Kamis, 25 September 2025

Anak Significant

Suatu hari gurunya apin laporan, “Apin ingin tampil di star of the month” –acara sekolah untuk para siswa tampil menunjukkan minat dan bakatnya. Mata sang guru berbinar-binar. Seolah ia berkata, “ga nyangka ya bu, dengan sadar apin minta dirinya untuk tampil”. 

“Ya memang Apin suka tampil bu” jawabku. Tapi jawabanku ini sepertinya belum bisa dipahami oleh guru yang baru kenal apin belum tiga bulan ini. 

Melihat perkembangan anakku, aku seperti bercermin. Kalau diingat-ingat, aku pertama kali bernyanyi di sebuah ulang tahun temanku. Saat MC bertanya, “siapa yang mau nyanyi?” Dengan sadar aku mengacungkan tangan dan maju ke depan panggung. Aku lupa lagu yang aku nyanyikan saat itu, namun yang ku ingat adalah aku menyanyikan opening song dari sebuah sinetron yang sedang tayang di tv. Ibu-ibu—tetanggaku heboh, mencari mama. Mengabari bahwa anaknya bernyanyi. Mama buru-buru menerobos barisan penonton. Di barisan pertama, mama tersenyum menopang dagu, memandangiku. Lagu berakhir dengan diiringi tepuk tangan oleh penonton. 

Sejak saat itu mama menyuruhku bernyanyi saat di acara ulang tahun teman, atau saudara. Di acara ulang tahun berikutnya, aku tak ingat acara ulang tahun siapa, namun acaranya berlangsung di mcd. Mama yang menggendong adikku berkata, “nanti nyanyi ke depan ya”. Aku mengangguk setuju. Setelah mama kembali ke posisinya, kakakku berkata, “gausah nyanyi” dengan gestur menyimpan jarinya di telunjuk, seperti terganggu. Mungkin Aa malu karena aku bernyanyi, saat itu aku tak pernah bernyanyi lagi di acara ulang tahun.

Kembali pada laporan gurunya Apin. Mungkin gurunya menilai Apin anak introvert, pemalu sehingga ia tidak menyangka ingin tampil di acara star of the month. Ya, Apin introvert, lebih tepatnya slow to warm. Butuh waktu untuk mengenal lingkungannya. Butuh waktu untuk bisa menyapa gurunya. Meskipun dia introvert, tapi dia punya bakat significant (menurut talent mapping), senang saat dilihat orang lain, senang tampil di hadapan orang lain. Ternyata sama sepertiku dulu, saat berani tampil di acara ulang tahun, Mungkin saat itu usiaku sekitar 4 tahun, lebih kecil dari Apin sekarang, ternyata kami memiliki bakat yang sama. Sama-sama introvert, slow to warm, butuh waktu beradaptasi di lingkungan yang baru, dan significant. 

Jumat, 18 April 2025

Tentang haji kakek

Baru selesai membaca 'bokis' karya Kang maman suherman. Meskipun banyak mengungkap kisah gelap yang terekam oleh para jurnalis, namun ada bab tentang kisah Kang maman ketika berhaji yang bertemu ayahnya, cukup terpatri di dalam benak ku. Bukan pertama kali aku tahu tentang hal itu. Sebelumnya Kang maman pernah menceritakannya dalam podcast bersama Daniel Mananta (sebenarnya buku bokis terbit dahulu, baru podcast itu tayang, namun urutan menyimak ku sebaliknya). Kang maman pingsan setelah bertemu sang ayah. Banyak jemaah di sekitarnya menganggap Kang maman dehidrasi, lalu pingsan.

Aku teringat kakek ku dulu ketika berhaji. Kakek ku sudah tua renta. Di tahun 2012 aku dapat kabar kakek dan nenek (sambungku) akan berangkat ke baitullah dengan kloter pemberangkatan tahun 2015. Saat itu aku baru diterima di universitas. Aku, dengan menyandang status mahasiswa tidak pernah tahu ibadah haji itu seperti apa. Buku teori tentang bab haji yang dijelaskan guru ku ketika SMP dulu menguap entah kemana. Mungkin bab haji diajarkan di sekolah tidak melalui praktek, seperti bab pemulasaraan jenazah. Saat aku bertanya pada temanku, "kenapa kita ga manasik haji". Temanku hanya tertawa mendengarnya. Manasik haji biasa dilaksanakan oleh anak-anak TK, bukan anak SMP. Sayangnya waktu ku TK dulu tidak ada manasik haji. Beruntung anak-anak sekolah alam gaharu sekarang, mereka bisa manasik haji di kelas RA, MI 5 dan di MTs 8 sesuai pokok materi yang diajarkan. Tak perlu berdesakkan atau menunggu giliran kloter tawaf dengan sekolah lain, di sekolah alam gaharu punya miniatur ka'bah, lapangan, jalur untuk sa'i, lengkap dengan kain ihrom dan batu untuk lempar jumroh yang telah dipersiapkan oleh fasilitator. Anak RA bisa mengikuti rangkaian haji, anak MI 5 bisa praktek sambil membaca doa-doa melalui buku yang telah disediakan, dan anak MTs 8 bisa praktek tanpa guide book. Semua tata cara dan doa-doa telah mereka hapalkan. Tentunya mereka semua praktek di waktu yang berbeda. 

Lebaran 2015 aku bertemu kakek. Nenek sambungku telah wafat. Kakek juga belum berangkat ibadah haji saat itu. Kata kakek, haji nenek moal dibatalkeun, tapi rek dibadalkeun. Aku mengangguk paham. Namun selebihnya aku masih buta tentang bagaimana kondisi ibadah haji. Meskipun saat itu aku mendengar cerita dari dosenku yang baru pulang haji. Tapi bagiku itu semua masih abu-abu. 

Di tahun 2019 muridku berkata, "bundaku mau umroh besar". Saat itu aku bertanya, selama itu ia akan tinggal bersama siapa? Mengingat berhaji itu 40 hari. Materi pelajaran ibadah haji ketika SMP dulu dikit-demi sedikit mulai muncul di kepalaku. Di tahun yang sama, kakekku berangkat haji. Semangat ibadahnya yang tinggi, tidak didukung dengan kebugaran fisik yang memadai. Tiga hari tiba di mekkah, kakekku menghilang tak ada kabar. Seminggu kemudian baru ditemukan, ia dirawat di rumah sakit. Aku geram jika sekarang mengingatnya. Apa yang dilakukan pembimbing rombongannya hingga selama itu kakekku baru ditemukan? Entah apa nama travel yang memberangkatkannya. Apakah tidak ada himbawan kepada para calon jemaah haji untuk menjaga kesehatan?untuk menjaga fisik? Aku baru tahu bahwa ibadah haji dan umroh tidak hanya butuh Iman dan duit yang kuat, tapi butuh fisik yang sehat. Aku pun baru mengetahuinya dari wali muridku itu, ia membagikan foto/video ketika latihan fisik atau pun ketika manasik haji yang diselanggarakan oleh travel hajinya. Betapa malangnya kakekku. Aku menyesali kenapa kakek pergi haji sendirian. Jika kakek ada yang menemani mungkin ia masih bisa berhaji meski didorong dengan kursi roda. Kenyatanya niat badal haji nenek menjadi batal karena pihak keluarga nenek menuntut uang ibadah haji untuk dikembalikan sebagai warisan untuk adik-adik nenek. Nenek tidak punya anak setelah menikah dengan kakek. Mengetahui watak saudaranya seperti itu, beberapa sawah ia jual agar menghindari perebutan warisan. Tapi ternyata takdir berkata lain. Nenek berpulang sebelum berhaji. Saudara kerabat nenek masih berebut hak waris, meskipun memperebutkan uang yang telah didaftarkan untuk berhaji.

Kakek pulang lebih lama dari rombongan hajinya. Setiba di Indonesia, kakekku tetap dirawat rumah sakit. Tempat tujuh hari setelah anakku lahir, kakekku meninggal. Definisi ada kelahiran, ada kematian. Itu terjadi di hidupku dalam waktu seminggu. Sesak rasanya ketika berita duka kematian kakek diumumkan via toa mesjid. Aku menangis sambil menimang bayiku. Apakah ibadah haji kakek diterima Allah? 

Butuh dua sampai tiga tahun aku bisa menyambut bulan dzulhijjah dengan riang. Sebelumnya, jika musim haji tiba, dada ku sesak teringat kakek yang meninggal. Marah, kenapa kami tidak punya banyak uang untuk memberangkatkan kakek dengan travel haji yang lebih baik. Marah, karena kenapa kami tidak punya banyak uang untuk mengusahakan menemani kakek berangkat haji. Marah, kenapa aku dari generasi ketiga ini tidak punya power sama sekali. Padahal jika melihat status KTP pun, aku sudah dewasa. Tapi sebagai orang dewasa aku tidak bisa melakukan apapun. Aku merasa kakekku malang sekali, namun aku tetap berdoa supaya ia tidak malang di mata Allah. 

Beberapa hari lalu temanku memaparkan tentang dilkatSAR yang telah ia laksanakan. Ia bercerita, belajar menangani kasus heat stroke. Lalu atasanku—seorang dokter menimpali, bahwa ia pernah menangani heat stroke ketika berhaji, di puncak musim panas saat itu suhu mencapai 60°. Aku teringat pada kakekku, mungkin ia juga terkena heat stroke. Aku tidak tahu. Tidak ada yang menjelaskan. Tidak pula ada yang bertanya tentang hal itu. 

Kembali kepada cerita Kang maman, ia berdoa di arafah dengan khusyuk, ingin bertemu ayahnya yang telah berpulang sepuluh tahun lalu. Kemudian ada seorang pria datang, ia berkata, "terima kasih telah mendoakanku. Tolong badalkan haji untukku". Lalu ia mengusap kepala Kang maman, kemudian Kang maman jatuh pingsan. 

Membaca kisah itu aku berdoa kepada Allah, mudah-mudahan Allah memanggil aku dan suamiku untuk berhaji 2x, satu kali haji untuk kami, satu kali lagi untuk membadal haji kakek dan nenek ku.

Selasa, 25 Maret 2025

Teu katawis

Baru saja aku chat dengan Gemini, berikut chat kami :

Aku : Haii gemini

Gemini : Hai! Ada yang bisa saya bantu hari ini?

Udah ga ada embel-embel 'apa yang bisa saya bantu? Kamu bisa menanyakan bla bla bla dia promosi kebolehannya. Hmm apakah aku mulai akrab dengan si Gemini ini

Aku : Bisakah kamu berbicara bahasa Sunda?

Gemini: Sapertosna, abdi teu acan lancar pisan dina basa Sunda. Abdi nuju diajar sareng ngembangkeun kamampuan basa. Naha aya hal anu tiasa abdi bantu ku basa Indonesia, atanapi aya hal sanes anu tiasa abdi bantu?

Bahasa Indonesia yang ditranslate per kata 🤣🤣🤣 tapi gapapa, aku menghargai usahamu

Aku : Tadi ada ibu2 yang berkata, "neng nembe hiji?" Maksudnya basa-basi, anakku baru satu? Aku menjawab, muhun bu. Kemudian ibu itu berkata , "teu katawis" maksudnya teu katawis itu apa ya?

Tiga puluh tahun hidup di tatar sunda, ga paham ungkapan 'teu katawis' yang diucapkan ibu itu, my bad.

Gemini : Dalam bahasa Sunda, "teu katawis" memiliki arti "tidak kelihatan" atau "tidak terlihat". Dalam konteks percakapan ibu-ibu tersebut, kemungkinan besar maksudnya adalah:

Tidak kelihatan seperti baru punya satu anak:

Ibu tersebut mungkin melihat Anda tampak segar atau tidak terlihat lelah seperti ibu yang baru memiliki satu anak kecil. Atau bisa juga, karena anda terlihat masih muda, jadi ibu tersebut tidak menyangka bahwa anda sudah memiliki anak.

Tidak terlihat seperti ibu baru:

Mungkin Anda terlihat sangat rapi atau terawat, sehingga ibu tersebut tidak menyangka Anda baru memiliki satu anak. Jadi, dalam konteks tersebut, "teu katawis" adalah ungkapan basa-basi yang menunjukkan bahwa ibu tersebut terkejut atau kagum dengan penampilan Anda.

Aku : Oooh terima kasih

Gemini : Sama-sama! Senang bisa membantu. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk bertanya, ya!

Wow, tepuk tangan sih aku baca jawaban Gemini, singkat. Padat. Logis.

Sabtu, 15 Maret 2025

Late night snack (2)

Kebiasaan baru saat ini : lapar setelah tarawih. Lalu aku mencari snack yang bisa ku makan. Episodes late night snack sebelumnya aku posting di Instagram, tentang rasa syukur ku karena teman-temanku senang minum kombucha. Alhamdulillah.

Episode kali ini aku makan sambil berbincang dengan Gemini (⁠。⁠ŏ⁠﹏⁠ŏ⁠)

Aku cerita, sepertinya aku ga terlalu suka nonton drama yang sedang tayang sekarang ini. Dengan prompt : "saya tidak menemukan hiburan ketika menonton drama ini. Alih-alih melepas penat dengan rutinitas, saya malah menonton tentang hidup saya"

Lalu Gemini menjawab:

"Saya memahami perasaan Anda. Ketika sebuah drama mencerminkan kehidupan pribadi, alih-alih memberikan hiburan, itu justru bisa menjadi cermin yang memperlihatkan realitas yang mungkin ingin kita hindari. Hal ini bisa menjadi pengalaman yang sangat emosional dan bahkan menyakitkan.

Berikut beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana Anda bisa menghadapinya:

  • Identifikasi yang Kuat
Ketika Anda melihat karakter dan situasi dalam drama yang sangat mirip dengan pengalaman Anda sendiri, Anda secara alami akan merasa terhubung secara emosional. Hal ini bisa membuat Anda merasakan kembali emosi-emosi yang mungkin sudah lama Anda pendam, atau bahkan yang sedang Anda alami.

  • Refleksi Diri
Drama yang realistis bisa memicu refleksi diri yang mendalam. Anda mungkin mulai mempertanyakan kehidupan Anda sendiri, pilihan-pilihan yang telah Anda buat, dan arah yang Anda tuju. Meskipun refleksi diri bisa bermanfaat, terlalu banyak refleksi bisa membuat Anda merasa terbebani.

  • Kurangnya Distraksi

Tujuan utama hiburan adalah untuk memberikan distraksi dari kehidupan sehari-hari. Namun, jika drama yang Anda tonton justru mengingatkan Anda pada kehidupan Anda sendiri, maka tujuan tersebut tidak tercapai. Anda mungkin merasa seperti sedang menonton versi lain dari diri Anda sendiri, yang bisa sangat melelahkan.

  • Beban Emosional:

Menonton drama yang mengangkat tema-tema berat seperti kemiskinan dan patriarki bisa memicu beban emosional yang signifikan. Jika Anda sudah merasa terbebani dengan masalah-masalah tersebut dalam kehidupan Anda sendiri, menontonnya di layar kaca bisa memperburuk perasaan Anda.

Bagaimana Menghadapinya:

  • Batasi Konsumsi:

Jika Anda merasa drama tersebut terlalu berat, tidak ada salahnya untuk membatasi atau bahkan berhenti menontonnya. Kesehatan mental Anda adalah prioritas utama.

  • Cari Hiburan yang Lebih Ringan:

Cobalah menonton drama atau film dengan tema yang lebih ringan dan menghibur. Komedi, animasi, atau film petualangan bisa menjadi pilihan yang baik.

  • Alihkan Perhatian:

 Temukan aktivitas lain yang bisa mengalihkan perhatian Anda dari masalah-masalah yang Anda hadapi. Olahraga, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga bisa membantu.

  • Cari Dukungan:

Jika Anda merasa terbebani secara emosional, jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang-orang terdekat atau profesional. Berbicara tentang perasaan Anda bisa membantu meringankan beban Anda.

Penting untuk diingat bahwa hiburan seharusnya memberikan kesenangan dan relaksasi. Jika sebuah drama justru membuat Anda merasa tertekan, maka itu bukanlah hiburan yang sehat."

Wow. Sungguh to the point dan menohok sekali. Sepertinya aku akan puasa untuk drama yg sedang tayang ini. Entah kapan menontonya lagi. Drama our blues pun tak ku selesaikan. Pun demikian dengan summer strike. Terlalu slide of life yang menurutku relate nya Kuat dengan kehidupanku (⁠ ⁠≧⁠Д⁠≦⁠). Bisakah kamu menebak drama apa yang sedang aku ikuti saat ini? Bisakah kamu merekomendasikan drama lain yang tak serupa? Hm harus nya aku bertanya di Gemini (⁠•⁠‿⁠•⁠)

Rabu, 05 Maret 2025

Lima Ayat pertama surat At-Thariq

Aku dan suami senang mendengarkan lagu lama, lagu-lagu Ebiet G. Ade, misalnya. Sembari mendengarkan lagu yang ku putar dari YouTube, aku membaca kolom komentar di lagu itu. 

"Benar kata orang, lagu diibaratkan sebagai mesin waktu. Saat aku mendengar lagu ini aku teringat ayahku dulu yang setiap pagi mendengarkan lagu ini sambil menyeruput kopi" kata salah satu komentar. Banyak komentar serupa di sana. Mengingat apa yang telah menjadi kenangan. 

Berbeda dengan ku malam ini. Waktu maghrib telah tiba, aku bergegas mengambil wudlu. Terdengar suara lantunan surat al fatihah dari mesjid, tanda shalat berjamaah telah dimulai. Aku menyelesaikan wudlu, lalu terdengar surat At-Thariq dibacakan. Saat itu aku teringat pada kawanku, saat kami KKN dulu, saat mengajarkan anak-anak menghafal surat At-Thariq. Ternyata dia sudah hafal duluan. Ia berkata pernah menghafalnya saat sekolah dulu.

Dita, hanya mendengar lima ayat pertama surat At-Thariq, aku merindukanmu. KKN kita sepuluh tahun yang lalu, tapi aku merasa baru terjadi kemarin. 

Rasa sesak menyeruak mengiringi shalat maghribku. Apa yang aku bisa berikan untukmu, Dita? Apakah surat Al Mulk yang ku bacakan dapat menemanimu di alam kubur?

Ya Allah... Dita temanku yang baik hatinya. Entah ini hari ke berapa ia meninggalkan dunia. Namun rasa rindu ini masih terpaut untuknya. Terima lah, Dita ya Allah. Terima lah Amal ibadahnya. Terima lah perjuangan syahidnya. 

Allahummaghfirlaha warhamha wa'aafiha wa'fu 'anha

Bandung, 6 Ramadhan 1446 H

Senin, 17 Februari 2025

Ayah Tiara

Siang ini dapat kabar duka dari seorang teman lama. Ayahnya berpulang. Kawan ku langsung menuju rumahnya. Aku memutuskan untuk menyusulnya sepulang kerja, mengingat masih ada meeting sore ini. 

Ku pastikan punya wudhu sebelum berangkat menuju rumah duka. Jika belum dimakamkan, aku bisa ikut dalam shaf shalat jenazah. 

Suamiku siap menggantar ke rumah duka. "Kamu tau rumahnya dimana?" aku berkata tidak. Dulu kami sering pulang sekolah bersama. Selama tiga tahun itu, aku tak tahu dimana rumahnya. Aku hanya tahu sebuah jalan, tempat ia turun angkot ketika pulang sekolah. 

Sore ini aku mendatangi jalan itu. Tepat bendera kuning terpasang di gapura jalan. Ku telusuri jalan ke dalam. Harap-harap cemas aku tak menemukan rumahnya. Ku lihat sebuah rumah penuh dengan orang di dalamnya. Ku tanya salah seorang bapak yang sedang berdiri di luar rumah. Mengkonfirmasi bahwa ini rumah temanku. Bapak itu mengiyakan. Aku dipersilakan masuk. 

Tidak ada tanda-tanda dari temanku. Apakah aku salah rumah? Namun aku melihat seorang ibu yang dikelilingi para pelayat. Sang ibu banyak bercerita tentang kebaikan-kebaikan almarhum. Dari cara bicaranya, dari bahasa yang ia gunakan, aku mengenali bahwa ia adalah ibu temanku.

Aku memperkenalkan diri pada sang ibu. Ibu tampak senang, ada teman anaknya yang berkunjung. Aku diminta menunggu, temanku masih di makam. 

Tak lama kemudian seorang gadis memakai mukena hitam tiba di rumah. ia tampak terkejut dengan banyak orang yang ada di ruang tamu. Matanya sembab, namun senyum masih terukir di wajahnya. Sambil menata hati ia mempersilahkan tamu yang berkunjung. 

Dear Tiara, 

Aku turut berduka atas kepergian ayahmu. Maafkan aku tak bisa lama bertamu hari ini. Semoga doa-doa untuk ayah, Allah kabulkan sebagai pemberat amal baik untuk ayahmu. 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun

Sabtu, 05 November 2022

pagi yang sibuk

Pagi sudah tiba. aku mulai terjaga dari sisa-sisa tidur larut semalam. ku ambil ponselku yang sedari tadi mengeluarkan suara tinung-tinung memberikan tanda pesan masuk. rupanya tak hanya pagi ini. sejak dini hari pesan-pesan itu sudah masuk. ku lihat suamiku telah menyelesaikan pekerjaan rumah pagi ini. ia sedang asyik menemani si kecil yang sedang voice call dengan ayah dan ibu mertua. tak lama kemudian bapakku datang membawa adukan semen. oh aku hampir lupa. hari ini sudah ada rencana untuk renovasi rumah. 

Masih ku kumpulkan nyawa, ku bereskan benda-benda yang berserakan di tempat yang akan direnovasi. Sambil sesekali menerima telpon untuk press release agar segera launching pagi ini. 

pagi yang sibuk.