Siang ini dapat kabar duka dari seorang teman lama. Ayahnya berpulang. Kawan ku langsung menuju rumahnya. Aku memutuskan untuk menyusulnya sepulang kerja, mengingat masih ada meeting sore ini.
Ku pastikan punya wudhu sebelum berangkat menuju rumah duka. Jika belum dimakamkan, aku bisa ikut dalam shaf shalat jenazah.
Suamiku siap menggantar ke rumah duka. "Kamu tau rumahnya dimana?" aku berkata tidak. Dulu kami sering pulang sekolah bersama. Selama tiga tahun itu, aku tak tahu dimana rumahnya. Aku hanya tahu sebuah jalan, tempat ia turun angkot ketika pulang sekolah.
Sore ini aku mendatangi jalan itu. Tepat bendera kuning terpasang di gapura jalan. Ku telusuri jalan ke dalam. Harap-harap cemas aku tak menemukan rumahnya. Ku lihat sebuah rumah penuh dengan orang di dalamnya. Ku tanya salah seorang bapak yang sedang berdiri di luar rumah. Mengkonfirmasi bahwa ini rumah temanku. Bapak itu mengiyakan. Aku dipersilakan masuk.
Tidak ada tanda-tanda dari temanku. Apakah aku salah rumah? Namun aku melihat seorang ibu yang dikelilingi para pelayat. Sang ibu banyak bercerita tentang kebaikan-kebaikan almarhum. Dari cara bicaranya, dari bahasa yang ia gunakan, aku mengenali bahwa ia adalah ibu temanku.
Aku memperkenalkan diri pada sang ibu. Ibu tampak senang, ada teman anaknya yang berkunjung. Aku diminta menunggu, temanku masih di makam.
Tak lama kemudian seorang gadis memakai mukena hitam tiba di rumah. ia tampak terkejut dengan banyak orang yang ada di ruang tamu. Matanya sembab, namun senyum masih terukir di wajahnya. Sambil menata hati ia mempersilahkan tamu yang berkunjung.
Dear Tiara,
Aku turut berduka atas kepergian ayahmu. Maafkan aku tak bisa lama bertamu hari ini. Semoga doa-doa untuk ayah, Allah kabulkan sebagai pemberat amal baik untuk ayahmu.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar