Pekan berlalu,
saya dan Aliefpun menghadiri binwin tingkat kabupaten tersebut. Dua hari
berturut-turut di Soreang. Hari
pertama berjalan lancar. Hari kedua, hujan sejak pagi. Alhasil jalanan macet.
Ujian pertama jauh sebelum pernikahan. Bahkan sebelum menimba ilmu untuk
menikah. Dengan membawa niat, kami tembus hujan tersebut. Dan kami tiba di
tempat sekitar jam 9.30. Terlambat satu setengah jam. Ternyata bukan hanya kami
yang terlambat, bukan hanya kami pula yang basah kuyup.
Peserta binwin ini cukup beragam dibandingkan
dengan peserta binwin di KUA lalu. Memang sebagian besar adalah usia yang
sedang mengalami quarter crisis life, tetapi saya juga melihat ada
ibu-ibu yang semangat menghadiri acara tersebut padahal rumahnya di Ciwidey. Kemudian
ada yang masih berumur 16 tahun (perempuan) yang sering kesindir jika pasal
undang-undang disebutkan.
Tekadku
mematahkan ucapan kawanku dulu. Menurutku binwin ini merupakan hal yang sayang
jika dilewatkan. Pematerinya bukan hanya petugas KUA, tetapi ada dokter,
ustadz, petugas BKKBN dan lainnya saya lupa. Beliau-beliau lah yang membekali kami tentang banyak ilmu dari berbagai
sudut pandang. Tidak secara agama saja, tetapi negara juga ikut andil mengatur.
Tidak hanya kasus-kasus kecil yang sering mencuat di dalam kehidupan pernikahan
saja, tetapi ada pula sisi agama yang menyeimbangkannya, semua dikembalikan
pada dalil dan sunnah rasul. Tidak hanya membahas tentang menikah saja,
tetapi tentang pengasuhan anak pula. Bahwa jangan sampai kita menikah tetapi
tidak siap menjadi orang tua. Jangan sampai kita hanya bisa mengadakan akad,
resepsi, mencari nafkah, tetapi kita lalai dalam pengasuhan dan Pendidikan
anak. Pihak BKKBN lah yang banyak berbicara, mereka memaparkan bahwa banyak
anak-anak terlantar, anak yang ada di penjara dan butuh pendampingan adalah
anak-anak yang terlahir dari pasangan yang tidak siap menjadi orang tua. Juga,
sebelum jauh tentang pengasuhan anak, memiliki anak, kita dulu lah yang harus
sehat. Ada dokter yang memaparkan tentang kesehatan reproduksi, apa saja yang
perlu dipersiapkan sebelum kehamilan, saat kehamilan, setelah melahirkan,
kesehatan anak, isu-isu yang sedang berkembang di Indonesia, dan lain
sebagainya yang menurut saya hal ini belum tentu bisa saya dapatkan di tempat
seminar-seminar pra nikah lain. Alhamdulillah.
Ketika saya
punya niat untuk memperbaiki diri, Allahlah yang membukakan jalan untuk
mencapainya. Ketika saya berniat untuk menikah, Allah lah yang memberi izin
melalui restu kedua orang tua saya. Allahlah yang membukakan jalan untuk
mencapaiNya. Allah yang menggerakan hati orang-orang, saudara-saudara,
kerabat-kerabat untuk ikut andil pada pernikahan saya. Allah juga yang
memberikan “golden ticket” untuk kami dalam mengikuti binwin ini, untuk menimba
segala ilmu yang saya butuhkan untuk kehidupan setelah menikah nanti.
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Hanya kepadaMu lah
kami menyembah dan hanya kepadaMu lah kami memohon pertolongan.
Dari sekian
pemateri yang hadir, saya paling menikmati materi dari pemateri yang merupakan
pegawai kementrian agamanya (atau siapa ya saya juga sedikit lupa) yang
mengupas tuntas kasus-kasus kecil atau hal sepele yang sering muncul dalam
pernikahan. Tanpa slide apapun, hanya bercerita, berbagi kisah, berbagi kasus,
tanya jawab, yang lebih banyak pernyataan retorisnya sih. Tapi mak jleb. Ngena
banget.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar