![]() |
| Tanganku, setelah menyentuh kepala Alfin untuk pertama kali. Tersisa gulungan rambutnya yg menempel di pergelangan tangan ini. Gemas |
Diawali dengan mengajukan surat cuti untuk awal bulan September. Hpl (hari perkiraan lahir) awal tgl 21, tapi di usia kehamilan 8 bulan hpl maju jadi tanggal 14, dan harus waspada kalo tiba-tiba lahiran di akhir bulan Agustus. Sejak itulah aku langsung mengemas barang-barang untuk hospital bag.
Akhir Agustus, aku dan suami mulai nginep di rumah mama. Segala keperluan langsung diboyong ke rumah mama. Dibantu sama suami, bapake, aake, aike dan fais (terimakasih fais!). Hari-hari cuti pun dimulai.
Hari Senin-Kamis 2-5 September dilalui dengan biasa aja. Aku masih ngerjain adm sekolah, koreksi soal untuk PTS, nonton drakor, do the chores, dan sebagainya. Tak lupa juga ikut kelas Yoga di hari Selasa dan check up di hari Rabu. Hasil Yoga dan Check up masih biasa aja. Masih dikasih vitamin penambah darah, kalsium, pelunak mulut rahim (yang akan dinaikan dosisnya kalo 10 hari kedepan belum jg lahiran) dan dijadwalkan untuk check up lg setiap 10 hari. Semua biasa aja.
Hal yang membuatku tercengang dari hasil check up terakhir adalah berat badan yg bertambah dua kilo dalam waktu 10 hari 🤦. Udah panik dan khawatir, gimana kalau bobot janinnya terlalu besar, gimana kalau bukan bobot janin, tapi malah bobot emaknya yg nambah 🤦. Akhirnya aku evaluasi, makan apa aja sepuluh hari yg lalu: ga bisa nolak kalo disodorin donat & roti bakar. Padahal kedua itulah yg mesti dikurangi (kurangi makan yg manis2). Akhirnya aku memutuskan untuk beli buah-buahan. Ada tukang buah jual pepaya, aku beli. Ada stock tomat, aku makan. Dan yang pengen banget kebeli adalah buah kurma. Sore di hari kamis belilah si buah kurma di toko oleh2 haji dan umroh. Disantap setelah adzan maghrib macam orang puasa sunnah. Sunnah rasul makan kurma itu jumlah nya ganjil, lebih dari 1. Orang makan tiga, aku juga makan tiga. Tiga Kali lipatnya.
Hal yang membuatku tercengang dari hasil check up terakhir adalah berat badan yg bertambah dua kilo dalam waktu 10 hari 🤦. Udah panik dan khawatir, gimana kalau bobot janinnya terlalu besar, gimana kalau bukan bobot janin, tapi malah bobot emaknya yg nambah 🤦. Akhirnya aku evaluasi, makan apa aja sepuluh hari yg lalu: ga bisa nolak kalo disodorin donat & roti bakar. Padahal kedua itulah yg mesti dikurangi (kurangi makan yg manis2). Akhirnya aku memutuskan untuk beli buah-buahan. Ada tukang buah jual pepaya, aku beli. Ada stock tomat, aku makan. Dan yang pengen banget kebeli adalah buah kurma. Sore di hari kamis belilah si buah kurma di toko oleh2 haji dan umroh. Disantap setelah adzan maghrib macam orang puasa sunnah. Sunnah rasul makan kurma itu jumlah nya ganjil, lebih dari 1. Orang makan tiga, aku juga makan tiga. Tiga Kali lipatnya.
Tengah malam tiba-tiba muncul kontraksi. Awalnya biasa aja, tapi dirasa kok makin sering. Sampai akhirnya aku beneran bangun, duduk merhatiin jam. Ngitung durasi, interval dan mengamati selama satu jam. Kontraksi mulai teratur tapi durasi kurang dari 20 detik. Mencoba tidur lagi jam 3 pagi, yang kemudian terbangun lagi tiap tiga puluh menit karena kontraksi terasa lagi. Karena hal ini bukanlah yang biasa akhirnya jam 6 pagi aku sudah berada di bidan.
Jumat jam 6 pagi
Setelah ku ceritakan semua yang terjadi, bidan langsung cek VT. Sudah pembukaan 1. Oooh belum ada tanda-tanda lahiran, menurutku. Karena menurut dokter Obgyn yang di teman bumil, "dari pembukaan 1 menuju pembukaan 2, dst terbilang lama dan tidak bisa diprediksi. Kalau sudah pembukaan 4, baru bisa diprediksi 6 jam kedepan akan lahiran."
Setelah ku ceritakan semua yang terjadi, bidan langsung cek VT. Sudah pembukaan 1. Oooh belum ada tanda-tanda lahiran, menurutku. Karena menurut dokter Obgyn yang di teman bumil, "dari pembukaan 1 menuju pembukaan 2, dst terbilang lama dan tidak bisa diprediksi. Kalau sudah pembukaan 4, baru bisa diprediksi 6 jam kedepan akan lahiran."
Setelah tahu kondisiku yang terganggu jam tidur di malam tadi, bidan menyarankan untuk tidur lagi aja 😆. Siap laksanakan bu bidan!
Di hari jumat itu, aku evaluasi dan mempertanyakan. Apakah memang sudah waktunya kontraksi di malam tadi? Ataukah karena induksi alami dari kebanyakan makan korma ? Wallahu Alam, antara takut kontraksi lagi malam hari, tapi diri ini ga kuat untuk ga makan korma. Akhirnya aku makan korma lagi. 7 biji.
Malam hari lagi, jam 1 malem (udah masuk hari sabtu berarti) kontraksi lagi. Lebih hebat. Sampai cirambay. Aku bertanya-tanya, mengapa ada rasa seperti ini ? Mempertanyakan pula kapan pagi hari tiba?
Ketika pagi tiba aku lgsg hubungi bidan. Lapor aja sih, kondisi sekarang sama kek kemarin. "Kontraksi sekitar 5 menit sekali, tp durasi kurang dari 1 menit. Belum ada tanda2 kelahiran seperti keluar darah campur lendir/ pecah ketuban" setelah ngetik semua itu lgsg tau jawabannya : ditunggu saja. Aku jg memutuskan untuk tidak pergi ke bidan karena takut VT lagi dan hasilnya : baru bukaan dua. Kan gemes. Tak lama kemudian, betul jawaban dari bu bidan : "ditunggu aja. Dinikmati proses gelombang cinta nya. Boleh sambil jalan-jalan"
Kaga ambil pusing, yang pasti saran dari bu bidan yang "jalan-jalan" itu ga aku ikuti. Kontraksi udah ga karuan, tapi setelah diamati masih kontraksi palsu.
Ku putuskan untuk tidur lagi, dan bangun sekitar jam 11 siang. Siang itu munculah flek. Langsung lapor bidan. Bidan pun bertanya, 'mulesnya gimana?' . 'masih palsu bu :('
Ku lirik suami masih ngerjain soal untuk PTS. Aku bisa sorak sorai dihadapan dia karena soal PTSku sudah beres dan sudah dikirim ke sekolah. Kemudian aku ngahuleng. Terus abis ini ngapain? Gada kerjaan lagi. Aku nganggur dong untuk nunggu lahiran (doyan kerja ya ternyata aku teh 😅) Mau do the chores, tapi ga puguh rasa karena kontraksi. Akhirnya karena gelisah gundah gulana, aku relaksasi hypnobirthing. Alhamdullillah manjur (baca: ketiduran).
Bangun saat adzan ashar, langsung ke kamar mandi dan wudhu. Setelah cek, ada lendir campur darah. Tanpa ba-bi-bu, tanpa kontak dulu bu bidan, aku langsung siap-siap untuk ke bidan. Tentunya mandi dan shalat ashar dulu. (Aku ga tahu apa masih boleh solat ashar ketika sudah keluar darah, tapi itu kan bukan haid. Yang pasti aku pengen menghadap Allah dulu, minta dimudahkan dan dilancarkan dengan apa yang telah terjadi dan tentang apapun yang akan terjadi nanti).
Nunggu suami beres ashar dan ngerjain PTSnya, sekitar jam 4 ku langsung berangkat ke bidan.
Nunggu suami beres ashar dan ngerjain PTSnya, sekitar jam 4 ku langsung berangkat ke bidan.
Sesampainya di bidan, aku langsung bilang, "gakuat bu, kontraksi udah lima menit sekali, tapi durasi (kontraksi) ga sampai semenit" Kemudian VT lagi.
"Bagus. Mulut rahim sudah lunak ya. Udah bukaan 6 ya teh. Udah mau lahiran. Kalau mau pulang dulu boleh bawa barang-barang (hospital bag) tapi dua jam lagi nanti kesini lagi"
Aku nolak untuk pulang dan pengen nunggu aja di bidan, biar suami yg pulang untuk bawa hospital bag. Sebelum pulang, suami ngurus administrasi dulu, kemudian aku masuk ruang bersalin dan dipasang infus. Ga sampai 10 menit, suami datang bawa hospital bag, barengan sama ai dan bapa. Kemudian disusul kedatangan mama. Setelah terpasang infus dan menelan alinamin 2 butir, barulah aku merasakan gelombang cinta yang durasinya semenit-dua menit itu. Sungguh aduhai sekali.
Aku nolak untuk pulang dan pengen nunggu aja di bidan, biar suami yg pulang untuk bawa hospital bag. Sebelum pulang, suami ngurus administrasi dulu, kemudian aku masuk ruang bersalin dan dipasang infus. Ga sampai 10 menit, suami datang bawa hospital bag, barengan sama ai dan bapa. Kemudian disusul kedatangan mama. Setelah terpasang infus dan menelan alinamin 2 butir, barulah aku merasakan gelombang cinta yang durasinya semenit-dua menit itu. Sungguh aduhai sekali.
Sambil meremas tangan suami, sambil ngasih afirmasi ke diri sendiri: "makin sakit makin deket ketemu bayik, tahan supaya ga teriak2, kuasai nafas. Nafas panjang, nafas, nafas" selama itu juga kerasa gerah banget, padahal udah mandi sebelumnya, badan, punggung, panggul dikipasi suami, sesekali minta minum.
Ketuban dipecah bidan. Bidan kaget karena warnanya hijau.
"Suka minum kopi, teh?"
"Engga bu" jawabku ditengah2 nahan kontraksi
"Jamu?"
"Engga"
"Pernah sakit?"
"Engga"
"Demam? Flu?"
"Pernah"
"Usia kehamilan berapa bulan?"
"Berapa ya? 6 bulan kalo ga salah" jawabku sambil lirik suami. Karena waktu itu, Kita berdua emang lagi sama-sama demam. Aku bertanya-tanya dalam hati, memang kenapa kalau air Ketuban warnanya hijau?
"Suka minum kopi, teh?"
"Engga bu" jawabku ditengah2 nahan kontraksi
"Jamu?"
"Engga"
"Pernah sakit?"
"Engga"
"Demam? Flu?"
"Pernah"
"Usia kehamilan berapa bulan?"
"Berapa ya? 6 bulan kalo ga salah" jawabku sambil lirik suami. Karena waktu itu, Kita berdua emang lagi sama-sama demam. Aku bertanya-tanya dalam hati, memang kenapa kalau air Ketuban warnanya hijau?
Satu jam berlalu, pembukaan naik jadi 8. Tambah ga puguh rasa. Naik pembukaan 9, mulai kontraksi plus ada rasa pengen poop. Pembukaan lengkap langsung boleh ngeden.
Semua yang terjadi ini merupakan hal pertama yang aku alami. Pertama kalinya jarum infus ada di tangan, pertama kalinya disuruh ngeden depan banyak orang (2 bidan, suami dan mama. Bapa dan Ai nunggu di luar). Iya pertama kalinya, sehingga akupun tak tahu cara ngeden itu gimana.
"Ngeden aja kaya mau poop"
"Nafasnya jangan dibuang, lgsg sambung ke perut"
"Jangan dari tenggorokan"
Setelah dicoba beberapa Kali, beberapa kali juga bidan ngecek detak jantung bayi, akhirnya diputuskan : "yang ini harus beneran lahir"
Dengan satu tarikan nafas panjang dan ngeden ekstra ditambah bidan yang neken perut, aku merasa ada yg keluar. Sesuatu yang besar disertai banyak cairan. Setelah dilihat, perut mulai rata dan ada bayi di antara selangkanganku.
Waktu menunjukkan 17.50. adzan maghrib masih terdengar dari luar, pun demikian dari tayangan di televisi.
"Yang, udah lahir yang" kata suami yang tangannya masih aku pegang.
"Alhamdullillah, alhamdullillah" cuma itu kata yang terucap dari kami. Mama menangis. Bidan meletakan bayi di atas badanku. Tak lama kemudian plasenta ikut keluar dari jalan lahir. Alhamdullillah sempurna. Karena selama ini yang ku khawatirkan juga tentang plasenta, aku takut letak plasenta menutupi jalan lahir (plasenta previa) atau plasenta nempel di rahim, atau plasentanya hancur yang menyebabkan pendarahan pasca melahirkan.
"Alhamdullillah, alhamdullillah" cuma itu kata yang terucap dari kami. Mama menangis. Bidan meletakan bayi di atas badanku. Tak lama kemudian plasenta ikut keluar dari jalan lahir. Alhamdullillah sempurna. Karena selama ini yang ku khawatirkan juga tentang plasenta, aku takut letak plasenta menutupi jalan lahir (plasenta previa) atau plasenta nempel di rahim, atau plasentanya hancur yang menyebabkan pendarahan pasca melahirkan.
Tapi alhamdullillah plasentaku aman, tali pusar yang seperti kabel telepon juga aman, yang ga aman adalah perenium. Akhirnya aku dan bayi langsung jadi tim paduan suara kala perenium dijahit.
Jahitan selesai, infus dilepas, bayi diurus. Bapa dan ai diperbolehkan masuk ruangan. Bapa menyalamiku, "selamat ya Inta, sudah menjadi ibu" akupun menjawab ucapannya "selamat juga sudah menjadi Aki". Disusul dengan ai yang ikut2an memberi selamat sambil mengguncang tanganku. Masih bekas infusan coy :(
Tak lama kemudian, bayi kembali dibawa oleh bidan, dengan penuh haru, suami mengadzani pada telinga kanan, dan iqomat pada telinga kiri.
Malam minggu itu, malam minggu pertama bagi keluarga kecil kami —aku, suami dan bayik— tidur bersama dalam satu ruangan. Kami bermalam di bidan. Pada Minggu pagi, setelah mandi dan sarapan kami diperbolehkan pulang, disambut dengan kedatangan umi dan Abah yang langsung diimport dari rangkas.
Sekian Alfin's birth story-nya. Kisah ini ditulis semata-mata hanya untuk diri ini bercerita, karena selama kontraksi palsu aku pun banyak baca cerita lahiran dari temen2ku, dari budes, hera, Sarah, lerian, yang menurutku kisah melahirkan mereka itu bisa menjadi acuan untuk diriku kala melahirkan. Terimakasih ya teman-teman!
Oiya, nama bayi ini : Alfin (anak laki Alief Sinta). Masih bagus ya dikasih nama Alfin, daripada namanya Kamerkaan Nuang Korma 😂

Tidak ada komentar:
Posting Komentar