Jumat, 18 April 2025

Tentang haji kakek

Baru selesai membaca 'bokis' karya Kang maman suherman. Meskipun banyak mengungkap kisah gelap yang terekam oleh para jurnalis, namun ada bab tentang kisah Kang maman ketika berhaji yang bertemu ayahnya, cukup terpatri di dalam benak ku. Bukan pertama kali aku tahu tentang hal itu. Sebelumnya Kang maman pernah menceritakannya dalam podcast bersama Daniel Mananta (sebenarnya buku bokis terbit dahulu, baru podcast itu tayang, namun urutan menyimak ku sebaliknya). Kang maman pingsan setelah bertemu sang ayah. Banyak jemaah di sekitarnya menganggap Kang maman dehidrasi, lalu pingsan.

Aku teringat kakek ku dulu ketika berhaji. Kakek ku sudah tua renta. Di tahun 2012 aku dapat kabar kakek dan nenek (sambungku) akan berangkat ke baitullah dengan kloter pemberangkatan tahun 2015. Saat itu aku baru diterima di universitas. Aku, dengan menyandang status mahasiswa tidak pernah tahu ibadah haji itu seperti apa. Buku teori tentang bab haji yang dijelaskan guru ku ketika SMP dulu menguap entah kemana. Mungkin bab haji diajarkan di sekolah tidak melalui praktek, seperti bab pemulasaraan jenazah. Saat aku bertanya pada temanku, "kenapa kita ga manasik haji". Temanku hanya tertawa mendengarnya. Manasik haji biasa dilaksanakan oleh anak-anak TK, bukan anak SMP. Sayangnya waktu ku TK dulu tidak ada manasik haji. Beruntung anak-anak sekolah alam gaharu sekarang, mereka bisa manasik haji di kelas RA, MI 5 dan di MTs 8 sesuai pokok materi yang diajarkan. Tak perlu berdesakkan atau menunggu giliran kloter tawaf dengan sekolah lain, di sekolah alam gaharu punya miniatur ka'bah, lapangan, jalur untuk sa'i, lengkap dengan kain ihrom dan batu untuk lempar jumroh yang telah dipersiapkan oleh fasilitator. Anak RA bisa mengikuti rangkaian haji, anak MI 5 bisa praktek sambil membaca doa-doa melalui buku yang telah disediakan, dan anak MTs 8 bisa praktek tanpa guide book. Semua tata cara dan doa-doa telah mereka hapalkan. Tentunya mereka semua praktek di waktu yang berbeda. 

Lebaran 2015 aku bertemu kakek. Nenek sambungku telah wafat. Kakek juga belum berangkat ibadah haji saat itu. Kata kakek, haji nenek moal dibatalkeun, tapi rek dibadalkeun. Aku mengangguk paham. Namun selebihnya aku masih buta tentang bagaimana kondisi ibadah haji. Meskipun saat itu aku mendengar cerita dari dosenku yang baru pulang haji. Tapi bagiku itu semua masih abu-abu. 

Di tahun 2019 muridku berkata, "bundaku mau umroh besar". Saat itu aku bertanya, selama itu ia akan tinggal bersama siapa? Mengingat berhaji itu 40 hari. Materi pelajaran ibadah haji ketika SMP dulu dikit-demi sedikit mulai muncul di kepalaku. Di tahun yang sama, kakekku berangkat haji. Semangat ibadahnya yang tinggi, tidak didukung dengan kebugaran fisik yang memadai. Tiga hari tiba di mekkah, kakekku menghilang tak ada kabar. Seminggu kemudian baru ditemukan, ia dirawat di rumah sakit. Aku geram jika sekarang mengingatnya. Apa yang dilakukan pembimbing rombongannya hingga selama itu kakekku baru ditemukan? Entah apa nama travel yang memberangkatkannya. Apakah tidak ada himbawan kepada para calon jemaah haji untuk menjaga kesehatan?untuk menjaga fisik? Aku baru tahu bahwa ibadah haji dan umroh tidak hanya butuh Iman dan duit yang kuat, tapi butuh fisik yang sehat. Aku pun baru mengetahuinya dari wali muridku itu, ia membagikan foto/video ketika latihan fisik atau pun ketika manasik haji yang diselanggarakan oleh travel hajinya. Betapa malangnya kakekku. Aku menyesali kenapa kakek pergi haji sendirian. Jika kakek ada yang menemani mungkin ia masih bisa berhaji meski didorong dengan kursi roda. Kenyatanya niat badal haji nenek menjadi batal karena pihak keluarga nenek menuntut uang ibadah haji untuk dikembalikan sebagai warisan untuk adik-adik nenek. Nenek tidak punya anak setelah menikah dengan kakek. Mengetahui watak saudaranya seperti itu, beberapa sawah ia jual agar menghindari perebutan warisan. Tapi ternyata takdir berkata lain. Nenek berpulang sebelum berhaji. Saudara kerabat nenek masih berebut hak waris, meskipun memperebutkan uang yang telah didaftarkan untuk berhaji.

Kakek pulang lebih lama dari rombongan hajinya. Setiba di Indonesia, kakekku tetap dirawat rumah sakit. Tempat tujuh hari setelah anakku lahir, kakekku meninggal. Definisi ada kelahiran, ada kematian. Itu terjadi di hidupku dalam waktu seminggu. Sesak rasanya ketika berita duka kematian kakek diumumkan via toa mesjid. Aku menangis sambil menimang bayiku. Apakah ibadah haji kakek diterima Allah? 

Butuh dua sampai tiga tahun aku bisa menyambut bulan dzulhijjah dengan riang. Sebelumnya, jika musim haji tiba, dada ku sesak teringat kakek yang meninggal. Marah, kenapa kami tidak punya banyak uang untuk memberangkatkan kakek dengan travel haji yang lebih baik. Marah, karena kenapa kami tidak punya banyak uang untuk mengusahakan menemani kakek berangkat haji. Marah, kenapa aku dari generasi ketiga ini tidak punya power sama sekali. Padahal jika melihat status KTP pun, aku sudah dewasa. Tapi sebagai orang dewasa aku tidak bisa melakukan apapun. Aku merasa kakekku malang sekali, namun aku tetap berdoa supaya ia tidak malang di mata Allah. 

Beberapa hari lalu temanku memaparkan tentang dilkatSAR yang telah ia laksanakan. Ia bercerita, belajar menangani kasus heat stroke. Lalu atasanku—seorang dokter menimpali, bahwa ia pernah menangani heat stroke ketika berhaji, di puncak musim panas saat itu suhu mencapai 60°. Aku teringat pada kakekku, mungkin ia juga terkena heat stroke. Aku tidak tahu. Tidak ada yang menjelaskan. Tidak pula ada yang bertanya tentang hal itu. 

Kembali kepada cerita Kang maman, ia berdoa di arafah dengan khusyuk, ingin bertemu ayahnya yang telah berpulang sepuluh tahun lalu. Kemudian ada seorang pria datang, ia berkata, "terima kasih telah mendoakanku. Tolong badalkan haji untukku". Lalu ia mengusap kepala Kang maman, kemudian Kang maman jatuh pingsan. 

Membaca kisah itu aku berdoa kepada Allah, mudah-mudahan Allah memanggil aku dan suamiku untuk berhaji 2x, satu kali haji untuk kami, satu kali lagi untuk membadal haji kakek dan nenek ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar