Minggu, 09 Juni 2019

Persiapan Pernikahan : ilmu (part 1/4)


Bukan hanya sekolah yang perlu dipersiapkan, begitu pula dengan menikah. Sekolah yang dari jam 7 sampai jam 2 saja butuh sarapan dulu sebelum sekolah, butuh siapkan buku-atk-mukena-botol minum (hal wajib bagi saya) apalagi menikah yang durasinya seumur hidup. Menikah bukan tentang dongeng-dongen klasik yang sudah kita ketahui, happily ever after. Ya memang itu adalah tujuan kita, tapi percayalah akan banyak hal-hal yang mengejutkan yang baru diketahui setelah pernikahan.
                Apa yang saya tulis barusan terdengar klise, terdengar ketika kawanmu, atau seniormu di tempat bekerja menceritakan pernikahannya, orangtuanya, kakak-adik iparnya, dan terlebih lagi mertuanya. Kemudian kau akan mengelak, itukan kisahmu, kisah keluargamu, kisah pernikahanmu. Pernikahanku belum tentu. Eits, jangan sombong dulu. Ya memang itu urusan keluarga orang lain. Tetapi jika itu terjadi pada dirimu apa yang akan kau lakukan? Mampukah kau menghadapinya?
                Baik pertanyaan, maupun pernyataan dan kasus-kasus ringan tetapi sering mencuat ketika pernikahan memang sering kita dengar dari orang-orang di sekitar kita. Akan tetapi, kasus-kasus ini ketika dibahas di acara bimbingan perkawinan akan lebih berisi bobotnya, akan lebih ngena untuk kita maknai, dengan penyampaian pematerinya pun menarik, seperti mengajukan pertanyaan secara retoris, yang hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya. Menakjubkan. Mak jleb.
                Untuk itu, dalam tulisan pertama tentang persiapan menikah yang saya tambahkan “part 1” ini (sebenarnya entah jadi berapa bagian) akan saya tuliskan, urgensi mengikuti seminar pra nikah/ bimbingan perkawinan bagi paslon pasutri. Pasutri loh ya, bukan salah satunya, tetapi keduanya. Calon suami dan calon istri. Karena yang menikah itu bukan kamu sendiri, tetapi juga dengan pasanganmu.
                Saya beberapa kali aktif menghadiri acara parenting yang diadakan oleh sekolah tempat saya mengajar. Ya, seminar parenting pasti berkaitan dengan orangtua, kalau ada anak yang bermasalah pasti yang ditanya pola asuh orang tua, maka dari itu apakah ada sekolah persiapan untuk menikah? Sekolah persiapan untuk menjadi orang tua? pembicara favorit saya, Abah Ihsan menyatakan bahwa pada agama Kristen terdapat bimbingan pra nikah yang dilaksanakan di gereja, dalam durasi tertentu (entah berapa bulan atau tahunnya, saya gak tahu pasti, cmiiw please). Setelah pernikahanpun ada bimbingan lanjutan untuk persiapan menjadi orang tua. Coba kita tengok di dalam islam, tak ada kewajiban untuk mengikuti bimbingan serupa.
                “Ada kok, seminar pra nikah banyak tuh diselenggarakan”
                “berapa banyak yang ikut?”
                “penuh ko. Satu aula terisi penuh dengan peserta”
                “sepenuh daftar paslon pasutri di KUA ?’’ belum tentu.
                Saya sangat mengapresiasi bagi teman-teman yang semangat mencari ilmu dengan menghadiri kajian atau seminar pra nikah. Beberapa kajian bersifat umum yang bisa dihadiri oleh siapapun, tetapi ada juga seminar yang tidak gratis untuk menghadirinya. Begitupun dengan saya yang belum melek akan berinvestasi pada ilmu yang disajikan pada seminar-seminar. Ketika saya melek dan ingin mengikutinya, waktu pernikahan sudah di depan mata, tak ada pula jadwal seminar pra nikah terdekat yang bisa saya hadiri. Sedih.
                Dari pada sedih, yang terpenting kita urus dulu persiapan menikah yang wajib dipenuhi (lanjut ke part 2)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar