Minggu, 17 Agustus 2014

Upacara


Semua kisah ini berawal dari sebuah chat yang diketikkan oleh teh Uwiw di sebuah grup Line bernama 107,7 eSKa FM UPI, “ ada yang bisa ikut upacara 17an di gasibu ga besok? Wakilin eSKa please 2 orang aja. Besok berangkat bareng dari UPI pake bis UPI. Iraha deui numpak bis UPI”. Saat membaca nya, yang terpikir adalah ‘tumbalin anak kosan aja, males ah kalo pagi-pagi mesti upacara’. Beberapa saat kemudian ada bbm dari Nisa, “Sin, besok mau upacara di gasibu perwakilan eSKa?”. gue terdiam sejenak. Lalu mengetikkan, “hemm.. sama kamu?”
“tadinya iya. Kalo kamu mau aku juga mau deh” balas Nisa
“Ok. Aku bilang teh uwiw kalo kita yg upacara”. Yah, gapapa deh ikutan upacara, Itung-itung ketemu Nisa. Soalnya dari kemarin dia nyariin gue, ada yang mau diomongin kayaknya. Siapa tahu Nisa lagi ada masalah dan butuh temen curhat, kan? Who knows. Kemudian gue membalas chat teh Uwiw di grup Line itu, “aku dan nisa yang akan bersuka-ria naik bis”
Sehari sebelum upacara, gue harap-harap cemas menunggu kabar dari teh Uwiw dan Nisa. Maklum jaringan di rumah memang agak kacau, sms-an, bbm-an, line-an pun menjadi pending. Nelpon sekalipun gabisa nyambung. Da apa atuh rumah aku ma~
Akhirnya mendapat kabar dari teh Uwiw bahwa dresscode untuk upacara 17an adalah pakaian formal dan jaster. Kabar itu pun segera disampaikan ke Nisa. Semalam sebelum upacara gue agak deg-degan. Gue udah lama ga upacara! Upacara kan panas. Apa gue harus pake topi? Tapi topi apa? Topi SD? topi pramuka? Ga matching sama jas almamater.
Karena terlalu nyubuh kalo bersuka-ria naik bis dari kampus dan jatohnya juga terlalu bolak-balik, akhirnya gue dan Nisa memutuskan untuk tebeng-menebeng langsung ke TKP. Kami tiba di Lapangan gasibu pukul 08.45. Upacara kabarnya akan dilaksanakan 15 menit lagi. Gue menghampiri  beberapa orang yang sedang berkumpul ria, beberapa diantara mereka terasa familiar di rapat Fkukm kemarin dan Nisa merasa kalau gue itu hebat banget bisa menemukan anak UPI di sekian banyak kerumunan orang.  Iyalah, Nis. Mereka kan mengenakan jaster yang sama dengan apa yang kita pakai.
Sambil menebar senyum kece, gue dan Nisa bergabung dengan mereka. “dari mana, teh?” Kang Dery selaku Sekjen Fkukm  bertanya. “dari eSKa Radio” jawab gue singkat. Kemudian cewek yang mengenakan kerudung hijau--yang pada akhirnya diketahui sering di panggil Rubi--mengecek nama kami dalam daftar nama yang sedari tadi ia pegang. Setelah melihat sekeliling, muncul lah sesosok cewek yang sering gue cerewetin. “Elgri!” gue setengah teriak girang. Nisa pun sama. Elgri pun demikian. Cowok-cowok yang ada tampak terkejut melihat kami. Kami cipika-cipiki dan ngobrol-ngobrol ringan.
Salah satu anggota dari pasukan TNI Kodam III Siliwangi—sepertinya—mulai merapikan barisan. Kami akan memasuki lapangan gasibu untuk upacara. Kang Nana, dari Protokoler yang memimpin barisan kami. Kemudian bapak  TNI itu memanggil mahasiswa lainnya untuk bergabung dalam barisan. Terlihat empat orang dari Unpas dan belasan dari LP3I.
“Tiga puluh orang saja” kata bapak TNI itu kepada kang Nana. “Tiga puluh satu, sama kamu, Danton (pemimpin barisan)”. Kang Nana menghampiri barisan kami, “ada yang mau ga ikut upacara?” tanya nya. Pertanyaan macam apa itu? Teriak gue dalem hati. Iya sih. Kang Nana menawarkan hal itu pertama pada barisan kami, barisan yang dianggapnya lebih enak untuk menawarkan hal itu, tidak bermaksud mengusir. Hanya saja memang begitu perintahnya.
“Tiga puluh orang saja, yang lainnya nonton upacara saja” kata bapak TNI itu. Spontan, gue, Elgri dan Nisa ngakak. “nonton upacara aja, pak? Sakitnya tuh disini” Elgri dan Nisa seraya berbisik bersahutan. Gue senyam-senyum antara pengen ketawa lagi dan takut kena semprot si bapak.
                  


Kang Nana masih menunggu jawaban. “Aku aja deh” Rubi keluar dari barisan. “Aku dokumentasi aja”.
“Laki-lakinya siapa?” tanya kang Nana lagi.
“Geus urang we” satu cowok yang entah namanya siapa, yang sedari tadi jasternya belum di pakai dan tengah asyik meminum kopi memisahkan diri dari barisan. Kang Nana berbalik kemudian mengajukan pertanyaan yang sama kepada mahasiswa lain di barisan yang berada belakang gue.
“Sin, mau ikut upacara atau gimana nih? Pengen upacara sih” Nisa mulai bimbang.
“Sama. gimana dong?”
“Yaudah lah, kita upacara aja. Udah pagi-pagi pergi ke sini kan tujuan nya buat upacara”. Gue mengangguk mantap dan kita tetap berada dalam barisan. Tak lama kemudian barisan peserta upacara memasuki lapangan gasibu. Buat upacara, bukan senam pagi.
Posisi gue di dalam lapang gak terlalu jauh dan dari tiang bendera. Yaaa, cukup jelas lah buat melihat tim paskibra nya. Gue ingat saat SMP, betapa lamanya jikalau lo ikut upacara 17 agustus. Nunggu masuk lapangan nya, berdiri lamanya menunggu sang inspektor upacaranya yang merupakan pejabat negara, acara upacaranya juga yg begitu lama, amanat inspektor upacaranya yang juga lama, serta paduan suaranya yang lama karena banyak menyanyikan lagu-lagu nasional. Ya, gue ingat mengikuti hal seperti ini saat SMP.
Upacara belum dimulai. Sepertinya bapak gubernur dan pejabat penting lainnya belum juga tiba—kabar yg gue terima katanya mereka banyak di cegat wartawan sampe masuk lapang gasibu aja susah— upacara benar-benar belum dimulai. Tapi panas terik mulai terasa. Sabar aja, Ta. Dahulu juga memang begini, dan kuat kan? Tiba-tiba Elgri balik badan dari barisannya. Wajahnya putih pucat. Bibirnya putih. Gue pegangin dia sebelum dia berjalan terus ke belakang. Dan beberapa orang mulai berteriak “Tandu! Tandu!”. Beberapa peserta di depan gue mulai berguguran menyusul Elgri. Termasuk Nisa.
Ya, upacara dimulai. Pejabat kota dan provinsi telah datang. Upacara pun terlaksana layaknya upacara 17an lainnya. Kalo mau hormat senjata atau apalah itu, suka ada bunyi-bunyi terompet kan? Tet toret tet toret tet toret toret~ gue jadi malah inget mang saswi yang mau laporan ke sule di ini sahur -.-
Giliran yang paling gue tunggu-tunggu adalah tim paskibra tingkat provinsi beraksi. Ya, siapapun itu, termasuk gue pernah ingin menjadi anggota paskibraka yang mengibarkan sang saka merah putih saat upacara 17an seperti ini. Yang pake baju putih-putih, jalan tegap, gagah. Apalagi pembawa baki benderanya, terus kepilih jadi anggota paskibraka nasional. Terus masuk tv. Wah bangganya... orangtua dirumah juga bangga pastinya.
Saat bendera dikibarkan, entah kenapa gue merasa deg-degan, terharu. Terharu bisa melihat bendera berkibar lagi di depan mata. Setelah sekian lama gue ga ikut upacara. Membayangkan orang-orang jaman dulu yang ingin banget merdeka dan memperjuangkannya. Membayangkan orang-orang di pelosok negeri yang mengibarkan merah-putih seadanya. Gue amat sangat bersyukur, bisa berdiri dan memberi hormat kepada sang saka merah putih. Suatu hari nanti gue akan mengharumkan negara dan mengibarkan bendera itu di negara-negara lain. Suatu hari nanti.
Setelah pengibaran bendera selesai, beberapa orang di depan gue mulai berguguran lagi. Satu anggota dari Resimen Mahasiswa (Menwa) mulai mondar-mandir. “kalau merasa pusing, langsung berbalik ke belakang, gerak-gerakan jari kaki nya. Upacara sebentar lagi selesai”. Terimakasih atas kata-katamu itu. Tapi aku tahu kalau amanat inspektor upacara ga akan sebentar. Terlihat Rubi dan cowok yang tadi keluar dari barisan di depan mata gue. Di tempat wartawan yang lagi berburu foto. Lah, tau gitu gue ikut mereka dari tadi. Jelas-jelas kan disini gue yang pers.
Disamping itu, gue mulai menggerak-gerakan jari kaki, posisi istirahat di tempat pun udah ga mau diem. Isi perut mulai bergejolak tingkat dasar. Masih biasa. Gue melirik ke kanan. Barisan anak Menwa dan sebelahnya lagi anak IPDN yang bajunya superketat. Untung ga ada perut mereka yg buncit ^^v.
Salah satu dari mereka yang berpakaian superketat itu, sebarisan dengan gue. Ia terlihat mengeluarkan cairan dari mulutnya. Mengalir begitu saja. Kuning. Yaks. Gue geleng-geleng kepala sambil memberikan sugesti untuk diri sendiri. “kuat,Ta. Kuat. Upacara sebentar lagi beres. Jangan di lihat”. Sambil berlalu nya waktu, si pelaku tadi gak balik badan ke belakang, melainkan jongkok di tempat. Apa dia ga mendengar kata-kata Menwa tadi ya? Pada akhirnya gue tau, mungkin didikan mereka berbeda. Berdiri di lapangan upacara 17an adalah harga mati! —mungkin, itu alasan konyol yang gue buat.
Perut bergejolak tingkat dua. Masih bisa berdiri tegak. Gue gerakan jari-jari kaki lagi. Sambil melihat sekeliling. Peserta upacara barisan mahasiswa dikit demi sedikit mulai balik badan. Anak cewe protokoler pun gugur, mungkin dia terbiasa bolak-balik menjadi protokol di kampus, mondar-mandir mengikuti pejabat yang berkunjung kemana pun dia melangkah. Tapi upacara 17an yang telah disebutkan gue tadi—lama—membuat ia menyerah juga. Mungkin juga karena faktor pantofel yang ia pakai. Hellow, gue cuma pake sepatu cats ko.
Perut bergejolak tingkat tiga. Diringi rasa perih dan mual. Gue tegakkan kepala, dan pandangan menjadi kuning, oke. Saatnya balik badan. Gue disambut oleh bapak-bapak dengan tangan lebar dan berbisik, “masih kuat jalan?”. “masih” jawab gue gak kalah pelan nya dengan bisikkan dia. “ini, pusing tapi masih kuat jalan” kata bapak itu kepada petugas medis lainnya. Kemudian dengan sigap kedua lengan gue di dekap oleh ibu-ibu medis.  Dan di depan gue terlihat beberapa caddy. Dan gue disuruh naik caddy itu. Hellooooow gue sakit saat upacara dan gue disuruh naik odong-odong! Dalem hati gue pengen ketawa.
Ibu-ibu itu bertanya, udah sarapan atau belum. Gue jawab udah. Mungkin dalam pikiran si ibu, ini anak udah sarapan tapi masih aja pusing. Gimana anak-anak lainnya yang belum sarapan? Tapi dalam pikiran gue, ih si ibu nanya-nanya udah sarapan atau belum. Mau nyaingin kang Imam yak? Hehehehehehe ^^v
Tapi dibalik semua itu gue pengen bilang. Bu, walaupun udah sarapan, gue ga pernah upacara 17an lagi sejak kelas delapan bu! Sekarang gue udah dua tahun meninggalkan kelas duabelas! Selama masa putih abu pun gue jarang ikut upacara bu, sekalinya upacara jadi petugas PMR yang bolak-balik nganterin yang pusing atau kesana-kemari ngegotong yang pingsan! Sekalinya upacara pun gue ga bawa topi bu, jadi barisnya paling belakang di tempat yang teduh, sekalinya upacara ngobrol sama Gia yang jadinya kita dihukum. Tapi mending gitu kan dari pada pusing dan sakit begini. Ibu harus ngerti posisi aku, bu! Harus!
Odong-odong pun membawa gue ke tenda P3K. Terdapat Nisa, Elgri dan temen-temen se-almamater lainnya yang gugur duluan. Gue cengar-cengir turun dari odong-odong itu disertai sorakan mereka. “huuuu! Kan tadi udah dibilangin, siapa yang mau ga ikut upacara. Malah sok-sok an ikut. Padahal ga kuat” kata Rubi dan cowok itu saling bersahutan. Gue ketawa-ketiwi sambil bilang makasih ke ibu itu saat ia memberikan segelas air putih. Iya ketawa-ketiwi, sampe ngakak juga. Antara pengen ketawa lepas, mengetawakan diri sendiri, juga temen-temen yang lain. Sok banget kita! Nisa pun bilang, “ini anak lagi sakit masih bisa aja ketawa” aseli Nis, kita bodor pisan. Pasukan srikandi UPI K.O semua. Sampai ibu petugas P3K nya pun bilang, “budak UPI ma semuanya udah ada disini ya?” setengah ketawa gue jawab, “masih ada dua yang bertahan disana bu (yang cewek)”. Beberapa saat kemudian, Wiwin, temennya Nisa pun memasuki kerumunan kami. Berarti the last strong girl tinggal satu orang.
Kita sempat berbincang ringan, “gila anak cowoknya setrong banget ga ada yg pusing!” kata gue yang di-iya-kan oleh cewek-cewek lainnya.
“alah, mereka juga sama pusing, kok. Cuma ditahan aja. Malu kali kalo balik ke tenda P3K. Jawab cowok yang bareng sama Rubi. Para cowok pada gengsi kali ya, juga mencoba sekuat mungkin untuk bisa menghadiri upacara hingga selesai supaya di keprokin sama kita-kita yang gugur cantik. Eh iya, ternyata kuku cowok yang bareng sama rubi berwarna pink. Gue singgung tentang itu, dia bilang dikerjain temen nya waktu dia lagi tidur. Next kita panggil dia cowok berkuku pink. Ia menyarankan kepada kami untuk membuka jaster. Biar ga malu ceritanya. Anak UPI upacaranya pada tumbang.
Yassu, daripada mempermalukan diri dengan cara terus stay di tenda P3K, kami bergerak menuju depan gedung sate. Upacara segera berakhir. Lagu-lagu nasional mulai terdengar yang dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa Unpad. Tepat di depan gedung sate, para tamu undangan mulai berkeliaran. Paskibraka juga. Sepertinya upacara benar-benar berakhir. Mereka berbaris dan berfoto ria di tangga-tangga itu, disertai Gubernur dan Wakil Gubernur tentunya. Terlihat Pak Walikota di depan mata. Ingin sekali mengejarnya dan meminta testimoni untuk live report eSKa. Hal itu di dukung keras oleh cowok berkuku pink itu. “oh kamu eSKa, ayo samperin!” Tapi tak terkejar. Kepada Gubernur dan Wakil nya juga. Ya sudahlah. Kami pun bergerak menuju bis UPI yang membawa pasukan Fkukm kemari. Ternyata para cowok dan the last strong girl udah mejeng di depan taman lansia tempat bis itu parkir. Ngobrol-ngobrol dikit ini-itu, absen-absen oleh Rubi dan kami pun berpisah. Gue dan Nisa bergerak ke depan Museum Pos Indonesia, tempat dimana motor Nisa parkir sambil melambaikan tangan kepada Elgri, Rubi, cowok berkuku pink, kang Dery dan teman-teman lainnya.
Senang bisa berkumpul bersama kalian, upacara yang pada akhirnya naik odong-odong.  The women from UPI, kompak banget kita!
Nb: mohon maaf bila penulis salah menyebutkan nama pada orang-orang yang disebutkan diatas. Da aku ma apa atuh~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar