Bukan hanya sekolah yang perlu
dipersiapkan, begitu pula dengan menikah. Sekolah yang dari jam 7 sampai jam 2
saja butuh sarapan dulu sebelum sekolah, butuh siapkan buku-atk-mukena-botol
minum (hal wajib bagi saya) apalagi menikah yang durasinya seumur hidup.
Menikah bukan tentang dongeng-dongen klasik yang sudah kita ketahui, happily
ever after. Ya memang itu adalah tujuan kita, tapi percayalah akan banyak
hal-hal yang mengejutkan yang baru diketahui setelah pernikahan.
Apa
yang saya tulis barusan terdengar klise, terdengar ketika kawanmu, atau
seniormu di tempat bekerja menceritakan pernikahannya, orangtuanya, kakak-adik
iparnya, dan terlebih lagi mertuanya. Kemudian kau akan mengelak, itukan
kisahmu, kisah keluargamu, kisah pernikahanmu. Pernikahanku belum tentu.
Eits, jangan sombong dulu. Ya memang itu urusan keluarga orang lain. Tetapi
jika itu terjadi pada dirimu apa yang akan kau lakukan? Mampukah kau
menghadapinya?
Baik
pertanyaan, maupun pernyataan dan kasus-kasus ringan tetapi sering mencuat
ketika pernikahan memang sering kita dengar dari orang-orang di sekitar kita.
Akan tetapi, kasus-kasus ini ketika dibahas di acara bimbingan perkawinan akan
lebih berisi bobotnya, akan lebih ngena untuk kita maknai, dengan penyampaian
pematerinya pun menarik, seperti mengajukan pertanyaan secara retoris, yang
hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya. Menakjubkan. Mak jleb.
Untuk
itu, dalam tulisan pertama tentang persiapan menikah yang saya tambahkan “part
1” ini (sebenarnya entah jadi berapa bagian) akan saya tuliskan, urgensi
mengikuti seminar pra nikah/ bimbingan perkawinan bagi paslon pasutri. Pasutri
loh ya, bukan salah satunya, tetapi keduanya. Calon suami dan calon istri. Karena
yang menikah itu bukan kamu sendiri, tetapi juga dengan pasanganmu.
Saya
beberapa kali aktif menghadiri acara parenting yang diadakan oleh sekolah
tempat saya mengajar. Ya, seminar parenting pasti berkaitan dengan orangtua,
kalau ada anak yang bermasalah pasti yang ditanya pola asuh orang tua, maka
dari itu apakah ada sekolah persiapan untuk menikah? Sekolah persiapan untuk
menjadi orang tua? pembicara favorit saya, Abah Ihsan menyatakan bahwa pada
agama Kristen terdapat bimbingan pra nikah yang dilaksanakan di gereja, dalam
durasi tertentu (entah berapa bulan atau tahunnya, saya gak tahu pasti, cmiiw
please). Setelah pernikahanpun ada bimbingan lanjutan untuk persiapan menjadi
orang tua. Coba kita tengok di dalam islam, tak ada kewajiban untuk mengikuti
bimbingan serupa.
“Ada
kok, seminar pra nikah banyak tuh diselenggarakan”
“berapa
banyak yang ikut?”
“penuh
ko. Satu aula terisi penuh dengan peserta”
“sepenuh
daftar paslon pasutri di KUA ?’’ belum tentu.
Saya sangat mengapresiasi bagi teman-teman
yang semangat mencari ilmu dengan menghadiri kajian atau seminar pra nikah. Beberapa
kajian bersifat umum yang bisa dihadiri oleh siapapun, tetapi ada juga seminar
yang tidak gratis untuk menghadirinya. Begitupun dengan saya yang belum
melek akan berinvestasi pada ilmu yang disajikan pada seminar-seminar. Ketika
saya melek dan ingin mengikutinya, waktu pernikahan sudah di depan mata, tak
ada pula jadwal seminar pra nikah terdekat yang bisa saya hadiri. Sedih.
Dari
pada sedih, yang terpenting kita urus dulu persiapan menikah yang wajib
dipenuhi (lanjut ke part 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar