Rabu, 05 Maret 2025

Lima Ayat pertama surat At-Thariq

Aku dan suami senang mendengarkan lagu lama, lagu-lagu Ebiet G. Ade, misalnya. Sembari mendengarkan lagu yang ku putar dari YouTube, aku membaca kolom komentar di lagu itu. 

"Benar kata orang, lagu diibaratkan sebagai mesin waktu. Saat aku mendengar lagu ini aku teringat ayahku dulu yang setiap pagi mendengarkan lagu ini sambil menyeruput kopi" kata salah satu komentar. Banyak komentar serupa di sana. Mengingat apa yang telah menjadi kenangan. 

Berbeda dengan ku malam ini. Waktu maghrib telah tiba, aku bergegas mengambil wudlu. Terdengar suara lantunan surat al fatihah dari mesjid, tanda shalat berjamaah telah dimulai. Aku menyelesaikan wudlu, lalu terdengar surat At-Thariq dibacakan. Saat itu aku teringat pada kawanku, saat kami KKN dulu, saat mengajarkan anak-anak menghafal surat At-Thariq. Ternyata dia sudah hafal duluan. Ia berkata pernah menghafalnya saat sekolah dulu.

Dita, hanya mendengar lima ayat pertama surat At-Thariq, aku merindukanmu. KKN kita sepuluh tahun yang lalu, tapi aku merasa baru terjadi kemarin. 

Rasa sesak menyeruak mengiringi shalat maghribku. Apa yang aku bisa berikan untukmu, Dita? Apakah surat Al Mulk yang ku bacakan dapat menemanimu di alam kubur?

Ya Allah... Dita temanku yang baik hatinya. Entah ini hari ke berapa ia meninggalkan dunia. Namun rasa rindu ini masih terpaut untuknya. Terima lah, Dita ya Allah. Terima lah Amal ibadahnya. Terima lah perjuangan syahidnya. 

Allahummaghfirlaha warhamha wa'aafiha wa'fu 'anha

Bandung, 6 Ramadhan 1446 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar