila membaca
karya-karya yang kusebutkan di atas. Senang sekali jika kita dapat diskusi dan
berbagi. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar