Dari tiga karya terakhir Andrea hirata yg ku baca (Ayah, orang2 biasa & sirkus pohon) aku dapat merasakan rasa emosional yang kuat, rasa kasih sayang yang amat tulus ketika pakcik mengisahkan tentang kasih sayang seorang Ayah terhadap anaknya, tentang bakti anak kepada orangtua nya. Dan di ketiga novel itu, setiap sosok Ayah dikisahkan, tak kuasa aku membendung air mata ini. Ngena
1. Ketika inspektur polisi yang harus melepas putri sulungnya untuk melanjutkan sekolah, kemudian ketika ia mendapat kabar bahwa putrinya tak lulus, sebuah rasa yang berkecamuk dalam dada, bagaimana ia Lega karena Tak perlu jauh dari putrinya, pada saat yang sama ia juga harus menghibur atas kekecewaan putrinya yang gagal dalam ujian masuk sekolah tersebut. Kemudian diilustrasikanlah sebuah scene dimana sang inspektur polisi menjemput putrinya. Ngena
2. Juga seorang Ayah yang sudah Tak lagi muda, tergopoh-gopoh dari stadion dengan membawa dagangan berisi minuman ringan ketika mendapat kabar bahwa anaknya digelandang polisi. Tak sampai hati ia menemui anaknya di kantor polisi. Setelah selesai di BAP, sang putra melihat Ayahnya sedang berdiri di depan kantor polisi, menunggunya.
3. Tentang Sabari, seorang diri mengasuh anak lelakinya dan yaa ketika putra sulungnya itu diculik oleh mantan istrinya, ia menyelipkan sebuah surat yang diikat pada penyu dan sampailah surat tersebut oleh seseorang di Australia.
Juga penggambaran akan cinta, Pak cik menceritakan seluruhnya, tentang putus cinta, tentang menikah, tentang bercerai, percekcokan rumah tangga karena sang suami lebih suka nongki di warung kopi, dan lain sebagainya. Namun yang membekas dalam benak ku adalah penggambaran cinta pertama, rasa yang menggebu-gebu, rasa yang begitu kuat sehingga dapat mematikan segala rasa, termasuk mematikan akal sehat. Rasa yang membuat seseorang rela menunggu, menanti, melakukan apapun dan semua itu berujung pada satu sikap yang selama ini dituntut oleh semua pasangan di muka bumi: kesetiaan.
Pak cik sangat sempurna menceritakan tentang kesetiaan, kesetiaan ikal pada A Ling yang membuat nya harus membuat sebuah perahu untuk menyebrangi pulau dalam rangka menjemput A Ling, kesetiaan Arai pada seorang gadis, yang diperankan oleh Maury Ayunda dalam filmnya, kesetiaan Sabari pada Marleni, Hobri pada Adinda, Tara pada Tegar, menurutku ada nuansa magic dalam diri mereka sehingga mereka rela menunggu, menanti dan melakukan apapun demi cintanya. Mungkin itu yang dinamakan the power of love

Tidak ada komentar:
Posting Komentar