Kembali pada
pernyataan Abah Ihsan tentang dalam islam belum ada (atau diwajibkan) bagi
paslon pasutri untuk mengikuti bimbingan perkawinan. Ternyata, jaman dahulu ada
loh binwin yang dilakukan oleh pasutri dan penyelenggaranya KUA. Bapak pemateri
tersebutlah yang menceritakannya dalam saat materi yang beliau berikan.
Begini
prosesnya: setelah terdaftar di KUA, paslon pasutri akan dibina selama dua
bulan oleh penghulu mereka. Pasutri tersebut dibina di sebuah balai desa yang
memiliki atap runcing (dalam basa sunda disebut nyungcung) yang kemudian
sering kita dengar sebagai balé nyungcung. Sehingga ketika kumpul hari
raya sering dilontarkan pertanyaan, “iraha ka balé nyungcung?” yang
berarti sama dengan pertanyaan yang sering kita dengar saat ini, “kapan nikah?”.
Para pasutri
tersebut diberi pembekalan tentang membina rumah tangga, tak jauh berbeda
dengan bimbingan perkawinan yang dilakukan oleh KUA saat ini atau dengan
seminar pra nikah yang marak digandrungi oleh para milenials. Tujuan utamanya
ya pembekalan sebelum membina rumah tangga. Maka ketika jaman kakek-nenek kita
dulu angka perceraian minim, tak sebanyak seperti sekarang ini.
Kembali pada
pasutri yang di balé nyungcung tadi. Selain dibina, mereka ditugaskan
membawa bibit pohon kelapa (bibit, atau benih ya? Cmiiw please), yang
kita tahu buah kelapa memiliki segudang manfaat. Bukan untuk apa-apa atau
menjadi sebuah persyaratan, bibit kelapa tersebut dibawa pulang kembali dan
diminta untuk ditanam di depan rumah. Sehingga ketika saat ini kita melakukan
sebuah perjalanan jauh yang antah berantah kemudian kita melihat ada pohon
kelapa di pinggir jalan, maka tak jauh dari jalan tersebut pasti terdapat
pemukiman warga. Ini yang menjadikan sebuah pembinaan sebelum berumah tangga
itu sangat berharga – menurut saya, karena apa yang dibina bukan hanya hidup
berumah tangga, melainkan membina untuk membangun sebuah peradaban yang saat
ini kita rasakan hasilnya.
Bergantinya
generasi, tak jarang merubah pula cara dan kebiasaan sebelum menikah. Tak juga
saya dengar tentang bale nyungcung yang disebutkan di atas, bahkan kedua orang
tua saya pun tak pernah menyebutkannya. Entah mereka pun tak mengalami, atau
memang belum menceritakan karena satu dan lain hal. Saya kembali mendengar
istilah tersebut dari guru saya yang tanggal pernikahannya hanya berbeda bulan
dengan pernikahan saya. Beliau salah satu penutur Bahasa Perancis aktif yang
juga tak melupakan asal usul dirinya yang berasal dari tanah sunda. Tak jarang
kedua Bahasa (sunda dan perancis) beliau tulis dalam caption untuk foto di
instagramnya. Misalnya ketika beliau telah melangsungkan pernikahan, foto
pernikahannya diberi caption “tos ti balé nyungcung”.
Tentang Bale
Nyungcung ini, ingin saya dokumentasikan berupa tulisannya di laman ini, dengan
semata-mata bahwa hal tersebut mungkin asing bagi telinga anak muda seperti
saya, tetapi hal tersebut merupakan sejarah yang perlu kita tahu dan kita
maknai bersama. Bahwa kehidupan yang terjadi sebelum kita memang dalam segi
akses kehidupan dan pendidikan tidak semudah saat ini, akan tetapi dari
peradaban jaman dulu lah melahirkan generasi kuat lahir batin yang dapat
mencetak generasi kita saat ini.
Akhirul kalam,
semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi yang membaca. Jika tidak
bermanfaat bagi pembaca, setidaknya ini bermanfaat bagi saya untuk menyimpan
hal-hal yang ingin saya catat. Terimakasih telah membaca. Senang sekali jika
ada kritik atau saran sehingga kita dapat membuka forum diskusi. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar