Selasa, 11 Juni 2019

Persiapan Pernikahan : ilmu (4/4) end


Kembali pada pernyataan Abah Ihsan tentang dalam islam belum ada (atau diwajibkan) bagi paslon pasutri untuk mengikuti bimbingan perkawinan. Ternyata, jaman dahulu ada loh binwin yang dilakukan oleh pasutri dan penyelenggaranya KUA. Bapak pemateri tersebutlah yang menceritakannya dalam saat materi yang beliau berikan.
Begini prosesnya: setelah terdaftar di KUA, paslon pasutri akan dibina selama dua bulan oleh penghulu mereka. Pasutri tersebut dibina di sebuah balai desa yang memiliki atap runcing (dalam basa sunda disebut nyungcung) yang kemudian sering kita dengar sebagai balé nyungcung. Sehingga ketika kumpul hari raya sering dilontarkan pertanyaan, “iraha ka balé nyungcung?” yang berarti sama dengan pertanyaan yang sering kita dengar saat ini, “kapan nikah?”.
Para pasutri tersebut diberi pembekalan tentang membina rumah tangga, tak jauh berbeda dengan bimbingan perkawinan yang dilakukan oleh KUA saat ini atau dengan seminar pra nikah yang marak digandrungi oleh para milenials. Tujuan utamanya ya pembekalan sebelum membina rumah tangga. Maka ketika jaman kakek-nenek kita dulu angka perceraian minim, tak sebanyak seperti sekarang ini.
Kembali pada pasutri yang di balé nyungcung tadi. Selain dibina, mereka ditugaskan membawa bibit pohon kelapa (bibit, atau benih ya? Cmiiw please), yang kita tahu buah kelapa memiliki segudang manfaat. Bukan untuk apa-apa atau menjadi sebuah persyaratan, bibit kelapa tersebut dibawa pulang kembali dan diminta untuk ditanam di depan rumah. Sehingga ketika saat ini kita melakukan sebuah perjalanan jauh yang antah berantah kemudian kita melihat ada pohon kelapa di pinggir jalan, maka tak jauh dari jalan tersebut pasti terdapat pemukiman warga. Ini yang menjadikan sebuah pembinaan sebelum berumah tangga itu sangat berharga – menurut saya, karena apa yang dibina bukan hanya hidup berumah tangga, melainkan membina untuk membangun sebuah peradaban yang saat ini kita rasakan hasilnya.
Bergantinya generasi, tak jarang merubah pula cara dan kebiasaan sebelum menikah. Tak juga saya dengar tentang bale nyungcung yang disebutkan di atas, bahkan kedua orang tua saya pun tak pernah menyebutkannya. Entah mereka pun tak mengalami, atau memang belum menceritakan karena satu dan lain hal. Saya kembali mendengar istilah tersebut dari guru saya yang tanggal pernikahannya hanya berbeda bulan dengan pernikahan saya. Beliau salah satu penutur Bahasa Perancis aktif yang juga tak melupakan asal usul dirinya yang berasal dari tanah sunda. Tak jarang kedua Bahasa (sunda dan perancis) beliau tulis dalam caption untuk foto di instagramnya. Misalnya ketika beliau telah melangsungkan pernikahan, foto pernikahannya diberi caption “tos ti balé nyungcung”.
Tentang Bale Nyungcung ini, ingin saya dokumentasikan berupa tulisannya di laman ini, dengan semata-mata bahwa hal tersebut mungkin asing bagi telinga anak muda seperti saya, tetapi hal tersebut merupakan sejarah yang perlu kita tahu dan kita maknai bersama. Bahwa kehidupan yang terjadi sebelum kita memang dalam segi akses kehidupan dan pendidikan tidak semudah saat ini, akan tetapi dari peradaban jaman dulu lah melahirkan generasi kuat lahir batin yang dapat mencetak generasi kita saat ini.
Akhirul kalam, semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi yang membaca. Jika tidak bermanfaat bagi pembaca, setidaknya ini bermanfaat bagi saya untuk menyimpan hal-hal yang ingin saya catat. Terimakasih telah membaca. Senang sekali jika ada kritik atau saran sehingga kita dapat membuka forum diskusi. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar