Semua kisah ini berawal dari sebuah chat
yang diketikkan oleh teh Uwiw di sebuah grup Line bernama 107,7 eSKa FM UPI, “
ada yang bisa ikut upacara 17an di gasibu ga besok? Wakilin eSKa please 2 orang
aja. Besok berangkat bareng dari UPI pake bis UPI. Iraha deui numpak bis UPI”.
Saat membaca nya, yang terpikir adalah ‘tumbalin
anak kosan aja, males ah kalo pagi-pagi mesti upacara’. Beberapa saat
kemudian ada bbm dari Nisa, “Sin, besok mau upacara di gasibu perwakilan eSKa?”.
gue terdiam sejenak. Lalu mengetikkan, “hemm.. sama kamu?”
“tadinya iya. Kalo kamu mau aku juga mau
deh” balas Nisa
“Ok. Aku bilang teh uwiw kalo kita yg
upacara”. Yah, gapapa deh ikutan upacara, Itung-itung ketemu Nisa. Soalnya dari
kemarin dia nyariin gue, ada yang mau diomongin kayaknya. Siapa tahu Nisa lagi
ada masalah dan butuh temen curhat, kan? Who
knows. Kemudian gue membalas chat teh Uwiw di grup Line itu, “aku dan nisa
yang akan bersuka-ria naik bis”
Sehari sebelum upacara, gue harap-harap
cemas menunggu kabar dari teh Uwiw dan Nisa. Maklum jaringan di rumah memang
agak kacau, sms-an, bbm-an, line-an pun menjadi pending. Nelpon sekalipun
gabisa nyambung. Da apa atuh rumah aku ma~
Akhirnya mendapat kabar dari teh Uwiw
bahwa dresscode untuk upacara 17an adalah pakaian formal dan jaster. Kabar itu
pun segera disampaikan ke Nisa. Semalam sebelum upacara gue agak deg-degan. Gue
udah lama ga upacara! Upacara kan panas. Apa gue harus pake topi? Tapi topi
apa? Topi SD? topi pramuka? Ga matching sama jas almamater.
Karena terlalu nyubuh kalo bersuka-ria
naik bis dari kampus dan jatohnya juga terlalu bolak-balik, akhirnya gue dan Nisa memutuskan untuk tebeng-menebeng
langsung ke TKP. Kami tiba di Lapangan gasibu pukul 08.45. Upacara kabarnya
akan dilaksanakan 15 menit lagi. Gue menghampiri beberapa orang yang sedang berkumpul ria,
beberapa diantara mereka terasa familiar di rapat Fkukm kemarin dan Nisa merasa
kalau gue itu hebat banget bisa menemukan anak UPI di sekian banyak kerumunan
orang. Iyalah, Nis. Mereka kan
mengenakan jaster yang sama dengan apa yang kita pakai.
Sambil menebar senyum kece, gue dan Nisa
bergabung dengan mereka. “dari mana, teh?” Kang Dery selaku Sekjen Fkukm bertanya. “dari eSKa Radio” jawab gue singkat.
Kemudian cewek yang mengenakan kerudung hijau--yang pada akhirnya diketahui
sering di panggil Rubi--mengecek nama kami dalam daftar nama yang sedari tadi
ia pegang. Setelah melihat sekeliling, muncul lah sesosok cewek yang sering gue
cerewetin. “Elgri!” gue setengah teriak girang. Nisa pun sama. Elgri pun
demikian. Cowok-cowok yang ada tampak terkejut melihat kami. Kami cipika-cipiki
dan ngobrol-ngobrol ringan.
Salah satu anggota dari pasukan TNI Kodam
III Siliwangi—sepertinya—mulai merapikan barisan. Kami akan memasuki lapangan
gasibu untuk upacara. Kang Nana, dari Protokoler yang memimpin barisan kami.
Kemudian bapak TNI itu memanggil
mahasiswa lainnya untuk bergabung dalam barisan. Terlihat empat orang dari
Unpas dan belasan dari LP3I.
“Tiga puluh orang saja” kata bapak TNI
itu kepada kang Nana. “Tiga puluh satu, sama kamu, Danton (pemimpin barisan)”.
Kang Nana menghampiri barisan kami, “ada yang mau ga ikut upacara?” tanya nya. Pertanyaan macam apa itu? Teriak gue
dalem hati. Iya sih. Kang Nana menawarkan hal itu pertama pada barisan kami,
barisan yang dianggapnya lebih enak untuk menawarkan hal itu, tidak bermaksud
mengusir. Hanya saja memang begitu perintahnya.
“Tiga puluh orang saja, yang lainnya
nonton upacara saja” kata bapak TNI itu. Spontan, gue, Elgri dan Nisa ngakak. “nonton
upacara aja, pak? Sakitnya tuh disini” Elgri dan Nisa seraya berbisik
bersahutan. Gue senyam-senyum antara pengen ketawa lagi dan takut kena semprot
si bapak.
Kang Nana masih menunggu jawaban. “Aku
aja deh” Rubi keluar dari barisan. “Aku dokumentasi aja”.
“Laki-lakinya siapa?” tanya kang Nana
lagi.
“Geus urang we” satu cowok yang entah
namanya siapa, yang sedari tadi jasternya belum di pakai dan tengah asyik
meminum kopi memisahkan diri dari barisan. Kang Nana berbalik kemudian
mengajukan pertanyaan yang sama kepada mahasiswa lain di barisan yang berada belakang
gue.
“Sin, mau ikut upacara atau gimana nih?
Pengen upacara sih” Nisa mulai bimbang.
“Sama. gimana dong?”
“Yaudah lah, kita upacara aja. Udah
pagi-pagi pergi ke sini kan tujuan nya buat upacara”. Gue mengangguk mantap dan
kita tetap berada dalam barisan. Tak lama kemudian barisan peserta upacara
memasuki lapangan gasibu. Buat upacara, bukan senam pagi.
Posisi gue di dalam lapang gak terlalu
jauh dan dari tiang bendera. Yaaa, cukup jelas lah buat melihat tim paskibra
nya. Gue ingat saat SMP, betapa lamanya jikalau lo ikut upacara 17 agustus.
Nunggu masuk lapangan nya, berdiri lamanya menunggu sang inspektor upacaranya
yang merupakan pejabat negara, acara upacaranya juga yg begitu lama, amanat
inspektor upacaranya yang juga lama, serta paduan suaranya yang lama karena
banyak menyanyikan lagu-lagu nasional. Ya, gue ingat mengikuti hal seperti ini
saat SMP.
Upacara belum dimulai. Sepertinya bapak
gubernur dan pejabat penting lainnya belum juga tiba—kabar yg gue terima
katanya mereka banyak di cegat wartawan sampe masuk lapang gasibu aja susah—
upacara benar-benar belum dimulai. Tapi panas terik mulai terasa. Sabar aja, Ta. Dahulu juga memang begini,
dan kuat kan? Tiba-tiba Elgri balik badan dari barisannya. Wajahnya putih
pucat. Bibirnya putih. Gue pegangin dia sebelum dia berjalan terus ke belakang.
Dan beberapa orang mulai berteriak “Tandu! Tandu!”. Beberapa peserta di depan
gue mulai berguguran menyusul Elgri. Termasuk Nisa.
Ya, upacara dimulai. Pejabat kota dan
provinsi telah datang. Upacara pun terlaksana layaknya upacara 17an lainnya.
Kalo mau hormat senjata atau apalah itu, suka ada bunyi-bunyi terompet kan? Tet
toret tet toret tet toret toret~ gue jadi malah inget mang saswi yang mau
laporan ke sule di ini sahur -.-
Giliran yang paling gue tunggu-tunggu
adalah tim paskibra tingkat provinsi beraksi. Ya, siapapun itu, termasuk gue
pernah ingin menjadi anggota paskibraka yang mengibarkan sang saka merah putih
saat upacara 17an seperti ini. Yang pake baju putih-putih, jalan tegap, gagah.
Apalagi pembawa baki benderanya, terus kepilih jadi anggota paskibraka
nasional. Terus masuk tv. Wah bangganya... orangtua dirumah juga bangga
pastinya.
Saat bendera dikibarkan, entah kenapa gue
merasa deg-degan, terharu. Terharu bisa melihat bendera berkibar lagi di depan
mata. Setelah sekian lama gue ga ikut upacara. Membayangkan orang-orang jaman
dulu yang ingin banget merdeka dan memperjuangkannya. Membayangkan orang-orang
di pelosok negeri yang mengibarkan merah-putih seadanya. Gue amat sangat
bersyukur, bisa berdiri dan memberi hormat kepada sang saka merah putih. Suatu
hari nanti gue akan mengharumkan negara dan mengibarkan bendera itu di negara-negara
lain. Suatu hari nanti.
Setelah pengibaran bendera selesai,
beberapa orang di depan gue mulai berguguran lagi. Satu anggota dari Resimen
Mahasiswa (Menwa) mulai mondar-mandir. “kalau merasa pusing, langsung berbalik
ke belakang, gerak-gerakan jari kaki nya. Upacara sebentar lagi selesai”.
Terimakasih atas kata-katamu itu. Tapi aku tahu kalau amanat inspektor upacara
ga akan sebentar. Terlihat Rubi dan cowok yang tadi keluar dari barisan di
depan mata gue. Di tempat wartawan yang lagi berburu foto. Lah, tau gitu gue
ikut mereka dari tadi. Jelas-jelas kan disini gue yang pers.
Disamping itu, gue mulai
menggerak-gerakan jari kaki, posisi istirahat di tempat pun udah ga mau diem. Isi
perut mulai bergejolak tingkat dasar. Masih biasa. Gue melirik ke kanan.
Barisan anak Menwa dan sebelahnya lagi anak IPDN yang bajunya superketat. Untung
ga ada perut mereka yg buncit ^^v.
Salah satu dari mereka yang berpakaian
superketat itu, sebarisan dengan gue. Ia terlihat mengeluarkan cairan dari
mulutnya. Mengalir begitu saja. Kuning. Yaks. Gue geleng-geleng kepala sambil
memberikan sugesti untuk diri sendiri. “kuat,Ta.
Kuat. Upacara sebentar lagi beres. Jangan di lihat”. Sambil berlalu nya
waktu, si pelaku tadi gak balik badan ke belakang, melainkan jongkok di tempat.
Apa dia ga mendengar kata-kata Menwa tadi ya? Pada akhirnya gue tau, mungkin
didikan mereka berbeda. Berdiri di lapangan upacara 17an adalah harga mati! —mungkin,
itu alasan konyol yang gue buat.
Perut bergejolak tingkat dua. Masih bisa
berdiri tegak. Gue gerakan jari-jari kaki lagi. Sambil melihat sekeliling.
Peserta upacara barisan mahasiswa dikit demi sedikit mulai balik badan. Anak
cewe protokoler pun gugur, mungkin dia terbiasa bolak-balik menjadi protokol di
kampus, mondar-mandir mengikuti pejabat yang berkunjung kemana pun dia melangkah.
Tapi upacara 17an yang telah disebutkan gue tadi—lama—membuat ia
menyerah juga. Mungkin juga karena faktor pantofel yang ia pakai. Hellow, gue
cuma pake sepatu cats ko.
Perut bergejolak tingkat tiga. Diringi
rasa perih dan mual. Gue tegakkan kepala, dan pandangan menjadi kuning, oke.
Saatnya balik badan. Gue disambut oleh bapak-bapak dengan tangan lebar dan
berbisik, “masih kuat jalan?”. “masih” jawab gue gak kalah pelan nya dengan
bisikkan dia. “ini, pusing tapi masih kuat jalan” kata bapak itu kepada petugas
medis lainnya. Kemudian dengan sigap kedua lengan gue di dekap oleh ibu-ibu
medis. Dan di depan gue terlihat
beberapa caddy. Dan gue disuruh naik caddy itu. Hellooooow gue sakit saat
upacara dan gue disuruh naik odong-odong! Dalem hati gue pengen ketawa.
Ibu-ibu itu bertanya, udah sarapan atau
belum. Gue jawab udah. Mungkin dalam pikiran si ibu, ini anak udah sarapan tapi
masih aja pusing. Gimana anak-anak lainnya yang belum sarapan? Tapi dalam
pikiran gue, ih si ibu nanya-nanya udah sarapan atau belum. Mau nyaingin kang
Imam yak? Hehehehehehe ^^v
Tapi dibalik semua itu gue pengen bilang.
Bu, walaupun udah sarapan, gue ga pernah upacara 17an lagi sejak kelas delapan
bu! Sekarang gue udah dua tahun meninggalkan kelas duabelas! Selama masa putih
abu pun gue jarang ikut upacara bu, sekalinya upacara jadi petugas PMR yang
bolak-balik nganterin yang pusing atau kesana-kemari ngegotong yang pingsan!
Sekalinya upacara pun gue ga bawa topi bu, jadi barisnya paling belakang di
tempat yang teduh, sekalinya upacara ngobrol sama Gia yang jadinya kita
dihukum. Tapi mending gitu kan dari pada pusing dan sakit begini. Ibu harus
ngerti posisi aku, bu! Harus!
Odong-odong pun membawa gue ke tenda P3K.
Terdapat Nisa, Elgri dan temen-temen se-almamater lainnya yang gugur duluan.
Gue cengar-cengir turun dari odong-odong itu disertai sorakan mereka. “huuuu!
Kan tadi udah dibilangin, siapa yang mau ga ikut upacara. Malah sok-sok an
ikut. Padahal ga kuat” kata Rubi dan cowok itu saling bersahutan. Gue
ketawa-ketiwi sambil bilang makasih ke ibu itu saat ia memberikan segelas air
putih. Iya ketawa-ketiwi, sampe ngakak juga. Antara pengen ketawa lepas,
mengetawakan diri sendiri, juga temen-temen yang lain. Sok banget kita! Nisa
pun bilang, “ini anak lagi sakit masih bisa aja ketawa” aseli Nis, kita bodor pisan. Pasukan
srikandi UPI K.O semua. Sampai ibu petugas P3K nya pun bilang, “budak UPI ma
semuanya udah ada disini ya?” setengah ketawa gue jawab, “masih ada dua yang
bertahan disana bu (yang cewek)”. Beberapa saat kemudian, Wiwin, temennya Nisa
pun memasuki kerumunan kami. Berarti the last strong girl tinggal satu orang.
Kita sempat berbincang ringan, “gila anak
cowoknya setrong banget ga ada yg pusing!” kata gue yang di-iya-kan oleh
cewek-cewek lainnya.
“alah, mereka juga sama pusing, kok. Cuma
ditahan aja. Malu kali kalo balik ke tenda P3K. Jawab cowok yang bareng sama
Rubi. Para cowok pada gengsi kali ya, juga mencoba sekuat mungkin untuk bisa
menghadiri upacara hingga selesai supaya di keprokin sama kita-kita yang gugur
cantik. Eh iya, ternyata kuku cowok yang bareng sama rubi berwarna pink. Gue
singgung tentang itu, dia bilang dikerjain temen nya waktu dia lagi tidur. Next
kita panggil dia cowok berkuku pink. Ia menyarankan kepada kami untuk membuka
jaster. Biar ga malu ceritanya. Anak UPI upacaranya pada tumbang.
Yassu, daripada mempermalukan diri dengan
cara terus stay di tenda P3K, kami bergerak menuju depan gedung sate. Upacara
segera berakhir. Lagu-lagu nasional mulai terdengar yang dinyanyikan oleh
Paduan Suara Mahasiswa Unpad. Tepat di depan gedung sate, para tamu undangan
mulai berkeliaran. Paskibraka juga. Sepertinya upacara benar-benar berakhir.
Mereka berbaris dan berfoto ria di tangga-tangga itu, disertai Gubernur dan
Wakil Gubernur tentunya. Terlihat Pak Walikota di depan mata. Ingin sekali
mengejarnya dan meminta testimoni untuk live report eSKa. Hal itu di dukung
keras oleh cowok berkuku pink itu. “oh kamu eSKa, ayo samperin!” Tapi tak
terkejar. Kepada Gubernur dan Wakil nya juga. Ya sudahlah. Kami pun bergerak
menuju bis UPI yang membawa pasukan Fkukm kemari. Ternyata para cowok dan the
last strong girl udah mejeng di depan taman lansia tempat bis itu parkir. Ngobrol-ngobrol
dikit ini-itu, absen-absen oleh Rubi dan kami pun berpisah. Gue dan Nisa
bergerak ke depan Museum Pos Indonesia, tempat dimana motor Nisa parkir sambil
melambaikan tangan kepada Elgri, Rubi, cowok berkuku pink, kang Dery dan
teman-teman lainnya.
Senang bisa berkumpul bersama kalian,
upacara yang pada akhirnya naik odong-odong. The women from UPI, kompak banget kita!
Nb: mohon maaf bila penulis salah menyebutkan nama pada
orang-orang yang disebutkan diatas. Da aku ma apa atuh~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar