Sabtu, 19 Juni 2021

dari move to heaven sampai keserakahan manusia. se rumit itu pikiranku

 ok, mungkin ini udah lama orang bahas tapi tetep pengen aku bahas juga menurut sudut pandangku. 

memang penasaran banget drama netflix ini, yang dari awal episodenya membanjiri twitter dengan air mata. sesedih apa sih episodenya? eh bener aja episode pertama bikin cirambay 😢

tapi dari semua yang menarik di drama ini, ada beberapa hal yang menjadi fokus perhatianku:

1. aku lebih merhatiin han geu ru, asperger. karena aku punya murid seperti itu

2. pekerjaan move to heaven lumrah di korea (pernah lihat tayangan serupa) tapi bisnis move to heaven ini bener2 dari hati, han geu ru dan ayahnya pengorganisir ulung, mereka bisa membedakan mana barang yang menjadi sampah untuk dibuang, mana barang yang merupakan isi hati sang pemilik. 

3. drama yang mengkolaborasikan fakta sejarah di dalamnya. semenjak baca novel Michael Scott yang banyak menggabungkan fantasi dan sejarah saat SMK dulu, aku jadi banyak cari fakta sejarah tentang apa yang aku baca. termasuk fakta robohnya gedung, dan lain sebagainya. kemudian baru nonton juga videonya korea reomit yang menceritakan tentang sejarah dari mall tersebut. 

menurutku han sol jang bener-bener bagus dalam membawakan sebuah berita dari fakta-fakta mall tersebut yang semuanya mengerucut pada keserakahan manusia yang menjadi asal muasal akibat runtuhnya mall yang 'mahal' itu

dari alih fungsi lahan yang salah, jadi inget tayangan before afternya jepang, yang kalau ingin membuat rumah lantai dua pun itu ada uu yang mengaturnya. ya pastilah di korea jg ada uu yg mengatur, kata han sol jang jg memang ada permainan uang yang membuat bangunan tersebut jadi sebuah mall mewah. 

kemudian jadi mikir lagi tentang keserakahan manusia. jangankan mall. sebenarnya manusia itu butuh rumah baru ga sih? seberapa pesat kemajuan angka kelahiran masyarakat sehingga butuh rumah baru? seberapa banyak kebutuhan manusia sehingga membeli rumah yang memiliki kawasan strategis, dan lain sebagainya. aku masih ga habis pikir tentang hal itu. karena menurutku beli rumah aja udah serakah. untung di kita yang nempatin, tp ga untung bagi para 'penghuni' sebelumnya. sawah yang dialihfungsikan menjadi rumah, banyak serangga yang datang bersilaturahim, ular-ular pun tak segan untuk bertamu. ya menurutku semuanya wajar. mereka marah rumahnya dipake orang lain. kemudian perseteruan warga dengan developper yang ga ada habisnya, ga nemu titik terangnya. 

jadi mikir, jadi kudu mempelajari dan mengkaji lagi, bagaiman cara kampung adat bertahan hidup? bagaimana cara mengendalikan manusia? bagaimana cara mengendalikan nafsu manusia sehingga hidup dapat selaras dengan alam, tidak menimbulkan kerusakan, jauh dari kata serakah. bagaimana itu bisa berlangsung hingga sekarang? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar